Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Anak

Autisme Pada Anak

Pengertian autisme

Autisme adalah masalah gangguan perkembangan fungsi otak. Sakitan ini melingkupi bidang sosial dan fungsi afek, bicara secara lisan (bahasa) dan bukan lisan, fantasi, keluwesan, minat dalam lingkup, pengertian dan perhatian.

Beberapa pelaporan orang tua tentang perilaku anak autisme adalah, lambatnya berbicara dari anak-anak yang seumuran nya, acuh, dan cemas sekali anaknya sulit mendengar (tuli).

Kelakuan yang di luar perilaku normal tersebut lazimnya sudah kelihatan ketika anak berusia 3 tahunan. Dalam masa-masa inilah umumnya orang tua baru sadar bahwa ada yang lain pada buah hatinya.

Diagnosis autisme

Pengamatan fisik dapat dijumpai pada pasien dengan ciri-ciri autisme ialah adanya gejala-gejala nya. Sang anak akan diteliti dari berat badan dan tingginya, sampai pengamatan tubuh secara umum guna memastikan adanya kelainan atau tidak.

Berikut pemeriksaan yang akan dilakukan dokter sebelum memaparkan diagnosanya ialah:

  • Tes pemeriksaan tingkah laku anak
  • Juga pemeriksaan fisik (termasuk pemeriksaan pendengaran)
  • Serta pemeriksaan lanjutan (misalnya: pemeriksaan kromosom, pemeriksaan EEG, dan MRI)
  • Tes perkembangan anak seperti M-CHAT

Gejala autisme pada anak

Anak dengan autisme biasanya sudah menunjukan gejalanya sebelum berusia 3 tahun. Antara lain gejala yang diperlihatkan adalah tidak mau melakukan kontak mata dan tidak merespon dengan lingkungan sekitar.

Bila tidak segera dilakukan terapi, akhirnya lewat usia 3 tahun pertumbuhan anak akan stag atau mundur. Seperti tidak mengenali namanya dan mengenali suara orang tuanya.

Tiga gejala pada penderita autisme klasik, yaitu:

  • Gangguan interaksi sosial
  • Hambatan dalam komunikasi ucapan dan bukan ucapan (bahasa tubuh dan isyarat)
  • Kegiatan dan minat yang aneh atau sangat terbatas.

Sifat-sifat lain yang umum dijumpai pada anak autisme, adalah:

  • Tidak takut bahaya
  • Dan tidak suka dipeluk
  • Sukar sekali berkumpul atau bergabung dengan anak-anak lain
  • Tertawa atau kelihatan gembira bukan pada momennya
  • Menhindari kontak mata atau menghindari atau hanya sekilas melakukan kontak mata
  • Unsensitive atau terasa sakit atau nyeri
  • Enggan bergaul, relatif lebih suka main sendiri
  • Sulit melakukan hubungan pribadi yang sifatnya terbuka
  • Terpaku pada benda tertentu dan suka memutar-mutarnya
  • Tergantung sekali dengan benda yang sudah familiar setiap hari dengan baik secara fisik
  • Bisa sangat aktif atau tidak sama sekali
  • Lambat merespon, seperti cara belajar yang anak-anak normal melakukannya
  • Interest oleh hal-hal yang itu-itu saja, sukar menerima perubahan
  • Fokus dengan permainan yang ganjil
  • Suka mengulang kata atau suku kata
  • Bersikap seolah-olah tuli, tidak merespon terhadap kata-kata
  • Kesulitan dalam mengatakan keingiannya lewat kata-kata
  • Meminta lewat isyarat tangan atau menunjuk
  • Ketika marah membabi buta

Pengobatan autisme

  • Memberi edukasi kepada keluarga.
    Karena keluarga sangat berperan penting dalam membantu tumbuh kembang anak. Walau bagaimana pun, keluarga terutama orang tua adalah rule model terdekat bagi anak untuk dapat membantu anak belajar komunikasi, bersosialisa dengan lingkungan sekitar dan orang-orang nya.

    Boleh dikatakan keluarga adalah jalan lebar bagi anak dengan autisme agar dapat masuk ke dunia luar. Dan ini semua tidaklah mudah.

  • Obat-obatan.
    Pemakaian obat-obatan pada penderita autisme mesti dibawah kendali dokter. Ini diberikan ketika anak dicurigai ada gangguan di otak yang mempengaruhi pusat emosi dari penderita. Gangguan emosi mendadak sering sekali terjadi, stereotipik, Aktif yang berlebihan dan Agresif.

    Antipsikotik (Haloperidol), fenfluramin, antiopiat (naltrexone), dan clompramin guna meredam kejang juga perangai agresif.Ini adalah beberapa obat yang bisa diberikan. Pengobatan yang berkembang untuk gangguan autisme ialah terapi perilaku. Terapi ini adalah terapi yang sangat penting.

Gunanya adalah untuk mengawasi atau melatih perilaku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan melalui cara memberi hadiah juga hukuman. Memberikan hadiah akan membangkitkan timbulnya perilaku yang diinginkan, sedangkan hukuman akan meminimalisir perilaku yang tidak diinginkan.

Sampai saat ini belum ditemukan metode untuk mencegah terjadinya autisme. Tetapi ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko autisme. Seperti:

  • Apabila ingin merencanakan kehamilan, cobalah berolahraga secara ruti
  • Jika calon ibu sedang hamil atau merencanakan kehamilan, ada baiknya jauhkan kafein, merokok apalagi alkohol
  • Bila sedang hamil atau merencanakannya, disarankan perbanyak mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi tinggi yaitu sayur dan buah
  • Melakukan kontrol secara rutin ke dokter bila sedang hamil
Tips dan saran

Bertemanlah dengan anak. berkomunikasilah dengan nya walaupun ia tidak bisa menjawab komunikasi yang ibu berikan, tertawa, pegang dan dekaplah anak Anda sesering mungkin. Kemudian ibu juga bisa mencoba tidur dengan anak.

Berikan ASI ekslusif kepada anak, Dekap dan ajaklah berbicara, jauhkan bermain gadget saat memberi asi kepada anak. Usahakan memberi asi ekslusif hingga usia 2 tahun. Makanan yang bernutrisi tinggi selalu brikan, seperti sayur dan buah

Penyebab autisme

Pemicu pasti dari autisme sampai saat ini belum ditemukan. Agar dipahami, penyebab autisme pada anak bukanlah karena salah asuh orang tua. Dari bebrapa penelitian penyebab autisme, adalah:

  • Aspek genetika
  • Faktor metabolisme
  • Tidak seimbangnya biokimia
  • Ada kasus yang tidak biasa penyebab autisme adalah infeksi virus (TORCH), atau penyakit lainnya seperti penyakit kekurangan enzim (fenilketonuria), juga kelainan kromosom (sindrom X).

Dari studi Lumbantobing (2000), autisme dipengaruhi dari beberapa faktor, seperti:

  • Faktor biokimia
  • Aspek genetika
  • Keluarga dan psikologi
  • Aspek saat kehamilan dan kelahiran
  • Reaksi anak akan keributan, pertengkaran, ketidakperdulian dari keluarga juga lingkungan.
  • Abnormalitas organ-organ biologi dan saraf (neurologi)
  • Berkaitan dengan rusaknya organ dan saraf yang memicu gangguan fungsi-fungsinya, akibatnya memunculkan kondisi autisme pada penderita
  • 2-4% dari hasil penelitian ditemukan bahwa saudara sekandung juga mengalami penyakit autisme.
  • Faktor kekebalan tubuh
    Hal ini berkenaan pada saat kehamilan, Sistem imunitas bakal ibu yang tidak tangguh menangkal infeksi maka dari itu terjadi kerusakan jaringan saraf bayi .