Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Pankreas, Peradangan

Radang Otak

Radang otak, juga dikenal sebagai ensefalitis, adalah peradangan pada jaringan otak yang dapat menyebabkan gejala gangguan saraf, seperti penurunan kesadaran, kejang, atau kesulitan bergerak.

Infeksi virus, bakteri, atau jamur dapat menyebabkan radang otak. Anak-anak dan orang tua lebih rentan terhadap penyakit ini karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih lemah.

Radang otak, meskipun jarang terjadi, berpotensi menjadi serius dan mengancam nyawa, jadi deteksi dan penanganan segera diperlukan.

Penyebab Radang Otak

Sebagian besar, radang otak disebabkan oleh infeksi virus. Virus ini dapat menyerang otak secara langsung, yang disebut radang otak primer. Namun, infeksi virus juga dapat datang dari organ tubuh lain, yang disebut radang otak sekunder.

Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan radang otak, termasuk:

  • Virus herpes simpleks, yang menyebabkan herpes di mulut dan genital, serta herpes pada bayi
  • Virus varicella zoster, yang menyebabkan cacar air dan herpes zoster
  • Virus Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis
  • Virus yang menyebabkan campak (measles), gondongan (mumps), dan rubela
  • virus yang berasal dari hewan, seperti virus rabies dan virus nipah
  • Virus COVID-19, atau SARS-CoV-2,
  • virus encephalitis Jepang, penyebab encephalitis Jepang

Perlu diingat bahwa meskipun ensefalitis itu sendiri tidak menular, infeksi virus di atas juga dapat menular. Selain virus, radang otak juga dapat disebabkan oleh bakteri atau jamur.

Orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV atau orang yang mengonsumsi obat imunosupresif, lebih rentan mengalami radang otak atau ensefalitis.

Gejala Radang Otak

Radang otak, juga dikenal sebagai ensefalitis, dapat memulai dengan gejala ringan yang mirip dengan flu, seperti demam, sakit kepala, muntah, tubuh yang lelah, dan nyeri di otot dan sendi. Dengan waktu, radang otak dapat menyebabkan gejala yang lebih serius, seperti:

  • Demam dengan suhu lebih dari 39oC
  • Linglung
  • Halusinasi
  • Emosi tidak menentu
  • Gangguan penglihatan, pendengaran, atau bicara
  • Melemahnya otot
  • Keluhan pada wajah atau bagian tubuh lainnya
  • Kejang
  • Menurunnya kesadaran

Gejala radang otak pada bayi dan anak-anak biasanya tidak disadari karena mirip dengan gejala penyakit lain. Salah satu gejala yang mungkin terjadi adalah:

  • Mengalami mual dan muntah
  • Hilang keinginan untuk makan
  • Tubuh anak tampak kaku
  • Timbul tonjolan di ubun-ubun kepala
  • Sering rewel dan menangis
Saatnya ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala radang otak seperti yang disebutkan di atas atau jika Anda mengalami sakit kepala yang sangat parah yang disertai dengan demam tinggi.

Bayi dan anak-anak yang diduga mengalami radang otak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.

Obat antivirus harus dikonsumsi oleh penderita HIV agar penyakitnya dapat dikontrol dan mereka tidak tertular penyakit lain, seperti ensefalitis.

Obat imunosupresif harus diberikan dalam jangka panjang untuk beberapa penyakit, seperti penyakit autoimun. Konsultasikan dengan dokter tentang manfaat dan risiko obat tersebut, serta cara mencegah infeksi saat mengonsumsi obat tersebut.

Diagnosis Radang Otak

Karena gejala awal yang mirip dengan gejala flu, radang otak seringkali sulit terdiagnosis. Pada tahap awal pemeriksaan, dokter akan menanyakan gejala pasien dan kemudian melakukan pemeriksaan fisik.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui apakah pasien memiliki ensefalitis atau radang otak. Ini termasuk:

  • MRI atau CT scan
    Pemeriksaan pertama yang dilakukan dokter untuk mendeteksi radang otak adalah MRI atau CT scan. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan masalah seperti tumor atau pembengkakan yang menyebabkan peradangan di otak.
  • Lumbal pungsi
    Jenis virus yang menyebabkan infeksi diidentifikasi melalui pemeriksaan ini. Dokter akan memasukkan jarum ke tulang belakang untuk mengambil sampel cairan serebrospinal untuk diperiksa di laboratorium selama pemeriksaan lumbal pungsi.
  • Elektroensefalogram (EEG)
    Dokter melakukan pemeriksaan ini untuk memeriksa aktivitas listrik otak dan menemukan area otak yang terinfeksi.
  • Tes laboratorium
    Penyebab infeksi dapat dideteksi melalui beberapa tes laboratorium, seperti darah, urine, atau dahak.
  • Biopsi otak
    Tujuan dari prosedur ini adalah untuk mengidentifikasi virus melalui sampel jaringan otak. Prosedur ini hanya dilakukan jika gejala pasien semakin memburuk dan pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

Pengobatan Radang Otak

Keberhasilan pengobatan radang otak bergantung pada seberapa cepat pengobatan dilakukan.

Tujuan pengobatan radang otak adalah untuk mengidentifikasi sumber penyakit, mengurangi gejala, dan menghindari komplikasi. Terapi yang dapat diberikan oleh dokter saraf dapat mencakup:

Obat-obatan

Infeksi virus menyebabkan sebagian besar radang otak, jadi pengobatan utamanya adalah dengan obat antivirus seperti acyclovir dan ganciclovir. Namun, kedua obat ini hanya dapat menangani virus tertentu, seperti herpes simpleks dan varicella zooster.

Dokter akan memberikan obat antibiotik atau antijamur jika infeksi disebabkan oleh bakteri atau jamur.

Dokter juga akan memberikan obat lain yang membantu meredakan gejala, seperti:

  • Kortikosteroid, untuk menurunkan tekanan dan peradangan di kepala
  • Antikonvulsan, untuk mencegah kejang
  • Paracetamol, untuk mengobati demam dan nyeri
  • Obat penenang (sedatif) digunakan untuk menenangkan pasien yang mengalami masalah emosional atau mudah marah

Pasien juga akan diberikan infus cairan dan nutrisi untuk mencegah mereka dehidrasi dan memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Jika diperlukan, alat bantu napas juga akan diberikan.

Pengobatan radang otak dapat memakan waktu beberapa hari, minggu, atau berbulan-bulan, tergantung pada kondisi pasien.

Terapi khusus

Program rehabilitasi diperlukan jika penderitanya mengalami radang otak yang mempengaruhi kemampuan otak mereka untuk mengingat dan memahami sesuatu, atau menyebabkan mereka kesulitan berbicara atau mengendalikan tubuh mereka. Ada beberapa jenis perawatan yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Latihan atau fisioterapi untuk meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, dan kontrol saraf motorik
  • Terapi wicara untuk mengembalikan kemampuan otot yang mengatur bicara
  • Terapi okupasi membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari
  • Psikoterapi untuk membantu pasien mengatasi perubahan kepribadian dan mengendalikan emosi yang tidak stabil

Komplikasi Radang Otak

Usia penderita, penyebab infeksi, tingkat keparahan, dan kecepatan penanganan memengaruhi kemungkinan komplikasi radang otak.

Radang otak dapat menyebabkan kerusakan otak yang berlangsung lama, mungkin berbulan-bulan atau bahkan selamanya. Lokasi kerusakan pada otak juga berpengaruh pada jenis komplikasi yang terjadi.

Komplikasi ini mencakup:

  • Lumpuh
  • Gagal berbicara dan berkomunikasi
  • Penglihatan dan pendengaran yang terganggu
  • Kecemasan umum
  • Hilang memori
  • Disfungsi kepribadian
  • Kejang atau ayan

Radang otak yang parah dapat menyebabkan koma atau kematian.

Pencegahan Radang Otak

Perlindungan terhadap virus penyebab ensefalitis, salah satunya adalah vaksin MMR, melindungi dari campak, gondongan, dan rubella, yang semuanya dapat menyebabkan radang otak.

Untuk bayi dan balita, vaksinasi MMR sebaiknya diberikan dua kali: pada usia lima belas bulan dan lima tahun. Untuk individu yang belum menerima vaksin, vaksinasi MMR dapat diberikan kapan saja.

Jika Anda berencana bepergian ke daerah yang rentan terhadap infeksi, Anda juga akan diberikan vaksin MMR. Dalam hal ini, konsultasikan kembali dengan dokter Anda mengenai jenis vaksin yang tepat untuk Anda.

Selain mendapatkan vaksinasi, berikut adalah beberapa tindakan sederhana yang dapat Anda lakukan untuk menghindari penularan virus dan mengurangi risiko radang otak:

  • Pastikan untuk mencuci tangan secara teratur, terutama sebelum makan dan setelah mandi
  • tidak membagi alat makan dengan orang lain
  • Menggunakan losion antinyamuk atau mengenakan pakaian yang tertutup dapat membantu mencegah gigitan nyamuk