Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Gigi, Kista

Kista Gigi

Kista gigi adalah sebuah kantong kecil yang berisi cairan dan tumbuh di sekitar gigi atau gusi. Umumnya, kista gigi tidak menimbulkan gejala, kecuali bila sudah terinfeksi. Untuk beberapa kasus, kista gigi yang besar dapat mendorong gigi yang sehat dan melemahkan tulang rahang.

Karena tidak selalu menimbulkan gejala, kista gigi biasanya ditemukan secara tidak sengaja ketika menjalani foto panoramik atau CT scan bagian leher dan kepala. Terdapat beberapa jenis kista gigi yang dapat dibedakan berdasarkan pemicunya. Akan tetapi, jenis kista gigi yang paling sering ditemukan adalah kista periapikal atau kista dentigerous.

Penyebab Kista Gigi

Kista gigi dapat terbentuk pada gigi yang telah tumbuh maupun belum tumbuh. Dilihat dari lokasi asal pertumbuhannya, beberapa jenis kista gigi yang lazim terjadi adalah:

  1. Kista periapikal
    Kista periapikal terjadi pada saat gigi berlubang dibiarkan terlalu lama serta tidak diobati dengan baik. Hal tersebut menimbulkan peradangan pada jaringan akar gigi (pulpitis) yang pada akhirnya terjadi kematian saraf pada gigi tersebut.
    Dalam waktu yang lama, pada ujung akar gigi yang sudah mati ini akan tumbuh kista periapikal.
  2. Kista dentigerous
    Kista dentigerous terjadi saat yang kantung berisi cairan tumbuh di sekitar bagian impaksi gigi, yakni gigi yang hanya dapat tumbuh sebagian atau tidak bisa keluar dari gusi sama sekali. Maka dari itu, kista dentigerous biasanya ditemukan di bagian gigi geraham, terutama gigi bungsu.
    Penyebab terjadinya kista dentigerous belum diketahui dengan pasti. Aka tetapi, keadaan ini diduga terjadi akibat faktor genetik.

Selain keadaan di atas, kista gigi juga bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti berikut:

  • Riwayat proses pengangkatan kista gigi yang tidak sampai beres
  • Bertumpuknya darah atau cairan di dalam kantung atau folikel gigi karena pertumbuhan gigi yang tidak tumbuh dengan sempurna
  • Pembentukan gigi yang tidak sempurna
  • Jaringan pembentuk gigi di bawah gusi yang tersisa dan membentuk kista

Gejala Kista Gigi

Kista gigi tumbuh dengan perlahan dalam waktu yang lama dan jarang menimbulkan gejala sehingga akan diketahui ketika penderita menjalani pemeriksaan. Biasanya, keluhan akan muncul ketika kista telah berukuran 2 cm atau lebih.

Beberapa gejala yang biasa terjadi akibat kista gigi adalah:

  • Gigi sensitif
  • Gigi berlubang
  • Gusi bengkak pada bagian gigi yang terdampak
  • Gusi mengeluarkan cairan bernanah
  • Sakit pada bagan gigi yang terdampak
  • Benjolan pada gusi yang semestinya ditumbuhi gigi geraham atau taring
  • Gigi bergeser
  • Timbulnya celah baru di antara gigi
  • Benjolan di gusi yang berwarna kebiruan, biasanya pada anak-anak yang baru tumbuh gigi susu
Saatnya ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter bila Anda atau anak Anda merasakan gejala yang telah disampaikan di atas. Selanjutnya, dokter bisa mencari tahu penyebab keluhan tersebut dan memberikan penanganan yang sesuai.

Secepatnya cari pertolongan medis bila terjadi gejala-gejala di bawah ini:

  • Benjolan di dekat gigi atau gusi yang tidak hilang setelah beberapa minggu
  • Timbul bercak berwarna merah atau putih di mulut atau bibir
  • Luka di mulut atau gusi yang tidak juga membaik atau makin memburuk
  • Sakit gigi yang berdenyut-denyut
  • Rasa tidak nyaman di mulut atau bau mulut
  • Demam

Diagnosis Kista Gigi

Untuk melakukan diagnosis kista gigi, dokter akan menanyakankan beberapa pertanyaan terkait yang dialami pasien:

  • Gejala dan tanda yang dialami
  • Sakit gigi yang pernah dirasakan
  • Prosedur perawatan gigi yang pernah dilakukan
  • Penyakit lain yang sedang diderita

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan gigi dengan menyeluruh. Untuk beberapa kasus, pada kista berukuran besar dokter dapat mengetahui jenis kista gigi hanya melalui pemeriksaan gigi.

Akan tetapi, biasanya, dokter perlu melakukan foto panoramik, CT scan, atau MRI guna memastikan diagnosis kista gigi. Pemeriksaan ini juga dibutuhkan untuk menentukan jenis kista gigi yang terjadi.

Pengobatan Kista Gigi

Biasanya, pengobatan kista gigi adalah dengan mengambil kista tersebut. akan tetapi, ada beberapa kasus di mana kista gigi tidak perlu perawatan dan akan sembuh dengan sendirinya.

Bila kista gigi harus diobati, dokter akan mencocokkan dengan penyebabnya, seperti yang dijelaskan dibawah ini:

Pengobatan kista periapikal

Perawatan saluran akar gigi bisa dilakukan untuk mengobati kista periapikal yang berukuran kecil. Pada cara ini, dokter akan membuang saluran akar gigi yang rusak, dan membersihkan rongga pulpa lalu menambalnya untuk menghindari infeksi kambuh kembali.

Sementara itu pada kista periapikal yang berukuran besar, dokter bisa saja  melakukan kombinasi pengobatan, mulai dari perawatan saluran akar gigi, pengangkatan kista, serta tambal gigi.

Pengobatan kista dentigerous

Kista dentigerous yang berukuran kecil akan diangkat berbarengan dengan gigi yang impaksi lewat prosedur operasi. Sementara pada kista yang besar, dokter akan membuang cairan pada kista dan membiarkan area sayatan kista tetap terbuka.

Setelah cairan pada kista diangakat, gigi yang sedang tumbuh akan ikut dicabut atau dipertahankan. Jika dari hasil pengamatan gigi bisa tumbuh normal, gigi tersebut akan dibiarkan. Bila tidak, contohnya gigi tumbuh miring, dokter akan mengankat gigi tersebut.

Di samping melakukan operasi pada kista gigi, operasi rekonstruksi pada rahang juga bisa dilakukan bila kista terlalu besar dan tulang rahang menjadi lemah. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi pada tulang rahang, seperti patah tulang rahang.

Selanjutnya, untuk mengatasi infeksi dan mengurangi keluhan, dokter bisa memberikan obat antibiotik serta obat antinyeri, baik sebelum ataupun setelah prosedur perawatan untuk kista periapikal dan dentigerous.

Komplikasi Kista Gigi

Kista gigi yang tidak diobati lama-kelamaan bisa mengakibatkan komplikasi, seperti di bawah ini:

  • Kerusakan pada tulang tempat munculnya kista
  • Susunan gigi menjadi berantakan
  • Perubahan warna atau bentuk pada gigi
  • Perikoronitis
  • Infeksi pada gigi, gusi, dan jaringan di area sekitarnya
  • Gigi tanggal
  • Tulang rahang melemah atau patah
  • Ameloblastoma

Pencegahan Kista Gigi

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menekan risiko terjadinya kista gigi, yaitu:

  • Rutin sikat gigi 2 kali sehari memakai pasta gigi berfluoride.
  • Gunakan dental flos atau benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi, setidaknya minimal 1 kali sehari.
  • Kumur-kumur dengan air setelah makan besar atau ngemil.
  • Kurangi asupan makanan manis dan asam serta minuman beralkohol.
  • Konsumsi air putih dalam jumlah yang cukup bila memiliki kondisi mulut kering atau air liur yang sedikit.
  • Periksakan gigi ke dokter dengan rutin minimal 6 bulan sekali.
  • Lakukan pemeriksaan ke dokter bila muncul gejala impaksi gigi, seperti sakit dan gusi bengkak, di area gigi geraham paling belakang.