Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Depresi, Gangguan Kejiwaan

Psikosis

Munculnya halusinasi dan waham, juga dikenal sebagai delusi, adalah tanda psikosis.

Gangguan mental, penyalahgunaan obat-obatan, atau cedera kepala dapat menjadi penyebab psikosis, yang mengubah cara otak memproses informasi. Kondisi ini dapat mengubah sikap, perilaku, dan cara pikiran seseorang.

Psikosis dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderita dan hubungannya dengan orang lain. Akibatnya, masalah ini harus ditangani dengan tepat. Obat dan psikoterapi adalah caranya.

Penyebab Psikosis

Bagaimana psikosis muncul pada gangguan mental belum diketahui. Namun, psikosis adalah salah satu gejala gangguan mental yang juga dikenal sebagai episode psikotik.

Jenis penyakit mental berikut dapat menimbulkan gejala psikosis:

  • Schizophrenia
  • Depresi kronis
  • Penyakit bipolar
  • Penyakit delusi

Psikosis bukan hanya penyakit mental, tetapi juga kondisi medis tertentu yang disebabkan oleh gangguan pada otak. Penyakit-penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi di otak, seperti:

  • Penyakit Parkinson (PDD)
  • Serangan Huntington
  • HIV dan AIDS
  • Sipilis
  • Malaria
  • Kondisi Alzheimer
  • Lupus
  • Multisclerosis
  • Cedera pada otak
  • Tumor atau kanker yang terjadi di otak
  • Perdarahan
  • Epileptik
  • Demensia

Faktor risiko psikosis

Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, beberapa faktor diduga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami psikosis:

  • memiliki sejarah gangguan jiwa atau psikosis dalam keluarga
  • Mengalami peristiwa traumatis, seperti mengalami pelecehan seksual atau kematian orang terdekat
  • Pernah melakukan penyalahgunaan NAPZA atau alkohol
  • Pernah mengalami penyakit fisik atau mental yang membutuhkan perawatan jangka panjang
  • Pernah menjalani kemoterapi baru-baru ini

Gejala Psikosis

Kemunculan delusi dan halusinasi progresif adalah gejala utama psikosis. Keluhan ini mungkin tidak sembuh sepenuhnya, meskipun kadang-kadang dapat mereda.

Psikosis dapat menyebabkan waham, atau delusi, yang didefinisikan sebagai keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang tidak nyata. Berikut adalah beberapa jenis waham yang dapat terjadi:

  • Waham erotomania, yang berarti bahwa seseorang yang berpengaruh atau terkenal mencintai seseorang yang menderita
  • Waham kebesaran, yang ditandai dengan keyakinan bahwa penderita adalah orang yang cerdas, kuat, atau berpengaruh
  • Waham cemburu, yang dapat membuat seseorang percaya bahwa pasangannya tidak setia tanpa bukti
  • Waham aneh, yang dapat membuat penderita percaya pada hal-hal aneh dan tidak masuk akal
  • Waham “kejar” atau “curiga”, yang menunjukkan bahwa seseorang memata-matai atau bermaksud menyakiti atau mencelakai orang yang menderita
  • Waham somatik adalah keyakinan yang dipegang oleh penderita bahwa mereka menderita penyakit atau kelainan bentuk fisik, seperti kehamilan palsu

Ketika seseorang menderita waham, mereka mungkin memiliki lebih dari satu jenis waham. Kondisi ini dikenal sebagai waham campuran.

Namun, halusinasi adalah gangguan persepsi yang membuat orang yang menderita psikosis melihat, mendengar, merasakan, atau mencium sesuatu yang tidak ada dan tidak dialami oleh orang lain. Objek-objek yang dialami penderita dalam halusinasi biasanya terkait dengan waham yang ia alami.

Jenis penyakit mental yang dialami penderita sering kali memengaruhi gejala psikosis atau episode psikotik yang muncul. Sebagai contoh, orang dengan gangguan bipolar lebih cenderung memiliki waham kebesaran daripada orang dengan depresi atau skizofrenia.

Selain delusi dan halusinasi, gejala psikosis termasuk:

  • Bicara terlalu banyak dan tidak masuk akal
  • kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
  • Gangguan mood, seperti depresi, mood swing, atau mania
  • Tidak jelas
  • masalah tidur
  • Kehilangan semangat dan nafsu makan
  • Sulit untuk fokus
  • Bingung
  • keinginan untuk menyakiti diri atau bunuh diri
Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami gejala psikosis, pergi ke dokter atau psikiater. Ini terutama berlaku untuk keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Jika ada anggota keluarga Anda yang tampaknya berperilaku aneh, kacau, atau tidak terkendali, konsultasikan mereka dengan dokter.

Untuk memantau perkembangan kesehatan Anda, lakukan kontrol rutin ke dokter jika Anda terdiagnosis psikosis.

Diagnosis Psikosis

Dokter akan menanyakan tentang gejala pasien dan riwayat penyakit sebelumnya, terutama gangguan jiwa, untuk mendiagnosis psikosis.

Dokter juga mungkin menilai sifat dan kepribadian pasien, termasuk perilaku, pola pikir, dan caranya menghadapi masalah. Setelah itu, mereka mungkin melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah gejala pasien berasal dari penyakit atau cedera otak.

Untuk memastikan diagnosis psikosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut:

  • Tes darah untuk mengetahui apakah gejala disebabkan oleh penyakit fisik, kecanduan alkohol, atau penggunaan obat-obatan terlarang
  • scanning computerized tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengevaluasi kemungkinan penyakit otak
  • Untuk mengevaluasi aktivitas listrik otak melalui EEG dan menentukan apakah gejala yang disebabkan oleh epilepsi

Pengobatan Psikosis

Orang yang menderita psikosis harus mendapatkan pengobatan segera untuk mencegah gejalanya menjadi lebih buruk. Jenis pengobatan yang diberikan tergantung pada sumber psikosis.

Beberapa metode pengobatan berikut:

Obat-obatan

Untuk membantu meringankan gejala utama, seperti delusi dan halusinasi, dokter akan memberikan obat antipsikotik. Antipsikotik mempengaruhi senyawa kimia otak (neurotransmitter), terutama dopamin. Antipsikotik dapat diberikan secara oral atau melalui suntikan.

Obat antipsikotik yang dapat digunakan untuk mengobati psikosis termasuk:

  • Halloperidol
  • Chlorpromazine
  • Perphenazine
  • Benzopiprazole
  • Aripiprazole
  • Risperidon
  • Quetiapine
  • Olanzapine
  • Clozapine

Dokter mungkin meresepkan antidepresan atau antimania, juga dikenal sebagai mood stabilizers, untuk meredakan depresi dan mania yang sering terjadi pada penderita psikosis.

Jika pasien menunjukkan gejala yang dapat mengancam dirinya atau orang lain, dokter juga akan menyuntikkan obat penenang, seperti reserpine atau haloperidol dalam suntikan.

Psikoterapi

Dokter juga akan menyarankan pasien untuk mengambil psikoterapi selain obat-obatan. Ini dilakukan dengan tujuan mengubah perilaku dan pemikiran pasien dan mengurangi kecemasan mereka, sehingga pasien dapat beraktivitas kembali.

Beberapa teknik psikoterapi yang dapat digunakan dalam pengobatan psikosis adalah:

1. Terapi perilaku kognitif

Untuk membantu pasien memahami kondisi mereka, terapi perilaku kognitif membantu mereka memahaminya. Tujuannya adalah pasien dapat mengendalikan gejalanya dan beraktivitas sehari-hari.

2. Terapi keluarga

Keluarga pasien psikosis membutuhkan bantuan untuk mengatasi gejalanya, tetapi keluarga juga membutuhkan dukungan informasi dan emosional.

Tujuan terapi keluarga adalah agar orang tua dan keluarga mengetahui pilihan pengobatan psikosis dan bagaimana mendukung pasien ketika gejalanya kambuh. Terapi keluarga juga membantu keluarga menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh pasien ketika gejalanya kambuh.

3. Terapi grup

Pasien psikosis dapat bergabung dengan orang lain yang mengalami kondisi yang sama. Tujuannya adalah untuk memberi pasien pemahaman yang lebih baik tentang kondisinya dan untuk belajar bagaimana mencegah dan meredakan gejala psikosis. Psikolog atau psikiater biasanya memimpin kelompok ini.

4. Terapi peningkatan kognitif

Tujuan terapi ini adalah untuk membantu pasien berpikir dan memahami sesuatu secara lebih baik melalui kerja kelompok dan penggunaan komputer.

5. Perawatan khusus terkoordinasi

Perawatan khusus terkoordinasi diharapkan dapat membantu pasien untuk beraktivitas seperti biasa karena terapi ini menggabungkan pengobatan, psikoterapi, dan dukungan untuk melanjutkan pekerjaan atau pendidikan.

Komplikasi Psikosis

Penderita psikosis berisiko menelantarkan dirinya sendiri jika tidak diobati dengan tepat. Kondisi ini membuat penderita rentan melakukan hal-hal yang ceroboh atau berbahaya, seperti menyalahgunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Penderita psikosis juga dapat mengalami halusinasi atau delusi yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang berbahaya. Sebagai contoh, halusinasi pendengaran dapat menyuruh penderita untuk bunuh diri atau melakukan hal lain yang berbahaya.

Pencegahan Psikosis

Tidak ada cara untuk mencegah penyakit psikologis, tetapi Anda dapat mengurangi kemungkinan terkena penyakit ini dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Mengobati kondisi medis yang berpotensi menyebabkan psikosis
  • Menghindari merokok, minum alkohol terlalu banyak, atau menyalahgunakan NAPZA
  • Berbicara tentang hal-hal yang menyebabkan trauma atau cemas kepada teman, keluarga, atau psikolog
  • Untuk mengurangi stres, berendam dengan air hangat, mendengarkan musik, atau tidur
  • Beristirahat cukup dan tidur cukup
  • Berolahraga dengan rutin dan teratur