Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kulit

Aktinik Keratosis

Pengertian aktinik keratosis

Aktinik keratosis adalah kondisi terdapat plak yang kasar, bersisik di kulit, berkembang akibat dari paparan terhadap sinar matahari dengan intens dan lama. Hal ini sering ditemukan pada wajah, bibir, telinga, bagian belakang dari tangan, lengan bawah, kepala, atau leher.

Atau nama lainnya yg sering disebut solar keratosis. Ia akan membesar secara lambat, selain plak pada kulit kondisi ini tidak menunjukkan gejala apa-apa. Umumnya plak ini akan muncul setelah usia 40 tahun berkembang perlahan selama bertahun-tahun.

Jaringan abnormal yang timbul akibat aktinik keratosis dapat berkembang menjadi kanker kulit, tetapi sangat kecil sekali persentasinya. Untuk menghindari aktinik keratosis Anda dapat meminimalkan paparan terhadap sinar matahari agar kulit terlindung dari sinar ultraviolet (UV).

Penyebab aktinik keratosis

Aktinik keratosis disebabkan oleh paparan yang sering atau intens terhadap sinar matahari (UV). Ini dapat terjadi pada siapa saja, namun orang yang rentan mengalaminya jikaa terdapat kondisi berikut:

  • Berusia di atas 40 tahun
  • Tinggal di lokasi dengan cuaca yang cerah
  • Terlalu sering terkena (intems) terhadap paparan sinar matahari
  • Sangat rentan untuk mengalami bintik-bintik pada kulit atau luka bakar bila terpapar sinar matahari
  • Mengalami aktinik keratosis atau kanker kulit sebelumnya
  • Mempunyai sistem pertahanan daya tubuh yang lemah sebagai akibat dari kemoterapi, leukemia, acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), atau pengobatan untuk transplantasi organ

Gejala aktinik keratosis

Tanda dan gejala dari aktinik keratosis adalah:

  • Plak merata dengan lapisan terluar dari kulit atau sedikit meninggi
  • Terdapat lapisan yang keras dan menyerupai kutil (pada sebagian kasus)
  • Plak yang kasar, bersisik, atau kering pada kulit, dengan diameter kurang dari 2,5 cm
  • Warna lesi yang bervariasi, termasuk merah muda, merah, atau cokelat
  • Seperti terbakar dan rasa gatal pada area yang mengalami lesi
  • Area yang terekspos sinar matahari, seperti wajah, bibir, telinga, tangan, lengan bawah, kepala, dan leher pada umumnya aktinik keratosis ditemukan
Diagnosis aktinik keratosis

Wawancara medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter secara langsung, adalah diagnosa dari aktinik keratosis umumnya dapat ditentukan.

Jika terdapat keraguan, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang, alah satunya adalah biopsi kulit. Dan saat dilakukan biopsi, dokter akan mengambil sampel dari jaringan kulit untuk dianalisis lebih lanjut di laboratoris.

Terkadang aktinik keratosis bisa reda dengan sendirinya, dan dapat timbul kembali setelah paparan terhadap sinar matahari yang berkelanjutan. Karena sulit memang untuk menentukan lesi kulit seperti apa pada aktinik keratosis yang dapat berkembang menjadi kanker kulit, umumnya dilakukan pengangkatan atau membuang pada aktinik keratosis sebagai metode pencegahan.

Pengobatan aktinik keratosis

Beberapa pilihan penanganan yang dapat dilakukan untuk aktinik keratosis adalah:

  • Lesi aktinik keratosis dengan beberapa penderita, penanganan pada seluruh area yang terlibat sangat disarankan untuk dilakukan.
  • Dokter akan meresepkan beberapa jenis pengobatan untuk dioleskan di kulit untuk meredakan keluhan.
  • Ada efek samping dari krim tersebut, yaitu berupa sisik atau rasa terbakar dan warna kemerahan pada kulit dalam beberapa minggu.
  • Fotodinamik terapi. dalam terapi ini dokter akan mengoleskan cairan. berupa cairan kimia di bagian kulit tertentu yang sensitif terhadap cahaya.Lalu, area ini akan dipaparkan terhadap sinar buatan agar menghancurkan atau merusak sel kulit yang sudah rusak tersebut.

    Dan efek samping dari fotodinamik terapi ini adalah berupa, rasa terbakar, pembengkakkan dan kemerahan selama masa terapi.

Prosedur lainnya adalah Pembedahan. Dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan pengangkatan pada penderita lesi aktinik keratosis.
Metode pembekuan atau krioterapi salah satu metode yang dapat dilakukan.

Dengan membekukan aktinik keratosis menggunakan cairan nitrogen, dokter akan mengoleskan zat ini pada bagian kulit yang yang bermasalah, karenanya kulit akan terkelupas. Lesi akan terkelupas dan kulit baru akan mulai tumbuh, pertanda kulit mulai mengalami penyembuhan.

Terdapat efek samping dari pembedahan ini, yaitu penggelapan warna kulit pada lokasi pengobatan, timbulnya luka, jaringan parut, perubahan tekstur kulit juga infeksi.

Dan satu prosedur lain yang dapat dilakukan adalah kuretase atau pengerokan. Pada prosedur ini, alat yang disebut kuret akan digunakan dokter untuk mengerok sel yang mengalami kerusakan.

Dengan bedah elektro pengerokkan, alat yang berbentuk mirip dengan pensil akan digunakan oleh dokter untuk memotong dan menghancurkan jaringan yang terlibat dengan aliran listrik. Obat bius lokal akan digunakan melalui prosedur ini.

Prosedur ini juga ada efek sampingnya, yaitu jaringan parut, perubahan warna kulit pada lokasi pengobatan juga infeksi.

Pencegahan aktinik keratosis

Penting untuk dilakukan pencegahan dari aktinik keratosis. Hal ini dapat mendahului terjadinya kanker atau merupakan tahap awal dari kanker kulit. Terhindar dari paparan sinar matahari penting untuk dicegah perkembangan dan rekurensi dari plak atau bintik-bintik karena aktinik keratosis.

Agar kulit terhindar dari paparan sinar matahari, beberapa hal ini dapat dilakukan:

  • Membatasi paparan terjadap sinar matahari. Baiknya hindari paparan sinar matahari dari pukul 10 pagi hingga pukul 14 siang.
  • Hindari paparan yang terlalu lama, agar terhindar terjadinya luka bakar pada kulit atau warna kulit yang menggelap.

Terjadinya aktinik keratosis dan kanker kulit sangat berpengaruh pada Kedua hal diatas, dapat menimbulkan kerusakan pada kulit dan meningkatkan risiko. Aktinik keratosis terjadi seiring dengan berjalannya waktu akibat Paparan sinar matahari yang terakumulasi.

Menggunaan tabir surya dapat meredakan perkembangan dari aktinik keratosis. gunakan ebelum bepergian ke alam terbuka, gunakan tabir surya spektrum luas. Penggunaan tabir surya spektrum luas Para pakar Dermatology dari American Academy sabgat direkomendasikan. Karena ia resisten terhadap air dengan SPF (sun protection factor) setidaknya 30. Oleskan tabir surya pada setiap bagian kulit yang terekspos, juga gunakan pelembap pada bibir.

Gunakan 15 menit sebelum terpapar sinar matahari serta ulangi setiap dua jam. Disarankan menggunakan lebih intens apabila berenang atau berkeringat.

Perhatikan kulit secara teratur dan seksama. Laporkan ke dokter bila ada terjadi perubahan. Cek and ricek kulit secara teratur dan amati timbulnya atau berkembangnya suatu lesi atau pertumbuhan pada kulit, juga perubahan pada tahi lalat, tanda lahir, dan sebagainya. Periksalah seluruh bagian tubuh dengan saksama.