Salah satu dari sepuluh ibu yang melahirkan mengalami depresi postpartum, juga dikenal sebagai depresi postpartum, yang terjadi setelah melahirkan dan disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia di otak ibu.
Meskipun ada beberapa orang yang percaya bahwa depresi pasca persalinan sama dengan baby blues, ini tidak benar. Baby blues adalah perubahan emosi (mood swing) yang biasanya menyebabkan ibu menangis terus-menerus dan cemas, yang menyebabkan kesulitan tidur selama beberapa hari hingga dua minggu setelah kelahiran bayi.
Dibandingkan dengan baby blues, depresi pasca persalinan membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak menjadi ibu yang baik, dan bahkan tidak mau mengurus anak mereka.
Tidak hanya ibu yang dapat mengalami depresi pasca persalinan, tetapi ayah juga dapat mengalaminya. Pada ayah, depresi pasca persalinan paling sering muncul antara 3 dan 6 bulan setelah kelahiran bayi, dan ayah lebih rentan mengalami kondisi tersebut jika istrinya juga mengalaminya.
Penyebab Postpartum Depression
Depression pasca persalinan biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan emosional, bukan satu.
Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron ibu akan turun drastis. Perubahan kimia di otak menyebabkan perubahan suasana hati.
Selain itu, mengasuh bayi dapat membuat ibu tidak memiliki waktu istirahat yang cukup untuk pulih setelah melahirkan. Kurangnya istirahat dapat menyebabkan ibu kelelahan secara fisik dan emosional, yang pada gilirannya dapat menyebabkan depresi pascamelahirkan.
Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan kemungkinan mengalami depresi postpartum, seperti:
- Pernahkah Anda mengalami depresi sebelum atau selama kehamilan?
- Gangguan bipolar
- Memiliki seorang anggota keluarga yang depresi
- Menggunakan narkotika dan zat berbahaya lainnya
- Problem dengan menyusui
- Hamil muda dan memiliki banyak anak
Jika ibu yang baru melahirkan mengalami peristiwa yang menyebabkan stres, risiko depresi pascapersalinan juga akan meningkat:
- hilangnya pekerjaan
- masalah keuangan
- Konflikt keluarga
- Komplikasi kehamilan
- Kelahiran dua anak sekaligus
- Anak yang lahir dengan penyakit tertentu
Gejala Postpartum Depression
Depression postpartum, juga dikenal sebagai postnatal depression, dapat muncul pada awal kehamilan, beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir.
- Merasa lelah atau tidak bertenaga dengan cepat
- Mudah menjadi marah dan tersinggung
- Menangis setiap saat
- Gelisah tanpa alasan jelas
- Mengalami perubahan emosi yang signifikan
- Hilang keinginan untuk makan atau makan lebih banyak dari biasanya
- susah tidur atau terlalu banyak tidur
- Sulit untuk memikirkan dengan jelas, berkonsentrasi, atau membuat keputusan
- Enggan berinteraksi dengan teman dan keluarga
- Kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya dia sukai
- Putus harapan
- Berpikir untuk melukai bayinya atau dirinya sendiri
- Pikiran tentang kematian dan keinginan untuk bunuh diri
Saatnya ke dokter
Seorang ibu yang baru melahirkan mungkin merasa lelah, cemas, dan kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ini adalah perasaan yang wajar. Perubahan kimia di otak dan penurunan hormon adalah penyebabnya.
Namun, jika Anda terus mengalami depresi hingga lebih dari dua minggu setelah melahirkan, segera konsultasikan dengan dokter Anda. Ini terutama benar jika perasaan tersebut membuat Anda kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari dan menjaga bayi Anda.
Meskipun gejala tidak muncul setelah persalinan, penderita depresi postpartum harus tetap melakukan kontrol rutin ke dokter. Ini karena pengobatan depresi pasca persalinan dapat berlangsung hingga beberapa bulan.
Diagnosis Postpartum Depression
Dokter akan melakukan wawancara mendalam tentang perasaan dan pikiran pasien selain menanyakan gejalanya untuk memastikan bahwa pasien tidak mengalami depresi pascamelahirkan.
Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi gejala depresi postpartum, seperti mencari mata panda sebagai tanda kesulitan tidur pasien atau bekas luka yang dapat menunjukkan perilaku melukai diri sendiri. Pemeriksaan fisik juga bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda penyakit lain.
Selanjutnya, dokter akan meminta pasien untuk menjalani skrining depresi pasca persalinan. Selama skrining ini, pasien akan diminta untuk menjawab kuesioner yang bertanya tentang gejala yang mereka alami dan perubahan yang terjadi pada dirinya sejak persalinan.
Dokter dapat melakukan tes penunjang selain skrining depresi pascamelahirkan jika diduga bahwa gejala pasien disebabkan oleh penyakit lain. Misalnya, dokter dapat melakukan tes darah untuk mengetahui apakah gejala pasien disebabkan oleh kelenjar tiroid yang kurang aktif.
Pengobatan Postpartum Depression
Semua orang yang mengalami depresi pasca persalinan harus mendapatkan perawatan, meskipun jangka waktu pengobatan dapat berbeda untuk masing-masing individu. Secara umum, pengobatan termasuk penggunaan obat-obatan dan psikoterapi, serta dukungan keluarga.
Psikoterapi bertujuan untuk membantu pasien berbicara tentang apa yang mereka pikirkan atau rasakan dan membantu mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Terkadang, psikoterapi membutuhkan partisipasi pasangan atau anggota keluarga pasien untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.
Dokter juga dapat memberi tahu pasien dan keluarga mereka tentang kondisi emosional mereka, dan meminta mereka untuk bergabung dengan kelompok dukungan emosional jika diperlukan. Jika diperlukan, dokter juga dapat meresepkan obat anticemas dan antidepresan.
Komplikasi Postpartum Depression
Depression postpartum dapat memengaruhi ibu, ayah, dan anak. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan masalah dalam keluarga.
Komplikasi pada ibu
Depresi pascamelahirkan yang tidak tertangani dan berlangsung lama dapat berkembang menjadi gangguan depresif kronis, yang meningkatkan risiko terkena depresi berat di kemudian hari.
Komplikasi pada ayah
Ayah juga memiliki kemungkinan yang lebih tinggi mengalami depresi pascamelahirkan daripada ibu.
Komplikasi pada anak
Anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan emosional. Akibatnya, anak itu tidak mau makan, menangis terus menerus, dan tidak dapat berbicara.
Pencegahan Postpartum Depression
Meskipun depresi pascamelahirkan tidak dapat dicegah, dokter dapat memantau kondisi ibu dengan melakukan kontrol rutin setelah melahirkan. Dokter dapat memantau kondisi ibu, terutama jika ibu sebelumnya pernah mengalami depresi atau depresi pascamelahirkan.
Dokter dapat merekomendasikan konseling dan penggunaan antidepresan untuk membantu ibu menghindari depresi postpartum selama kehamilan dan setelah melahirkan.
Jika ibu menghadapi masalah, mereka juga harus berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan masalah, atau berdamai dengan teman, pasangan, atau keluarga mereka.