Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Koma

Koma adalah kondisi paling dalam saat seseorang tidak sadarkan diri. Orang yang mengalami koma tidak bisa menanggapi terhadap situasi di sekitarnya sama sekali.

Penderita koma tidak dapat melakukan gerakan apapun, bersuara, apalagi membuka mata, meskipun telah dicubit. Tidak sama dengan pingsan yang hanya terjadi sementara, hilangnya kesadaran bagi penderita koma terjadi dalam waktu yang lama.

Terjadinya koma karena rusaknya pada salah satu bagian otak, baik sementara ataupun permanen. Penyebab rusaknya otak ini bisa beragam, seperti stroke, cedera berat di kepala, infeksi, atau tumor. Penyebab ini harus diketahui supaya dokter dapat menentukan langkah pengobatannya.

Penyebab Koma

Koma adalah akibat rusaknya di salah satu bagian otak yang memerintah kesadaran. Kerusakan ini bisa terjadi dalam jangka pendek atau jangka lama.

Terdapat beberapa hal yang bisa menyebabkan kerusakan di otak dan memicu terjadinya koma, di antaranya:

  • Stroke
  • Mengalami cedera berat pada kepala, seperti diffuse axonal injury
  • Subdural hematoma
  • Gula darah tinggi atau terlalu rendah
  • Infeksi di otak, misalnya meningitis dan ensefalitis
  • Keracunan, seperti keracunan karbon monoksida atau logam berat
  • Overdosis alkohol atau penyalahgunaan narkotika dan zat berbahaya lainnnya, termasuk happy five
  • Kekurangan oksigen, seperti kena serangan jantung atau tenggelam
  • Kejang
  • Tumor padaotak
  • Gagal hati (koma hepatikum)
  • Ketidakseimbangan kadar garam dalam darah

Gejala Koma

Tanda dan gejala utama koma adalah menurunnya kesadaran yang ditandai dengan kehilangan kemampuan berpikir serta ketidaksanggupan penderitanya dalam merespons situasi di sekitarnya.

Penderita koma tidak mampu bergerak, bersuara, bahkan membuka mata, meski telah diberi rangsangan, misalnya dicubit dengan keras. Adapun timbul respons, maka respons tersebut sangat kecil, misalnya mengerang kecil ketika dicubit.

Seseorang yang menderita koma terkadang masih bisa bernapas dan mempunyai denyut jantung yang teratur. akan tetapi, untuk sebagian besar kasus, penderita koma rata-rata sudah menggunakan alat bantu napas atau diberikan obat-obatan penunjang denyut jantung.

Saatnya ke dokter

Koma adalah kondisi gawat darurat yang perlu secepatnya ditangani oleh dokter. Kondisi tersebut bisa terjadi dengan seketika atau bertahap. Oleh karena itu, secepatnya ke dokter bila Anda mengalami kecelakaan, khususnya jika ada benturan di kepala.

Periksakan selalu diri secara rutin ke dokter bila Anda menderita penyakit yang berisiko menimbulkan koma, misalnya diabetes.

Apabila Anda melihat orang yang kesadarannya menurun atau tidak sadar sama sekali, segera cari pertolongan sambil memberikan bantuan darurat. Beberapa langkah bantuan darurat yang bisa Anda dilakukan adalah:

  • Periksa pernapasan serta denyut nadi di leher orang tersebut dan berikan resusitasi jantung paru bila ia tidak bernapas atau denyut nadinya tidak terasa
  • Longgarkan pakaian orang tersebut
  • Apabila orang tersebut menderita perdarahan parah, tutup dan tekan area yang mengalami perdarahan agar ia tidak kehilangan banyak darah

Diagnosis Koma

Untuk pasien yang dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri, dokter akan memberikan tindakan guna memastikan kondisinya stabil. Selanjutnya, dokter akan menentukan tingkat kesadaran pasien dengan memperhatikan apakah pasien bisa membuka mata, mengeluarkan suara, atau melakukan gerakan

Ketika sedang melakukan pemeriksaan, dokter akan memberikan berbagai rangsangan, seperti memberikan cahaya ke mata, mengetuk atau menekan bagian tubuh tertentu untuk melihat respons, dan merangsang nyeri dengan mencubit pasien.

Kemudian, dokter akan menentukan tingkat kesadaran pasien dengan Skala Koma Glasgow (GCS). Dari skala ini, koma merupakan nilai terendah dari tingkat kesadaran.

Selanjutnya, dokter akan mencari tahu pemicu dari koma serta kelainan lain yang dialami pasien. Bagian yang akan diperiksa oleh dokter antara lain:

  • Pola napas
  • Suhu tubuh
  • Denyut jantung
  • Tekanan darah
  • Indikasi cedera di kepala
  • Postur kulit, apakah ada tidaknya ruam serta warna kulit yang kuning, pucat, atau kebiruan

Dokter juga akan meminta penjelasan dari keluarga atau orang di sekitar pasien yang melihat kondisinya sebelum mengalami koma. Beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan dokter adalah:

  • Sejarah kesehatan pasien, misalnya apakah pasien pernah menderita diabetes
  • Macam mana pasien kehilangan kesadarannya, apakah dengan perlahan atau tiba-tiba
  • Tanda-tanda sebelum pasien mengalami koma, misalnya sakit kepala, kejang, atau muntah-muntah
  • Obat-obatan yang dikonsumsi sebelum pasien koma
  • Kelakuan pasien sebelum mengalami koma

Agar dapat menentukan penyebab koma dan memastikan metode pengobatan yang tepat, dokter harus melakukan pemeriksaan lebih rinci, antara lain:

MRI dan CT scan

Dengan melakukan pemindaian, dokter bisa mengetahui dengan jelas gambaran otak pasien, termasuk batang otak. Pemeriksaan lewat MRI dan CT scan dilakukan untuk memahami penyebab koma pada pasien.

Tes darah

Uji darah dimaksudkan untuk melihat kadar hormon tiroid, gula darah, dan elektrolit. Tujuannya adalah untuk memahami pemicu koma, seperti overdosis alkohol atau penggunaan obat-obatan, gangguan elektrolit, keracunan karbon monoksida, gangguan metabolik (seperti diabetes), juga gangguan pada organ hati.

Elektroensefalografi (EEG)

EEG dilakukan dengan menguji aktivitas listrik dalam otak. Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui apakah koma disebabkan oleh gangguan listrik di otak.

Pungsi lumbal

Pemeriksaan pungsi lumbal dilakukan untuk mengangkat sampel cairan saraf tulang belakang, dengan mencatuk atau menusuk celah di antara ruas tulang belakang. Dari sampel cairan ini, dokter akan mengetahui bila ada infeksi pada saraf tulang belakang atau otak yang dapat menjadi penyebab koma.

Pengobatan Koma

Pasien koma akan dirawat di ruang ICU agar keadaannya bisa terpantau secara intensif. Selagi dirawat di ruang ICU, penderita akan dipasangkan alat bantu napas untuk melindungi laju pernapasannya.

Pemasangan selang makan dan infus juga akan dilakukan, sebagai jalan untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan. Kemudian, dokter juga akan memasang monitor denyut jantung dan kateter urine.

Disamping terapi yang sifatnya pendukung seperti di atas, dokter juga dapat melakukan tindakan untuk mengatasi penyebabnya. Bila koma terjadi karena infeksi di otak, dokter akan memberikan antibiotik. Dan infus gula juga dapat diberikan untuk mengatasi hipoglikemia.

Untuk menurunkan pembengkakan di otak, dokter akan melakukan tindakan operasi. Apabila jika terjadi kejang, dokter akan memberikan obat antikejang.

Harapan kesembuhan pasien tergantung dari keparahan, penyebab dan reaksi pasien terhadap pengobatan. Dokter tidak bisa memperkirakan kapan pasien sadar dari koma. Akan tetapi, makin lama koma berlangsung, kesempatan pasien untuk sadar biasanya juga makin kecil.

Pulih dari koma

Kembalinya kesadaran orang yang mengalami koma umumnya terjadi secara bertahap. Ada sebagian penderita yang bisa sembuh total dari koma tanpa mengalami cacat sedikit pun. Sebagian lainnya tersadar, namun diikuti dengan penurunan pada fungsi otak atau bagian tubuh tertentu. Ada juga pulih namun mengalami kelumpuhan.

Pasien yang mengalami cacat setelah koma mesti mendapatkan penanganan lebih lanjut lewat beragam terapi, mencakup fisioterapi, psikoterapi, dan terapi okupasi.

Komplikasi Koma

Dampak dari berbaring terlalu lama, penderita koma bisa mengalami bermacam komplikasi, seperti:

  • Muncul luka di bagian belakang tubuh (ulkus dekubitus)
  • Pneumonia
  • Infeksi saluran kemih
  • Deep vein thrombosis

Pencegahan Koma

Untuk melakukan pencegahan koma adalah dengan mengatasi penyakit yang berisiko memicu koma. Orang yang menderita penyakit dengan risiko koma, seperti penderita diabetes atau penyakit liver, harus teratur memeriksakan diri ke dokter agar kesehatannya selalu terpantau.

Guna mencegah koma karena cedera kepala, waspadalah ketika berjalan, bekerja, serta berkendara. Bila Anda melakukan aktivitas atau pekerjaan yang berisiko bisa jatuh atau terbentur, pakailah alat pelindung diri sesuai anjuran keselamatan kerja.

Ingat, gunakan sabuk pengaman atau helm dan patuhi aturan keselamatan ketika berkendara. apabila mengalami benturan pada kepala, periksakan diri ke dokter guna memastikan tidak terjadi gangguan pada otak.