Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Serangan Panik

Serangan panik, juga dikenal sebagai “serangan panik”, terjadi ketika rasa takut atau gelisah meningkat secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa menit hingga lima puluh menit.

Serangan panik ditandai dengan detak jantung yang bertambah cepat, napas pendek, pusing, tegang otot, atau gemetar. Ini dapat terjadi kapan saja, baik saat beristirahat maupun saat bekerja.

Serangan panik terjadi sesekali dan biasanya hilang sendiri saat keadaan yang memicunya berakhir. Namun, serangan panik juga dapat terjadi secara berulang selama waktu yang lama, yang disebut gangguan panik.

Penyebab Serangan Panik

Dalam serangan panik, otak memerintahkan sistem saraf untuk melawan atau menghindar. Selanjutnya, tubuh menghasilkan zat kimia seperti adrenalin, yang meningkatkan detak jantung, frekuensi napas, dan aliran darah ke otot.

Serangan panik terjadi ketika tubuh mempersiapkan diri untuk melawan atau menghindar, terlepas dari keadaan tidak genting atau berbahaya.

Kondisi ini bahkan dapat muncul dalam situasi yang tidak terduga, seperti ketika seseorang sedang menonton televisi atau tertidur.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami serangan panik masih belum diketahui secara pasti.

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena serangan panik:

  • Stres berkelanjutan menyebabkan tubuh menghasilkan lebih banyak zat kimia yang menyebabkan stres, seperti adrenalin
  • Pengalaman atau trauma yang membuat Anda sangat tertekan
  • Tidak dapat mengendalikan kemarahan, yang meningkatkan risiko stres
  • Perubahan suasana secara tiba-tiba dan mengganggu sensasi, seperti memasuki lingkungan yang ramai dan padat
  • Problem hidup, seperti masalah keuangan atau perceraian
  • Faktor genetik atau riwayat keluarga serangan panik
  • Perubahan dalam cara bagian tertentu dari otak beroperasi
  • konsumsi berlebihan minuman berkafein seperti kopi dan teh
  • Terlalu banyak bergerak

Gejala Serangan Panik

Serangan panik biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat terjadi di mana pun:

  • Berkeringat terlalu banyak
  • Gelisah atau berpikir secara tidak logis
  • Khawatir yang berlebihan
  • Mulut yang kering
  • Otot terasa tegang
  • Mengigil atau bergetar
  • Breathlessness
  • Jantung berdebar kencang
  • Kram perut
  • Nyeri di dada yang biasanya terletak di sebelah kiri
  • Mual
  • Kesemutan atau kehilangan rasa
  • Keinginan untuk buang air besar atau BAK
  • Telinga berdengung
  • Sakit kepala kronis
  • Keala pusing atau pingsan

Serangan panik bervariasi dari 5 hingga 20 menit, tetapi juga bisa berlangsung selama beberapa jam atau lebih. Tingkat keparahan serangan tersebut bervariasi.

Penderita serangan panik dapat mengalami pusing dan kelelahan. Selain itu, kondisi ini menimbulkan ketakutan bahwa serangan akan terjadi lagi, sehingga penderita berusaha menghindari situasi yang dapat menyebabkan serangan panik.

Saatnya ke dokter

Segera temui dokter jika Anda mengalami serangan panik. Meskipun bukan penyakit yang berbahaya, serangan panik cukup sulit untuk ditangani secara mandiri dan dapat bertambah parah jika tidak ditangani.

Sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami serangan panik karena gejalanya dapat mirip dengan gejala penyakit lain, seperti serangan jantung.

Diagnosis Serangan Panik

Dokter akan memulai dengan bertanya kepada pasien tentang gejalanya untuk membedakan serangan panik dari gejala penyakit lain. Setelah itu, pasien akan diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala yang mereka alami adalah hasil dari serangan panik.

Untuk menetapkan diagnosis, beberapa pemeriksaan tambahan juga dapat dilakukan, seperti:

  • Tes darah untuk memeriksa masalah tiroid dan lainnya
  • elektrokardiogram (EKG), yang dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan jantung

Dokter akan melakukan pemeriksaan psikologis sesuai dengan pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) jika tidak ada masalah dengan tubuh atau sistemnya.

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk membedakan gangguan panik dari serangan panik.

Menurut pedoman tersebut, serangan panik ditandai dengan rasa takut dan tidak nyaman yang muncul secara tiba-tiba dan disertai dengan empat atau lebih keluhan berikut:

  • Jantung berdetak dengan cepat
  • Berkeringat banyak
  • Gelisah
  • Sesak atau perasaan tercekik
  • Sakit didada
  • Mual atau ketidaknyamanan perut
  • Kepala pusing, bahkan pingsan
  • Panas atau dingin
  • Rasa sakit atau mati rasa
  • Perasaan yang tidak sesuai dengan kenyataan
  • Perasaan takut akan menjadi gila atau kehilangan kendali
  • Perasaan tidak dapat bertahan lama

Pengobatan Serangan Panik

Pengobatan serangan panik bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dengan mengurangi intensitas dan frekuensi gejalanya. Penderita serangan panik dapat melakukan penanganan mandiri untuk meredakan gejalanya, seperti dengan:

  • Atur teknik pernapasan Anda dengan menghirup dan mengembuskan napas secara perlahan
  • Untuk membantu proses bernapas, hentakkan kaki Anda
  • Fokuskan panca indra Anda dengan berbagai cara, seperti makan permen atau memeluk bantal
  • Memanfaatkan teknik grounding untuk fokus menghindari ingatan atau pikiran negatif, seperti berhitung, memperhatikan lingkungan sekitar, atau memikirkan hal-hal yang menenangkan

Untuk pengobatan medis, tergantung pada kondisi pasien dan tingkat keparahan keadaan, dapat diberikan obat, psikoterapi, atau keduanya. Ini penjelasannya:

Obat-obatan

Dokter akan memberikan obat untuk mencegah serangan panik muncul lagi jika hanya terjadi sesekali. Namun, jika terus terjadi hingga mengalami gangguan panik, dokter akan memberikan obat yang mirip dengan obat untuk menangani depresi:

  • Fluoxetine
  • Paroxetine
  • Setraline
  • Venlavaxine
  • Alprazolam
  • Clonazepam

Perlu diingat bahwa pasien tidak boleh menghentikan penggunaan obat mereka secara tiba-tiba, bahkan jika mereka merasa obat mereka tidak berdampak apa pun. Penghentian penggunaan obat harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Psikoterapi

Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengatasi serangan panik. Pasien akan diajarkan untuk memahami dan percaya bahwa serangan panik tidak membahayakan.

Pasien juga akan diajarkan cara mengatasi ketakutan mereka dalam situasi yang dapat menyebabkan mereka panik. Tujuannya adalah agar pasien dapat mengatasi serangan panik sendiri.

Komplikasi Serangan Panik

Jika serangan panik tidak ditangani dengan segera, mereka dapat sembuh total, tetapi jika diabaikan, kondisi ini dapat menjadi lebih parah dan sulit diatasi, yang berdampak pada kualitas hidup penderita.

Komplikasi yang dapat timbul dari serangan panik termasuk, tetapi tidak terbatas pada, rasa takut konstan:

  • Fobia atau ketakutan terhadap sesuatu, seperti takut untuk meninggalkan rumah
  • Mengalami masalah kesehatan medis
  • tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
  • Problem di sekolah atau di kantor
  • Problem dengan uang
  • Ketergantungan terhadap alkohol atau NAPZA
  • Kecemasan, depresi, atau gangguan mental lainnya
  • keinginan untuk melakukan bunuh diri

Pencegahan Serangan Panik

Tidak ada cara khusus untuk mencegah serangan atau gangguan panik selain kesadaran diri penderita untuk mengatasi keadaan mereka sebelum menjadi lebih buruk. Oleh karena itu, penderita disarankan untuk mengunjungi dokter dan menerima perawatan.

Selain itu, Anda dapat mencegah serangan panik secara mandiri, seperti:

  • Berolahraga dengan teratur, seperti yoga atau pilates
  • Relaksasi dan teknik pernapasan
  • Mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak gula
  • Mengurangi konsumsi minuman yang mengandung kafein dan alkohol
  • Berhenti merokok
  • Beristirahat dan tidur dengan cukup