Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Retensi Urine

Ketika seseorang mengalami kesulitan kencing atau bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali, sisa urine selalu tertinggal di kandung kemih, kondisi ini disebut retensi urine. Tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena dapat mengakibatkan kerusakan pada kandung kemih atau bahkan ginjal.

Retensi urine terjadi ketika urine tersisa atau menumpuk di dalam kandung kemih karena salah satu saluran kemih tersumbat. Ini bisa terjadi karena kandung kemih tersumbat atau karena kandung kemih tidak bisa mengeluarkan urine secara efektif.

Penyebab Retensi Urine

Kandung kemih yang tersumbat atau tidak aktif (kandung kemih yang tidak aktif) adalah penyebab utama retensi urine. Hal ini menyebabkan urine tidak dapat keluar dengan benar. Ini penjelasannya:

Penyumbatan saluran kemih

Ketika aliran kencing dari kandung kemih terhalang oleh penyumbatan, ini disebut retensi urine. Penyumbatan ini dapat terjadi karena berbagai kondisi, seperti:

  • pertumbuhan prostat atau kanker prostat
  • Penyumbatan pada leher kandung kemih, misalnya karena batu kandung kemih atau jaringan parut
  • Kondisi di mana kandung kemih turun ke vagina sehingga pengosongan kandung kemih tidak efektif dikenal sebagai sitokel
  • Rektokel terjadi ketika bagian akhir usus besar (rektum) turun ke vagina sehingga saluran kemih tertutup
  • Struktur uretra, yaitu penyempitan uretra yang disebabkan oleh jaringan parut yang terbentuk akibat luka atau peradangan
  • Penyakit infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi menular seksual, prostatitis, atau vulvovaginitis
  • tumor yang terletak di rongga panggul, yang dapat menyebabkan aliran urine dari kandung kemih terhambat
Kandung kemih kurang aktif (underactive bladder)

Selain penyumbatan, retensi urine juga dapat terjadi jika otot kandung kemih tidak dapat berkontraksi secara maksimal untuk mengeluarkan urine. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan kandung kemih kurang aktif antara lain:

  • Gangguan pada saraf yang mengontrol kerja kandung kemih untuk mengeluarkan urine, seperti stroke, komplikasi diabetes (neuropati diabetik), cedera pada saraf tulang belakang akibat kecelakaan, multiple sclerosis, tumor sumsum tulang belakang, atau komplikasi persalinan melalui vagina
  • Efek samping obat seperti chlorpheniramine, tolterodine, amitriptyline, clonidine, olanzapine, atau diazepam
  • Efek samping operasi, seperti operasi di rongga panggul, prosedur penggantian sendi panggul, atau operasi tulang belakang

Selain itu, penggunaan obat bius yang biasa digunakan selama operasi juga dapat menyebabkan retensi urine, tetapi hal ini hanya bersifat sementara.

Gejala Retensi Urine

Untuk kasus retensi urine akut, penderita bisa saja tiba-tiba tidak bisa kencing sama sekali atau hanya mengeluarkan sedikit urine, bahkan jika kandung kemih mereka penuh dengan urine.

Mereka yang mengalami retensi urine akut juga dapat mengalami bengkak dan sakit perut bagian bawah. Di sisi lain, mereka yang mengalami retensi urine jangka panjang dapat mengalami keluhan seperti di bawah ini:

  • Susah sekali memulai saat buang air kecil
  • Sering buang air kecil, tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan
  • Merasa tidak puas setelah buang air kecil
  • Perlambatan aliran urine
  • Sering menginginkan untuk buang air kecil
  • Seringkali, kandung kemih penuh menyebabkan urin bocor sendiri
  • bangun untuk buang air kecil setiap malam

Saatnya ke dokterJika Anda mengalami salah satu gejala retensi urine di atas, Anda harus segera pergi ke dokter atau ruang ICU rumah sakit terdekat. Jika Anda juga mengalami rasa penuh kandung kemih dan nyeri perut, segera pergi ke dokter atau ruang ICU rumah sakit terdekat.

Diagnosis Retensi Urine

Dokter akan segera menangani pasien dengan gejala yang signifikan atau ketidakmampuan untuk kencing. Di sisi lain, pasien yang diduga mengalami retensi urine kronis akan dimintai pertanyaan pertama:

  • Berapa lama kemudian gejala muncul?
  • Penyakit yang di alami saat ini atau sebelumnya
  • Jenis obat yang digunakan
  • Prosedur medis yang sebelumnya dilakukan

Dokter kemudian akan memeriksa pasien secara fisik, termasuk pemeriksaan perut, fungsi saraf, alat kelamin, dan rektum untuk memastikan bahwa pasien mengalami retensi urine:

  • Untuk mengidentifikasi kemungkinan infeksi saluran kemih, tes urine, atau urinalisis, dilakukan
  • USG kandung kemih untuk menilai kondisi kandung kemih
  • Menghitung jumlah urine sisa yang keluar setelah buang air kecil
  • Tes urodinamik dilakukan untuk mengukur kapasitas kandung kemih dan uretra untuk menyimpan dan mengeluarkan urine
  • Kandung kemih penuh dengan urine sampai pasien buang air kecil dapat dilihat melalui foto Rontgen khusus (dengan kontras) yang disebut cystourethrogram
  • MRI untuk memeriksa kesehatan saluran kemih dan mencari indikasi cedera tulang belakang
  • scan komputer tomografi (CT) untuk mengidentifikasi tumor, kista, atau batu saluran kemih
  • Prosedur yang disebut sistoskopi menggunakan selang berkamera untuk melihat langsung uretra dan kandung kemih untuk menemukan batu atau striktur kandung kemih
  • Elektomiografi, yang digunakan untuk mengukur jumlah listrik yang terjadi pada otot dan saraf kandung kemih

Pengobatan Retensi Urine

Rumah sakit akan menangani pasien yang mengalami retensi urine akut. Untuk mencegah kerusakan ginjal dan kandung kemih, dokter akan mengeluarkan urine segera. Setelah itu, dokter dapat menentukan penyebab retensi urine pasien.

Dokter akan menentukan penyebab retensi urine kronis dan cara mengobatinya. Selama penyebab belum ditangani, pengobatan belum tuntas, dan pasien mungkin memerlukan kateter untuk mengeluarkan urine yang menumpuk di kandung kemih. Lamanya pemakaian kateter akan disesuaikan dengan kondisi pasien.

Karena pasien tidak dapat menggunakan kateter urine, kateter suprapubik yang ukurannya lebih besar dimasukkan ke kandung kemih melalui sayatan di perut.

Retensi urine dapat diobati oleh dokter dengan cara berikut:

Obat-obatan

Obat tertentu dapat diberikan kepada pasien yang mengalami retensi urine karena pembesaran prostat. Obat-obatan ini dapat melebarkan pembuluh darah, menurunkan tekanan darah, dan menghentikan produksi hormon yang menyebabkan pembesaran prostat.

Di antara obat-obatan ini adalah:

  • obat tamsulosin
  • Prazosin
  • Silodosin
  • Dutasteride
  • Finasteride

Selain obat-obatan yang disebutkan di atas, antibiotik dapat diberikan kepada pasien yang mengalami retensi urine karena infeksi bakteri.

Operasi

Jika pengobatan di atas tidak membantu menyembuhkan retensi urine, dokter mungkin mempertimbangkan untuk melakukan operasi, seperti:

  • Prosedur transurethral prostate resection (TURP) dilakukan untuk membuka penyumbatan di saluran urine yang disebabkan oleh pembesaran prostat
  • Ureteroplasti menyempit dan membentuk ulang uretra untuk membuka jaringan parut
  • Pemasangan cincin penyangga, atau pessarium, untuk mengatasi rektokel atau sistokel dan mencegah organ panggul turun kembali
  • ESWL digunakan untuk menghancurkan batu di kandung kemih dan memperbaiki aliran urine

Komplikasi Retensi Urine

Jika tidak ditangani dengan tepat, retensi urine dapat menyebabkan masalah berikut:

  • Infeksi yang mungkin masuk ke ginjal
  • Penyakit yang menyerang kandung kemih
  • Gagal ginjal kronis
  • Batu di kandung kemih
  • Mengompol karena kandung kemih mengumpulkan urine
  • Urosepsis adalah istilah untuk infeksi yang menyebar dari saluran kemih ke aliran darah

Pencegahan Retensi Urine

Beberapa cara untuk mencegah retensi urine akibat infeksi, prostatitis, dan penyakit menular seksual termasuk:

  • Mengganti celana dalam dengan sering untuk menjaga penis dan vagina tetap bersih
  • Jangan menunda untuk pergi ke toilet jika Anda merasa ingin buang air kecil
  • Banyak minum air putih
  • Berdiri secara teratur dan jangan duduk terlalu lama
  • Berolahraga atau berolahraga setidaknya tiga kali seminggu
  • Berhubungan seks dengan aman, termasuk menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan
  • Mengurangi konsumsi kafein dan minuman beralkohol
  • Mengurangi stres dengan meditasi
  • Senam kegel membantu kandung kemih berfungsi dengan lebih baik, yang membuat buang air lebih mudah