Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Sindrom Kaki Terbakar

Sekumpulan gejala di mana kaki terasa panas, bahkan seperti terbakar, dikenal sebagai sindrom kaki terbakar. Gejala ini biasanya muncul pada malam hari, membuat sulit bagi penderitanya untuk tidur.

Sindrom kaki terbakar (Grierson-Gopalan syndrome) biasanya menyebabkan rasa panas di telapak kaki, tetapi bisa juga terasa di punggung, pergelangan kaki, atau bahkan di tungkai bawah. Pengobatan penyakit panas pada telapak kaki ini dapat berbeda karena ada banyak penyakit yang dapat menyebabkannya.

Penyebab Sindrom Kaki Terbakar

Sebagian besar kasus yang menyebabkan sindrom kaki terbakar adalah kerusakan pada saraf tepi, juga dikenal sebagai neuropati perifer. Rasa panas dan terbakar di kaki dapat menjadi gejala beberapa kondisi umum dan medis, seperti:

Gangguan saraf tepi

Kondisi berikut dapat menyebabkan gangguan saraf tepi dan sindrom kaki terbakar:

  • Neuropati diabetik, atau kerusakan saraf yang disebabkan oleh diabetes mellitus yang tidak tertangani dengan baik
  • Sindrom tunnel tarsal
  • Kurangnya vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, atau vitamin E
  • Alkoholisme
  • Neuron Morton
  • Kerusakan saraf akibat amiloidosis atau neuropati amiloid
  • penggunaan obat tertentu yang dapat mengganggu fungsi saraf, seperti kemoterapi amiodarone, obat HIV, isoniazid, imunosupresan, atau levodopa
  • Keracunan arsenik, timbal, atau merkuri (logam berat)
Gangguan aliran darah

Kondisi berikut dapat menyebabkan gangguan aliran darah pada kaki, yang dapat menyebabkan rasa panas atau pembengkakan pada kaki:

  • Peradangan pembuluh darah, juga dikenal sebagai vaskulitis
  • Penyakit yang menyerang arteri perifer
  • Erythromelalgia, kelainan genetik yang mengganggu fungsi pembuluh darah
Kondisi lain

Sindrom kaki terbakar juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain, seperti masalah dengan aliran darah, kulit, keseimbangan hormon, atau bahkan mental. Beberapa kondisi tersebut adalah:

  • Hipotiroidisme pada tiroid
  • Infeksi, seperti tinea pedis
  • Herpes zoster pada bagian kaki
  • Bahan sepatu atau kaus kaki yang menimbulkan alergi
  • Iritasi kulit kaki, seperti yang disebabkan oleh pewarnaan bahan kulit pada alas sepatu
  • Berlebihan berolahraga dengan kaki
  • Psikosomatik

Faktor risiko sindrom kaki terbakar

Risiko terkena sindrom kaki terbakar dapat meningkat karena beberapa faktor risiko berikut:

  • Memakai bantalan yang terlalu tipis atau sepatu yang terlalu ketat
  • Kebiasaan merokok
  • Mempunyai kaki rata
  • Atletik
  • Mengalami penyakit jangka panjang seperti sarkoidosis, diabetes, penyakit ginjal, atau polisitemia vera

Gejala Sindrom Kaki Terbakar

Gejala di bawah ini biasanya merupakan gejala dari sindrom kaki terbakar:

  • Sensasi panas yang mirip dengan terbakar, yang akan menjadi lebih buruk pada malam hari
  • Kaki terasa hangat saat diraba
  • Kaki terlihat kemerahan
  • Kesemutan yang mirip dengan ditusuk jarum
  • Kebas di telapak atau area kaki lainnya
  • Rasa berat di kaki
  • Nyeri yang menusuk, tajam, atau mirip dengan tersengat listrik
  • Gesekan atau sentuhan kecil pada kulit kaki menyebabkan rasa sakit yang luar biasa
Saatnya ke dokter

Konsultasikan dengan dokter melalui Chat Bersama Dokter jika Anda mengalami gejala sindrom kaki terbakar untuk mendapatkan jawaban yang cepat dan tepat. Dokter akan memberikan obat dan saran untuk perawatan yang dapat Anda lakukan secara mandiri, dan setelah beberapa hari, mereka akan memantau perkembangan Anda.

Dokter akan merujuk Anda ke rumah sakit terdekat jika keluhan Anda belum membaik dan diperlukan pemeriksaan tambahan. Namun, Anda dapat langsung ke IGD rumah sakit terdekat jika:

  • Kaki terasa panas
  • Keluhan tiba-tiba muncul
  • Kaki sering terinfeksi, terutama pada orang yang menderita diabetes

Diagnosis Sindrom Kaki Terbakar

Dokter akan menanyakan beberapa hal kepada pasien untuk mendiagnosis sindrom kaki terbakar:

  • Masalah yang dirasakan
  • penyakit pasien dan anggota keluarganya
  • Obat yang sering dikonsumsi
  • Aktivitas harian pasien secara keseluruhan.

Dokter juga akan memeriksa apakah pasien memiliki ruam kulit atau luka pada kakinya. Kemudian, mereka akan melakukan pemeriksaan tambahan di bawah ini untuk mengetahui penyebab sindrom kaki terbakar:

  • Tes darah untuk mengevaluasi gula darah, gangguan tiroid, infeksi, dan kekurangan vitamin B12
  • Tes urine untuk mengidentifikasi penyakit ginjal
  • Tes saraf digunakan untuk mengukur kecepatan saraf kaki saat mengirimkan sinyal listrik
  • Elektromiografi dilakukan untuk mengevaluasi reaksi otot terhadap sinyal saraf
  • Biopsi yang diambil dari kulit atau saraf

Pengobatan Sindrom Kaki Terbakar

Penanganan sindrom kaki terbakar harus disesuaikan dengan sumbernya. Ini adalah penjelasannya:

Penanganan mandiri

Perawatan mandiri dapat membantu mengurangi gejala sindrom kaki terbakar dengan meningkatkan sirkulasi dan aliran darah pada kaki. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Merendam kaki selama setidaknya lima belas menit dalam larutan air garam atau air sejuk
  • Kaki harus dilindungi dari sumber panas
  • Lakukan pemijatan pada kaki
  • Memberikan sensasi kaki yang sedikit lebih tinggi.
  • mengonsumsi obat pereda nyeri seperti ibuprofen
  • Mengoleskan salep lidokain
  • Memilih sepatu yang nyaman dan ukurannya sesuai
Pengobatan medis

Dokter dapat meresepkan obat untuk penyebab sindrom kaki terbakar jika keluhan menjadi lebih parah dan tidak membaik dengan pengobatan mandiri. Beberapa obat ini adalah:

  • Suplemen vitamin B kompleks dengan vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12
  • Untuk sindrom kaki terbakar akibat infeksi jamur, antijamur seperti fluconazole, itraconazole, atau naftifine
  • Insulin dan obat lain untuk mengontrol gula darah
  • Untuk nyeri kronis yang disebabkan oleh gangguan saraf, gunakan antidepresan trisiklik, seperti duloxetine, atau venlafaxine
  • Untuk nyeri jangka panjang, antikejang seperti gabapentin atau carbamazepine
  • Pengobatan Guillain-BarrĂ© syndrome dengan plasmapheresis atau IVIG
  • Jika pengobatan lain tidak menyembuhkan sindrom kaki terbakar, corticosteroid
Terapi pendukung

Untuk membantu penyembuhan sindrom kaki terbakar, pasien juga dapat melakukan terapi di bawah ini:

  • Rehabilitasi fungsi gerak kaki
  • Stimulasi saraf elektrik
  • Terapi dengan laser
  • Akupunktur

Mereka yang memiliki diabetes dan mengalami sindrom kaki terbakar tidak disarankan untuk menjalani akupunktur. Ini karena tusukan jarum akupunktur dapat menyebabkan luka dan infeksi yang tidak disadari yang dapat memburuk dengan cepat.

Komplikasi Sindrom Kaki Terbakar

Sindrom kaki terbakar juga dapat menyebabkan komplikasi serius, di antaranya: Jika tidak ditangani dengan benar, keluhan dapat menjadi lebih parah.

  • Rentan mengalami kaki mati rasa karena cedera yang tidak disadari, yang dapat menyebabkan infeksi
  • Kematian jaringan atau gangrene, hingga amputasi pada luka yang tidak segera sembuh karena mati rasa
  • Otot kaki menjadi lebih lemah
  • Rentan jatuh dan cedera karena kehilangan keseimbangan dan kelelahan otot kaki
  • Infeksi yang berasal dari gangguan kulit yang tidak diobati

Pencegahan Sindrom Kaki Terbakar

Mengatasi penyebab utama sindrom kaki terbakar dapat mencegah penyakit tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah:

  • Untuk menghindari luka yang tidak terlihat, periksa kaki Anda setiap hari
  • Bersihkan kaki setiap hari dengan pelembab
  • Mengenakan sepatu yang sesuai dengan ukuran kaki dan tidak memiliki hak yang terlalu tinggi
  • Mencegah infeksi jamur pada kutu air dengan menggunakan kaos kaki yang bersih dan kering
  • Memenuhi kebutuhan vitamin B12 Anda setiap hari dengan makan ikan, daging, atau telur
  • Luka atau cedera kaki harus diobati segera untuk mencegah infeksi
  • Melakukan aktivitas fisik dengan durasi minimal tiga puluh menit dan tiga kali seminggu sesuai dengan kondisi kesehatan Anda
  • Jika Anda memiliki kondisi medis yang dapat menyebabkan sindrom kaki terbakar, konsumsi obat secara teratur dan pergi ke dokter secara teratur
  • Meminimalkan gerakan kaki yang berulang atau melakukan pemanasan dan pendinginan kaki sebelum dan setelah berolahraga
  • Jangan merokok
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol