Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Nyeri Bahu

Rasa sakit dan tidak nyaman yang muncul pada bahu karena cedera atau penyakit tertentu disebut nyeri bahu. Hal ini sering disertai dengan keluhan lain, seperti rasa kaku atau tegang pada bahu.

Persendian bahu menghubungkan lengan dengan badan dan memungkinkan lengan untuk bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengangkat, mendorong, dan menarik benda.

Nyeri bahu terjadi ketika sendi dan jaringan di sekitarnya terluka, termasuk tulang, tulang rawan, tendon, otot, dan saraf. Nyeri ini dapat membatasi pergerakan lengan dan mengganggu aktivitas penderitanya.

Penyebab Nyeri Bahu

Berikut ini adalah beberapa penyebab nyeri bahu, mulai dari cedera hingga peradangan pada sendi:

Cedera

Cedera pada bahu adalah salah satu penyebab nyeri bahu. Cedera tersebut dapat menyebabkan jaringan yang menyusun bahu, seperti otot, tendon, atau ligamen, robek atau terluka, menyebabkan nyeri dan bengkak yang membatasi gerakan sendi bahu.

Penyebab nyeri bahu yang disebabkan oleh cedera adalah sebagai berikut:

  • Posisi bahu yang berubah
  • Retak yang terjadi pada tulang rawan
  • Patah tulang lengan atas atau tulang selangka
Aktivitas berlebihan

Selain cedera, nyeri bahu juga dapat disebabkan oleh aktivitas atau penggunaan bahu yang berlebihan. Orang yang berolahraga sering, mengangkat beban berat, atau melakukan aktivitas yang sama berulang kali mengalami kondisi ini.

Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan nyeri bahu akibat aktivitas berlebihan:

  • Bursitis, peradangan bantalan bahu
  • Robekan pada rotator cuff, yang merupakan otot dan tendon yang berfungsi untuk menggerakkan bahu
  • Ketika tendon bahu terjepit di antara tulang, itu disebut sindrom bahu terjepit
  • Tendinitis, peradangan yang terjadi pada tendon bahu
  • Posisi tubuh yang tidak tepat

Jika Anda memiliki postur tubuh yang tidak sehat, seperti membungkuk saat duduk atau berdiri, otot-otot di sekitar bahu menjadi lebih kaku. Kondisi ini membuat sendi bahu sulit bergerak, yang berpotensi meningkatkan tegangan pada otot dan menekan saraf di leher, bahu, dan bagian atas punggung.

Selain itu, kurangnya aktivitas pada sendi bahu, seperti akibat stroke, patah tulang, atau pemulihan setelah operasi, dapat menyebabkan nyeri bahu yang dikenal sebagai frozen shoulder. Kondisi ini terjadi ketika bahu menjadi kaku dan nyeri saat digerakkan.

Cedera saraf (nerve injury)

Cedera pada pleksus brakialis—kumpulan saraf yang membentang dari tulang belakang ke bahu dan lengan—juga dapat menyebabkan nyeri di bahu. Cedera ini dapat terjadi karena saraf tertarik, terjepit, atau bahkan robek.

Radang sendi

Peradangan pada sendi dapat menyebabkan nyeri dan bengkak. Ini dapat terjadi karena penyakit autoimun, cedera, atau penuaan. Bahu dapat mengalami radang sendi, termasuk:

  • Penyakit autoimun yang disebut rheumatoid arthritis menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sendi, menyebabkan peradangan dan nyeri
  • Peradangan yang terjadi karena menipisnya tulang rawan di bahu, biasanya karena tua, disebut osteoartritis
  • Sakit yang muncul setelah cedera bahu, seperti dislokasi bahu, dikenal sebagai artritis pascatrauma

Gejala Nyeri Bahu

Nyeri bahu dapat muncul segera setelah cedera, atau dapat muncul secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyebabnya juga dapat menentukan tingkat keparahan nyeri.

Keluhan lain yang mungkin dirasakan oleh orang yang mengalami nyeri bahu adalah sebagai berikut:

  • Nyeri tajam atau tumpul di bagian atas lengan atau depan bahu
  • Menyerang lengan, leher, atau kepala
  • Kaku pada bahu, yang juga dapat mempengaruhi otot leher
  • Kesemutan atau rasa sakit di leher, lengan, atau jari tangan
  • kesulitan menggerakan bahu atau lengan

Ingatlah bahwa nyeri bahu dapat disebabkan oleh masalah pada organ lain, seperti jantung, kantung empedu, atau hati. Dalam kasus-kasus ini, nyeri terjadi tanpa ada kelainan di bahu, tetapi biasanya nyeri bahu ini disertai dengan gejala lain yang lebih mengganggu.

Kapan harus ke dokter

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter melalui chat jika nyeri bahu Anda sudah berlangsung cukup lama. Dokter dapat memberi Anda saran tentang pengobatan, dan saran tentang latihan fisik yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah.

Namun, Anda dapat pergi ke dokter atau IGD untuk pemeriksaan dan perawatan segera jika nyeri bahu muncul setelah cedera atau cedera yang sangat parah.

Jika Anda mengalami nyeri bahu bersama dengan gejala berikut, segera pergi ke ICU.

  • Sakit di dada
  • Sesak dada
  • Keringat yang dingin
  • Sakit kepala
  • Mengalami mual dan muntah
  • Jantung berdebar kencang

Diagnosis Nyeri Bahu

Dokter akan menanyakan gejala pasien, peristiwa yang menyebabkan nyeri pada bahu, dan penyakit sebelumnya. Kemudian, mereka akan memeriksa bahu dan lengan pasien dengan cara berikut:

  • Memeriksa dan menekan berbagai sisi bahu untuk mengetahui posisi dan nyeri tekan
  • Coba gerakkan bahu Anda untuk melihat seberapa parah kesulitan gerakan dan kaku pada bahu Anda
  • Memeriksa bagian tubuh lain, seperti leher atau perut, untuk memastikan bahwa nyeri di bahu bukan akibat dari masalah yang tidak terkait

Selain itu, dokter dapat menentukan sumber nyeri bahu pasien dengan melakukan foto rontgen atau MRI.

Pengobatan Nyeri Bahu

Nyeri bahu bisa diobati bergantung pada sumbernya. Namun, berikut adalah beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri bahu:

Penanganan mandiri

Salah satu metode pengobatan adalah terapi mandiri. Dokter akan menyarankan penderita untuk melakukan terapi mandiri di rumah, seperti: Jika gejala nyeri bahu masih ringan.

  • Mengurangi aktivitas fisik yang berkaitan dengan pergerakan bahu dan mengistirahatkan lengan.
  • Mengompres dingin bahu dua kali sehari selama 10–15 menit.
  • Ketika bahu Anda masih sangat kaku, peregangan dengan hati-hati dan perlahan.
  • Tidur telentang.
  • Saat tidur, tetapkan lengan sejajar dengan bahu dengan bantalan.
  • Memakai bantal yang menopang leher Anda dengan baik, seperti yang terbuat dari memory foam.
Obat-obatan

Dokter juga dapat memberikan obat-obatan seperti:

  • Paracetamol, seperti Alphamol atau Panadol
  • Jenis asam mefenamat tertentu, seperti Mefinal dan Mefix
  • Cataflam dan Flamar adalah contoh natrium diklofenak
  • Ibuprofen, seperti Dolofen-F atau Farsifen

Untuk peradangan yang cukup parah, dokter bisa memberikan kortikosteroid. Namun, obat ini tidak boleh dikonsumsi dalam jangka panjang.

Fisioterapi

Biasanya dokter juga akan menyarankan pasien untuk menjalani fisioterapi—mungkin dengan bantuan fisioterapis atau secara mandiri—untuk mengatasi nyeri bahu, terutama yang telah berlangsung lama.

Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot bahu. Ini dilakukan agar Anda dapat bergerak dan beraktivitas kembali seperti biasa.

Operasi

Kondisi yang membutuhkan operasi antara lain patah tulang atau robekan pada tendon atau ligamen yang berat; nyeri bahu biasanya tidak memerlukan operasi. Dislokasi bahu juga dapat diobati dengan reposisi tanpa operasi.

Metode operasi bedah terbuka juga bisa dilakukan oleh dokter, atau melalui metode artroskopi, yaitu bedah dengan sayatan kecil di mana alat operasi khusus dimasukkan ke dalam sendi.

Komplikasi Nyeri Bahu

Nyeri bahu yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi seperti, tergantung pada penyebabnya:

  • cedera pada saraf atau pembuluh darah yang mengelilingi bahu
  • Penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari karena kaku pada sendinya yang membatasi gerak
  • Melemahnya otot
  • Nyeri dan keterbatasan gerak menyebabkan kesulitan tidur dan depresi

Pencegahan Nyeri Bahu

Anda dapat mencegah nyeri bahu pertama-tama dengan menghindari penyebabnya. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalami nyeri bahu:

  • Melakukan peregangan sebelum dan sesudah latihan
  • Perkuat otot bahu dengan berolahraga yang memfokuskan pada otot leher, bahu, dan punggung
  • Hentikan gerakan atau aktivitas jika bahu Anda terasa sakit
  • Jika Anda melakukan gerakan atau aktivitas yang memberikan tekanan terus-menerus pada bahu Anda, beristirahatlah
  • Melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera, gunakan alat pelindung diri
  • Mempelajari cara duduk atau berdiri dengan benar