Hati, Bilirubin, dan Genetik

Sindrom Rotor

Pahami sindrom Rotor sebagai kelainan jinak transport bilirubin akibat SLCO1B1 dan SLCO1B3, dengan jaundice ringan berulang, cara membedakan dari Dubin–Johnson atau penyakit hati, implikasi obat, dan prognosis.

Ditulis oleh Tim SehatKitaDiperbarui 25 Agustus 2026Waktu baca 8 menit
Ilustrasi editorial untuk artikel Sindrom Rotor
RingkasanSindrom Rotor adalah kelainan genetik langka dan relatif ringan yang menyebabkan bilirubin—terutama bentuk terkonjugasi—menumpuk dalam darah. Mata atau kulit dapat tampak kuning sejak masa anak dan berulang, tetapi kondisi ini biasanya tidak merusak hati atau memendekkan usia.

Jaundice sering menjadi satu-satunya tanda

Kuning pada putih mata dapat muncul dan menghilang tanpa gatal, nyeri, atau gangguan fungsi hati. Infeksi, kelelahan, puasa, atau perubahan tubuh dapat membuatnya lebih terlihat. Gejala berat, tinja pucat, gatal, demam, atau nyeri perut bukan pola khas dan perlu dicari penyebab lain.

Dua transporter hati tidak bekerja normal

Rotor terjadi bila kedua salinan SLCO1B1 dan SLCO1B3 kehilangan fungsi, sehingga OATP1B1/OATP1B3 kurang mampu mengambil bilirubin dan senyawa lain dari darah ke hati. Pewarisannya autosomal recessive; orang tua biasanya carrier tanpa gejala. Kondisi ini berbeda dari Dubin–Johnson dan tidak membuat hati berpigmen hitam.

Jaundice baru atau memburuk harus diperiksaPeriksa segera bila kuning disertai demam, nyeri perut kanan atas, muntah, urine gelap dan tinja pucat, gatal berat, kebingungan, perdarahan, atau berat turun. Jangan menganggap semua jaundice pada pemilik diagnosis Rotor berasal dari kondisi tersebut.

Diagnosis menyingkirkan penyakit hati lain

Pemeriksaan mencakup bilirubin langsung/tidak langsung, enzim hati, darah, urine, dan imaging bila perlu. Pola coproporphyrin urine serta tes genetik dapat membantu. Hepatitis, cholestasis, batu empedu, hemolysis, Dubin–Johnson, dan efek obat harus disingkirkan sebelum menyimpulkan kondisi jinak.

Tidak memerlukan terapi khusus

Biasanya cukup edukasi dan pencatatan diagnosis agar pemeriksaan invasif berulang dapat dihindari. Karena transporter OATP juga menangani beberapa obat, beri tahu dokter/apoteker tentang sindrom Rotor sebelum obat baru—terutama obat dengan indeks terapi sempit—meski bukti risiko klinis tiap obat masih terbatas.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada MedlinePlus Genetics — Rotor syndrome. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.