Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Intelektual, Kesehatan Anak

Retardasi Mental

Retardasi mental adalah gangguan intelektual yang dialami oleh anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Anak-anak dengan retardasi mental juga dapat mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Kondisi tertentu dapat menyebabkan otak penderita retardasi mental rusak atau tidak berkembang dengan baik. Retardasi mental diklasifikasikan menjadi kategori ringan, sedang, berat, dan sangat berat.

Semua penderita retardasi mental membutuhkan banyak waktu dan bimbingan untuk membiasakan diri melakukan aktivitas sehari-hari secara normal, tetapi penderita retardasi mental dengan tingkat keterbatasan ringan hingga sedang mungkin masih dapat dilatih untuk mengatasi keterbatasannya.

Penyebab dan Faktor Risiko Retardasi Mental

Gangguan perkembangan otak menyebabkan retardasi mental. Namun, dalam beberapa kasus, penyebabnya tidak diketahui.

Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak anak:

  • Cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas atau olahraga
  • Pernah kritis, karena mengalami tenggelam
  • Kekurangan nutrisi serius pada bayi
  • Problem selama proses melahirkan, seperti bayi yang lahir sebelum waktunya atau kekurangan oksigen
  • Kelainan genetik, seperti sindrom fragile X atau sindrom Down
  • Penyakit yang mengganggu fungsi otak, seperti infeksi otak (seperti meningitis), lumpuh otak (seperti cerebral palsy), atau tumor otak
  • Gagal janin, seperti kekurangan nutrisi selama hamil, infeksi, merokok, mengonsumsi obat-obatan, atau preeklamsia
  • Eksposur bahan beracun

Gejala Retardasi Mental

Tergantung pada tingkat keparahannya, gejala retardasi mental berbeda-beda pada setiap penderita. Namun, umumnya, penderita retardasi mental akan mengalami kesulitan untuk menjalani aktivitasnya sendiri. Semakin berat derajat retardasi mental, semakin besar tantangan yang dihadapinya.

Nilai IQ pasien digunakan untuk menentukan seberapa parah retardasi mentalnya. Ini adalah rinciannya:

  • Ringan, memiliki IQ antara 50 dan 69
  • sedang, memiliki IQ antara 35 dan 49
  • Berat dan memiliki nilai IQ antara 20 dan 34
  • sangat sulit, dengan IQ di bawah 20

Beberapa gejala yang mungkin dialami oleh orang dengan retardasi mental adalah:

  • kesulitan berkomunikasi
  • Jika dibandingkan dengan anak-anak lain, mereka lebih lambat belajar duduk, merangkak, atau berjalan sendiri
  • kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian atau makan
  • kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian atau makan
  • kesulitan untuk mengidentifikasi situasi yang membahayakannya
  • Penalaran yang buruk dan masalah yang sulit diselesaikan
  • Daya ingat yang tidak baik

Gejala lain juga dapat muncul pada penderita retardasi mental yang berat, seperti kejang, gangguan penglihatan, gangguan pengendalian gerak tubuh, atau gangguan pendengaran.

Saatnya ke dokter

Jika Anda merasa perkembangan anak Anda jauh lebih terlambat daripada anak lain seusianya, Anda harus segera pergi ke dokter. Ini karena retardasi mental biasanya dapat dideteksi pada tahap perkembangan anak.

Konsultasikan dengan dokter jika Anda khawatir anak Anda mengalami keterlambatan perkembangan agar perkembangannya dapat dinilai dengan benar. Selain itu, pastikan anak Anda mendapatkan perawatan medis yang tepat jika dia menderita kelainan kesehatan atau penyakit tertentu.

Diagnosis Retardasi Mental

Setelah pengamatan dan pemeriksaan fisik, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien dan gejalanya.

Dokter kemudian akan memeriksa kemampuan kognitif pasien. Tes IQ dan tes kemampuan pasien untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya adalah beberapa contoh pemeriksaan yang dapat dilakukan.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk menemukan sumber retardasi mental, seperti:

  • Tes darah, untuk mendeteksi penyakit dengan melihat sampel darah
  • Tes urine, untuk memastikan apakah ada masalah kesehatan dengan mengambil sampel urine
  • Test genetik untuk mengetahui apakah pasien memiliki kelainan genetik
  • Periksa kelainan otak melalui pemindaian magnetik resonans (MRI) atau CT scan
  • Elektroensefalografi (EEG), untuk mengukur aktivitas listrik yang terjadi di otak selama kejang

Dokter dapat menemukan kelainan genetik pada janin melalui USG atau pengambilan sampel air ketuban (amniocentesis).

Pengobatan Retardasi Mental

Retardasi mental adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan dan bertahan seumur hidup. Namun, ada terapi khusus yang membantu pasien belajar menjalani aktivitas sehari-hari sendiri.

Beberapa metode terapi khusus adalah: Terapi khusus memerlukan kerja sama antara tim dokter, psikolog, pengajar, pengasuh, dan orang tua pasien.

  • terapi okupasi, mengajarkan pasien bagaimana melakukan tugas sehari-hari seperti makan, mandi, dan berpakaian
  • Terapi wicara untuk membantu pasien menjadi lebih baik dalam berkomunikasi
  • Terapi perilaku untuk membantu pasien menjadi lebih positif
  • Terapi fisik, membantu pasien menjadi lebih baik dalam gerak

Dokter dapat memberikan terapi tambahan untuk meredakan gejala pasien retardasi mental berat selain yang disebutkan di atas. Salah satu tindakan yang diberikan adalah:

  • Obat kejang antikonvulsan
  • Obat yang melemaskan otot untuk membantu orang yang mengalami masalah dengan kendali gerak tubuh
  • Alat bantu dengar yang digunakan untuk membantu pasien yang mengalami gangguan pendengaran

Orang tua yang menderita retardasi mental juga dapat membantu anak mereka berkembang:

  • Mengarahkan anak-anak untuk mencoba hal-hal baru
  • Mengajarkan anak-anak kemampuan untuk bekerja sendiri
  • Memantau perkembangan anak di sekolah atau selama sesi terapi dan membantunya mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya
  • Menglibatkan anak dalam kegiatan kelompok yang mengharuskan mereka bekerja sama, berbicara, dan berinteraksi
  • belajar lebih banyak tentang retardasi mental melalui konsultasi dengan dokter dan orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi tersebut

Komplikasi Retardasi Mental

Retardasi mental dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderita jika tidak ditangani. Hal ini dapat berdampak pada kualitas hidupnya dan dapat menyebabkan beberapa masalah seperti:

  • Kecemasan kronis
  • Stres
  • Depresi
  • Perilaku yang tidak bisa dilarang, seperti marah, menantang, atau menyakiti diri sendiri
  • Perilaku yang membuat gerakan, suara, atau kata-kata berulang

Pencegahan Retardasi Mental

Mencegah retardasi mental sulit, tetapi dokter menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan ibu hamil untuk mengurangi kemungkinan anak mereka menderita retardasi mental, antara lain:

  • Jangan atau berhenti merokok
  • Jangan minum alkohol saat hamil
  • Berkonsultasi dengan dokter secara teratur untuk memantau perkembangan janin
  • Konsumsi vitamin sesuai kebutuhan
  • Melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan penyakit

Sangat disarankan agar wanita yang merencanakan kehamilan menjalani tes genetik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit genetik sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan anak akan mewarisi kelainan tersebut.

Menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas dapat membantu mencegah retardasi mental akibat cedera kepala. Misalnya, menggunakan alat pelindung diri saat melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera, memakai sabuk pengaman saat berkendara, atau menggunakan pelampung yang kuat saat berenang.