Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Ileus Paralitik

Ileus paralitik adalah masalah gangguan pergerakan usus karena kelumpuhan otot usus. Terhalangnya pergerakan usus ini menjadikan makanan tidak bisa dicerna sehingga mengakibatkan penyumbatan di usus. Apabila tidak cepat ditangani, hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan usus yang bisa berakibat fatal.

Penghambatan atau obstruksi usus yang terjadi disebabkan oleh ileus paralitik sering disebut dengan obstruksi palsu (pseudo-obstruction). Ileus paralitik bisa mengakibatkan penumpukan makanan di dalam usus. Dampaknya bagi penderita, dapat merasakan mual, muntah, sembelit, dan kembung.

Apabila tidak cepat ditangani, ileus paralitik bisa menimbulkan kerusakan di saluran pencernaan. Untuk tahap lanjut, ileus paralitik bisa membuat usus menjadi robek dan berlubang. Imbasnya, isi usus dapat bocor ke rongga perut dan mengakibatkan infeksi. Hal ini disebut dengan peritonitis.

Walaupun sama-sama bernama ileus, pemicu ileus obstruktif berbeda dengan ileus paralitik. Ileus obstruktif dipicu oleh penyumbatan di usus, contohnya akibat tumor, benda asing, atau hernia yang terjepit. Sekalipun ileus paralitik dapat disebabkan oleh gangguan pada pergerakan usus.

Penyebab Ileus Paralitik

Fungsi usus adalah untuk menyerap zat gizi makanan dan minuman yang telah dicerna oleh lambung. Pergeseran makanan dan minuman dari lambung menuju usus dibantu dengan gerakan otot-otot saluran pencernaan, ini disebut sebagai gerakan peristaltik.

Penyebab ileus paralitik dikarenaka adanya penghalang pada gerakan peristaltik tersebut. Terdapat beberapa hal yang bisa memicu ileus paralitik, antara lain:

Operasi

Umumnya ileus paralitik terjadi karena efek samping operasi, Terutama operasi pada area dan organ dalam perut. Masalah pergerakan usus ini sering timbul pasca operasi.

Biasanya aktivitas usus halus akan kembali normal dalam beberapa jam setelah operasi. Selangkan usus besar akan normal kembali dalam tempo 3–5 hari setelah operasi. Akan tetapi, bila ada gangguan di usus, diperlukan waktu yang lebih lama agar produktifitas usus kembali normal.

Obat-obatan

Pemberian obat bius pada saat tindakan operasi juga akan memperlambat pergerakan otot usus. Selain dari obat bius, obat-obatan lain yang bisa memicu ileus paralitik adalah:

  • Obat-obatan dari golongan antidepresan trisiklik, seperti amitryptiline
  • Obat dari golongan opioid, seperti oxydone dan morfin
  • Obat dari golongan antikolinergik

Selain karena obat-obatan serta operasi, ada pula beberapa penyakit atau kondisi yang bisa mengakibatkan ileus paralitik, di antaranya:

  • Hipokalemia, yaitu gangguan elektrolit, seperti kadar kalium rendah (hipokalemia)
  • Infeksi di saluran pencernaan, termasuk gastroenteritis
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit paru-paru
  • Kelainan saraf, seperti penyakit Hischprung, penyakit Parkinson, cerebral palsy atau multiple sclerosis
Faktor risiko ileus paralitik

Ileus paralitik bisa dialami oleh siapa saja, khususnya bagi orang yang baru menjalani operasi perut. Akan tetapi, kondisi ini lebih berisiko terjadi pada:

  • Lansia yang tergantung dengan obat-obatan yang dapat mengurangi pergerakan usus
  • Pasien yang sedang menjalani radioterapi
  • Seseorang yang menderita cedera atau perdarahan di dalam rongga perut

Gejala Ileus Paralitik

Bila terjadi gangguan di otot usus, pergerakan makanan dan minuman dalam usus akan terhalang. Dampaknya, akan muncul keluhan dan gejala berupa:

  • Perut terasa kram dan sakit
  • Tidak nafsu makan
  • Perut kembung (bloating)
  • Konstipasi (sembelit)
  • Perut mual
  • Muntah
  • Mulut bau
  • Perut membesar
  • Tidak bisa kentut
Saatnya ke dokter

Apabila Anda mengalami gejala yang sudah disebutkan di atas, secepatnya periksakan diri ke dokter, apalagi bila perut terasa membengkak dan sangat sakit, terus-terusan muntah, susah buang air besar (BAB), atau tidak bisa kentut.

Tanda-tanda di atas menunjukkan kondisi gawat darurat yang harus ditangani oleh dokter sebelum terjadi komplikasi yang lebih parah.

Diagnosis Ileus Paralitik

Sebelum melakukan diagnosis, dokter akan menanyakan keluhan, latar belakang penyakit, obat-obatan yang dikonsumsi, serta operasi yang pernah dilakukan oleh pasien.

Kemudian, dokter akan memeriksa bagian perut, juga mendengarkan suara gerakan di usus dengan menggunakan stetoskop. Bila terjadi ileus paralitik, bising pada usus tidak akan terdengar atau melemah. Disamping itu, dokter juga akan memeriksa apakah perut pasien membesar dan penuh dengan gas.

Agar diagnosis lebih bisa dpastikan, dokter akan menjalankan pemindaian. Tujuan dari pemindaian adalah untuk memastikan kondisi usus dan mencari tahu penyebab dari penyumbatan usus. Jenis pemindaian yang dilakukan antara lain:

  • Foto Rontgen
  • CT Scan
  • USG
  • Fluoroskopi

Pengobatan Ileus Paralitik

Untuk melakukan tindakan pengobatan pada ileus paralitik, dokter dapat menyesuaikan dengan penyebab, lokasi, dan tingkat keparahannya. Tujuan dari pengobatan adalah untuk melancarkan kembali pergerakan usus sehingga tidak ada lagi penyumbatan di usus.

Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan oleh dokter untuk mengobati ileus paralitik, yaitu:

  • Memasang nasogastric tube, agar gas bisa dikeluarkan, cairan, serta bahan makanan yang tertahan di dalam lambung
  • Memberikan obat-obatan, untuk merangsang pergerakan usus
  • Menghentikan atau menukar obat-obatan yang menjadi penyebab ileus paralitik
  • Memasukkan infus cairan dan elektrolit, agar kadar elektrolit di dalam tubuh bisa seimbang
  • Mengikuti tindakan operasi, agar hambatan di dalam usus dapat teratasi, atau memotong bagian usus yang bermasalah

Jika Ileus paralitik yang tidak segera diobati, ia akan berpotensi mengakibatkan komplikasi seperti:

  • Kekurangan cairan (dehidrasi)
  • Elektrolit tubuh mengalami gangguan keseimbangan
  • Penyakit Kuning
  • Perforasi, atau muncul lubang di dinding usus
  • Peritonitis
  • Kematian jaringan usus

Pencegahan Ileus Paralitik

Dalam beberapa kasus, ileus paralitik yang diakibatkan oleh cedera atau operasi tidak bisa dicegah. Namun, untuk mencegah ileus paralitik akibat kondisi lain, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan, seperti:

  • Tidak sembarangan menggunakan obat-obatan
  • Berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan tertentu
  • Melakukan pemeriksaan serta pengobatan bila mempunyai penyakit atau keadaan kesehatan tertentu, khususnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya ileus paralitik
  • Memperbaiki asupan makanan dan cukup minum, untuk menghindari terjadinya gangguan elektrolit akibat dehidrasi