Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Wanita, Persalinan

Perdarahan Pascamelahirkan

Salah satu penyebab utama kematian ibu selama persalinan adalah perdarahan pascamelahirkan, yang terjadi selama beberapa minggu setelah melahirkan. Perdarahan ini bisa normal atau tidak normal.

Pada kondisi normal, darah yang keluar dari vagina setelah melahirkan disebut lokia, atau darah nifas, karena jaringan rahim yang terbentuk selama kehamilan runtuh.

Perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal dapat terjadi pada beberapa wanita selain perdarahan lokia normal. Medis menyebut penyakit ini perdarahan postpartum.

Wanita yang mengalami perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal harus segera ditangani karena dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian.

Penyebab Perdarahan Pascamelahirkan

Selama proses persalinan, otot rahim secara alami akan berkontraksi untuk mendorong plasenta keluar dari rahim. Setelah plasenta keluar, kontraksi pada rahim berusaha mencegah perdarahan dengan menekan pembuluh darah di dinding rahim di mana plasenta sebelumnya melekat.

Perdarahan normal berkurang secara bertahap dalam beberapa minggu setelah melahirkan, tetapi perdarahan yang tidak normal dapat berlanjut dan berlebihan.

Perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal terbagi menjadi dua kategori: perdarahan primer dan sekunder. Berikut adalah penjelasannya:

Perdarahan pascamelahirkan primer

Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, ibu mengalami perdarahan pascamelahirkan pertama. Perdarahan ini biasanya terjadi karena otot rahim yang lemas (atonia uteri), tetapi juga bisa karena retensi plasenta, luka robek pada rahim, inversio uteri, leher rahim, atau vagina, serta masalah pembekuan darah.

Perdarahan pascamelahirkan sekunder

Kondisi perdarahan pascamelahirkan sekunder terjadi setelah dua puluh empat jam hingga enam minggu setelah persalinan, yang agak berbeda dengan perdarahan primer. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh endometritis, yang merupakan penyebab kematian tersering pada ibu melahirkan.

Perdarahan pascamelahirkan sekunder juga dapat disebabkan oleh endometritis dan retensi plasenta dan kantong air ketuban yang masih tersisa di dalam rahim. Ini karena plasenta atau kantong air ketuban yang masih tersisa dapat mencegah rahim berkontraksi secara normal untuk mencegah perdarahan.

Wanita berisiko mengalami perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal karena beberapa alasan, yaitu:

  • Riwayat perdarahan kehamilan sebelumnya
  • Berlebihan berat badan
  • Saat melahirkan, berusia lebih dari empat puluh tahun
  • Melahirkan dua anak sekaligus
  • Adanya plasenta previa
  • Preeklamsia nyeri
  • Mengalami anemia selama kehamilan
  • Menjalani persalinan melalui prosedur caesar
  • Persalinan melalui induksi
  • Melakukan persalinan selama lebih dari dua belas jam
  • melahirkan bayi berbobot lebih dari empat kilogram

Gejala Perdarahan Pascamelahirkan

Keluarnya darah lokia berwarna merah terang yang berubah menjadi merah muda dan cokelat beberapa hari setelah melahirkan adalah tanda perdarahan pascamelahirkan yang normal. Perdarahan biasanya akan berhenti secara bertahap dalam waktu tiga hingga enam minggu.

Wanita yang menjalani persalinan normal memiliki darah keluar lebih dari 500 mililiter atau 1.000 mililiter, sehingga perdarahan pascamelahirkan disebut abnormal.

Perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal biasanya disertai dengan keluarnya bekuan darah berukuran lebih besar dari bola golf. Wanita yang mengalami perdarahan ini juga dapat mengalami gejala-gejala berikut:

  • Pusing, hampir pingsan
  • Melemah
  • Jantung berdebar kencang
  • Breathlessness
  • Berkeringat banyak
  • Gelisah kebingungan
  • Demam
  • Sakit di perut
  • Darah memiliki bau yang menyengat
  • Penyebab nyeri panggul
  • Ketidaknyamanan saat buang air kecil

Seseorang dapat mengalami syok hipovolemik yang berbahaya, jadi waspadai gejala ini jika disertai dengan penurunan tekanan darah.

Saatnya ke dokter

Jika perdarahan cukup parah, ditandai dengan pembalut penuh kurang dari satu jam, atau tidak mereda setelah beberapa hari, hubungi dokter.

Selain itu, gejala berikut harus diperiksa:

  • Tanda-tanda infeksi termasuk keluarnya cairan berbau dari vagina atau luka operasi, menggigil, dan demam dengan suhu di atas 38 derajat Celcius
  • Pada minggu kedua, darah keluar berwarna merah cerah dan kental
  • Rasa lembut di salah satu sisi perut
  • Memiliki rasa sakit atau ingin pingsan
  • Detak jantung yang cepat dan tidak teratur
  • Gumpalan darah yang keluar dalam jumlah yang sangat besar atau banyak

Jika darah keluar dalam jumlah yang berlebihan dan menyebabkan gejala syok, segera cari bantuan medis.

  • Sakit kepala kronis
  • Tubuh menjadi lemas
  • Jantung berdebar adalah gejala palpitasi
  • Napas sesak
  • Berkeringat
  • Stres
  • Bingung atau tidak mengerti

Diagnosis Perdarahan Pascamelahirkan

Untuk mendiagnosis perdarahan pascamelahirkan, dokter kandungan biasanya melakukan pemeriksaan fisik.

Selama pemeriksaan fisik, jika jalan lahir pasien masih terbuka, dokter dapat memasukkan kepalan tangannya ke dalam rahim untuk merasakan kekuatan ototnya dan mengetahui apakah ada sisa plasenta atau robekan di rahim.

Jika pemeriksaan fisik tidak cukup untuk menentukan penyebab perdarahan pascamelahirkan, pemeriksaan penunjang seperti ultrasound panggul dapat dilakukan untuk mengidentifikasi sumber perdarahan.

Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan masalah pembekuan darah dan untuk menghitung jumlah darah yang hilang untuk kebutuhan transfusi darah.

Pengobatan Perdarahan Pascamelahirkan

Pertama-tama doketr akan menangani perdarahan pascamelahirkan untuk menyelamatkan nyawa pasien, terutama jika pasien mengalami syok hipovolemik, yang dapat menghentikan fungsi organ tubuh dengan cepat.

Pemberian cairan infus atau transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang. Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan berusaha mengendalikan perdarahan sesuai dengan penyebabnya.

Dokter akan menangani perdarahan setelah melahirkan dengan cara-cara berikut:

  • Memijat rahim
    Jika perdarahan disebabkan oleh kelemahan otot rahim, dokter akan memijat rahim pasien. Mereka juga dapat memberikan obat oksitosin atau methylergometrine untuk memicu kontraksi rahim, yang akan menghentikan perdarahan. Obat ini dapat diberikan melalui infus, dubur, atau langsung ke otot.
  • Menekan pembuluh darah dengan balon khusus
    Dokter dapat memasukkan kasa atau balon ke dalam rahim jika perdarahan disebabkan oleh luka robekan. Ini dilakukan untuk menekan pembuluh darah di tempat perdarahan, mencegah darah keluar.
  • Mengeluarkan jaringan sisa plasenta dengan tindakan kuret
    Jaringan plasenta yang tersisa di dalam rahim dapat dikeluarkan oleh dokter melalui prosedur kuret. yang dikenal sebagai retensi plasenta, jika terjadi perdarahan.
  • Meresepkan antibiotik
    Untuk menangani perdarahan pascamelahirkan yang disebabkan oleh infeksi, antibiotik akan diberikan.

Dokter dapat melakukan operasi jika perdarahan belum berhenti. Dalam beberapa kasus, operasi embolisasi atau penyumbatan pembuluh darah dapat dilakukan untuk menghentikan perdarahan. Jika diperlukan, mungkin disarankan untuk melakukan pengangkatan rahim atau histerektomi, tetapi operasi ini jarang dilakukan.

Pasien harus dirawat di rumah sakit untuk diawasi sepenuhnya hingga kondisinya stabil dan mungkin dirawat di ruang ICU jika diperlukan.

Pengukuran seperti denyut nadi, tekanan darah, laju pernapasan, suhu badan, jumlah urine yang keluar, dan hitung darah lengkap dilakukan secara berkala selama dokter berusaha menghentikan perdarahan, bukan hanya setelah perdarahan berhenti.

Komplikasi Perdarahan Pascamelahirkan

Setelah melahirkan, perdarahan dapat menyebabkan beberapa masalah serius, seperti:

  • Syok darah hipovolemik
  • penggumpalan darah yang tersebar di seluruh tubuh yang dikenal sebagai DIC
  • Gagal ginjal kronis
  • sindrom kesulitan pernapasan akut
  • Gagal berfungsinya beberapa organ tubuh, mungkin akibat syok atau DIC
  • Kematian

Pencegahan Perdarahan Pascamelahirkan

Perlu diingat bahwa perdarahan setelah melahirkan bisa bersifat normal, tetapi juga bisa abnormal. Ini karena banyak hal yang dapat menyebabkan perdarahan abnormal, jadi sulit untuk mencegah sepenuhnya terjadi.

Salah satu langkah terbaik yang dapat Anda ambil adalah melakukan pemeriksaan kandungan secara teratur dengan dokter kandungan Anda. Dengan melakukan pemeriksaan ini, dokter dapat mengetahui apakah Anda termasuk dalam kelompok orang yang berisiko mengalami perdarahan abnormal, dan dokter dapat menyediakan perawatan yang diperlukan sebelum, saat, dan setelah persalinan.