Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kehamilan, Kesehatan Wanita

Solusio Plasenta

Komplikasi kehamilan yang dikenal sebagai solusi plasenta terjadi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum persalinan, yang dapat menghambat atau mengurangi pasokan nutrisi dan oksigen bayi.

Lepasnya plasenta atau ari-ari sebelum waktunya disebut solusi plasenta atau abruptio plasenta.Plasenta melekatkan dirinya ke dinding rahim dan terhubung ke bayi melalui tali pusat.

Plasenta keluar dari rahim sendiri setelah bayi lahir dan menyalurkan darah yang berisi nutrisi dan oksigen ke bayi.

Solusio plasenta adalah kondisi berbahaya yang menghambat pasokan nutrisi dan oksigen bayi dan juga dapat menyebabkan perdarahan berat pada ibu.

Lepasan plasenta biasanya terjadi secara tiba-tiba. Ini biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau beberapa minggu menjelang persalinan.

Penyebab Solusio Plasenta

Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan ibu hamil mengalami solusio plasenta, tetapi penyebab pastinya belum diketahui.

  • Hamil pada usia 40 tahun atau lebih
  • Memakai narkoba atau merokok saat hamil
  • memiliki riwayat solusio plasenta
  • Mengalami eklamsia atau preeklamsia
  • Hamil dan mengalami sakit perut
  • Mengalami ketuban pecah pada usia dini
  • Mengandung bayi kembar dua
  • Menderita polihidramnion

Gejala Solusio Plasenta

Perdarahan saat hamil adalah gejala utama yang menandakan abruptio plasenta, yang sering terjadi selama trimester ketiga kehamilan. Namun, perdarahan dari vagina saat hamil tidak selalu menandakan solusio plasenta.

Perlu diingat bahwa banyak atau sedikit perdarahan tidak secara instan menunjukkan tingkat keparahan pelepasan plasenta. Terkadang, darah terperangkap di dalam rahim sehingga tidak keluar atau tidak ada perdarahan. Karena itu, penderita tidak menyadari bahwa dia mengalami solusio plasenta.

Penderita tidak hanya akan mengalami perdarahan, tetapi juga akan mengalami gejala terlepas plasenta atau solusio plasenta lainnya, seperti:

  • Nyeri yang muncul secara tiba-tiba di punggung atau perut
  • Kontraksi rahim yang berkelanjutan
  • Rasa kencang di perut

Selain itu, gejala solusio plasenta dapat muncul secara bertahap. Dalam kasus ini, keluhan yang muncul adalah:

  • Perdarahan kecil yang terjadi sesekali
  • Cairan ketuban sedikit sekali
  • Bayi tumbuh lebih lambat daripada biasanya
Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, segera kunjungi dokter karena solusi plasenta harus segera diobati untuk menghindari akibat fatalnya.

Selain itu, dokter kandungan harus memeriksa ibu hamil secara teratur. Ini dilakukan untuk memastikan perkembangan kehamilan dan untuk mengidentifikasi gangguan pada ibu atau janin lebih awal.

Diagnosis Solusio Plasenta

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui perdarahan vagina dan ketegangan di rahim. Dokter juga bisa melakukan USG kehamilan, tes darah, atau tes urine untuk mengetahui kemungkinan solusio plasenta.

Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan langkah apa yang harus diambil. Dokter juga akan memeriksa kondisi janin, termasuk detak jantungnya.

Pengobatan Solusio Plasenta

Terapi solusio plasenta bergantung pada kondisi janin dan ibu hamil, usia kehamilan, dan tingkat keparahan solusio plasenta. Sangat penting untuk diingat bahwa plasenta yang telah terlepas dari dinding rahim tidak dapat ditempelkan kembali. Pada situasi seperti ini, fokus pengobatan adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dan bayinya.

Dokter kandungan akan meminta ibu hamil dirawat di rumah sakit jika solusio plasenta terjadi saat usia kehamilan belum mencapai 34 minggu agar kondisinya dapat dipantau. Jika detak jantung janin normal dan perdarahan berhenti, solusio plasenta tidak terlalu parah, dan ibu hamil dapat pulang.

Namun, untuk mempercepat perkembangan paru-paru janin, dokter biasanya memberikan suntikan kortikosteroid. Ini dilakukan untuk mencegah kondisi lepasnya plasenta menjadi lebih buruk, yang berarti persalinan harus dilakukan segera meskipun belum memasuki waktunya.

Dokter akan mengupayakan persalinan yang aman untuk ibu dan bayi jika solusio plasenta terjadi saat kehamilan lebih dari 34 minggu. Jika solusio plasenta tidak parah, ibu hamil masih dapat melahirkan secara normal. Namun, jika tidak memungkinkan, dokter akan melakukan operasi caesar.

Ibu hamil yang mengalami perdarahan berat selama persalinan mungkin membutuhkan bantuan transfusi darah untuk mencegah syok atau kekurangan darah.

Komplikasi Solusio Plasenta

Baik ibu maupun bayi dapat mengalami komplikasi serius, seperti abortion plasenta atau solusio plasenta. Ini dapat menyebabkan masalah seperti:

Komplikasi pada ibu

Ibu hamil yang mengalami solusio plasenta mungkin mengalami kondisi berikut:

  • Penyakit yang menyebabkan pembekuan darah
  • Syok hipovolemik sebagai akibat dari kehilangan darah
  • Gagal ginjal atau salah satu fungsi tubuh lainnya

Perdarahan yang parah dapat menyebabkan ibu hamil harus menjalani operasi pengangkatan rahim, yang juga dapat menyebabkan kematian.

Komplikasi pada bayi

Namun, bayi yang mengalami solusio plasenta dapat mengalami masalah berikut:

  • Kelahiran sebelum waktunya, sehingga bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Karena janin kekurangan nutrisi dan oksigen, pertumbuhannya juga terhambat
  • Meninggal dalam kandungan jika mengalami kondisi yang dikenal sebagai solusio plasenta

Pencegahan Solusio Plasenta

Tidak ada cara untuk mencegah abruptio plasenta, atau lepasnya plasenta, tetapi ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dan mencegah lepasnya plasenta, yaitu:

  • tidak merokok dan menggunakan narkoba, terutama selama kehamilan
  • Selama hamil, jangan terlalu banyak bergerak
  • Saat hamil, jangan berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat menyebabkan jatuh atau cedera pada perut
  • Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan selama hamil, terutama bagi ibu hamil di atas usia empat puluh tahun
  • Mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi