Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Anemia

Anemia Hemolitik

Pengertian anemia hemolitik

Fungsi Sel darah merah mempunyai peran penting untuk mensuplai oksigen dari paru-paru ke jantung dan seluruh jaringan tubuh. Peran serta sumsum tulang sangat vital dalam Menghasilkan sel darah merah.

Ketika terjadi penghancuran sel darah merah yang lebih cepat dari kekuatan sumsum tulang untuk Menghasilkan sel darah merah, kondisi ini disebut sebagai anemia hemolitik.

Anemia hemolitik tumbuh melalui beberapa prosedur, bagai limpa menekan dan menghancurkan sel darah merah, atau reaksi autoimun terjadi.

Rusaknya sel darah merah terjadi akibat penyakit autoimun, efek samping obat-obatan, infeksi, tumor, leukemia, atau limfoma. Sedangkan, anemia hemolitik terjadi apabila sel darah merah yang buat oleh tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Kondisi ini dapat diturunkan, kepada sesorang dengan anemia sickle cell atau talasemia. Adanya ketidaknormalan metabolik pada sesorang dengan defisiensi G6PD atau adanya ketidakstabilan membran sel darah bisa memicu terjadinya kondisi tersebut.

Anemia hemolitik dan penyakit yang mendasarinya

Anemia hemolitik dipicu oleh beberapa jenis penyakit atau konsumsi obat dari pengobatan definitif. Beberapa pencetus yang mendasari terjadinya anemia hemolitik ekstrinsik adalah hepatitis, toksin E.coli, pembesaran limpa, leukemia, virus Epstein-Barr, demam tifoid, llupus, imfoma, tumor, dan berbagai kondisi kesehatan lainnya.

Penyebab anemia hemolitik bukan saja karena penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi karena konsumsi obat-obatan jenis tertentu.

Anemia hemolitik yang berat Salah satu nya akibat memperoleh transfusi darah dengan golongan darah yang tidak cocok. Karena setiap orang memiliki golongan darah tertentu (A, B, AB, atau O).

Bila seseorang memperoleh transfusi darah dengan golongan darah yang tidak betul, sistem pertahanan di dalam tubuh dapat menyerang sel darah merah yang asing ini. Hasil dari proses ini adalah penghancuran sel darah merah dengan cepat, dan sangat berbahaya.

Maka dari itu, sebelum melakukan transfusi darah pemeriksaan golongan darah penting untuk dilakukan.

Sebab terjadinya anemia hemolitik

Penyebab anemia hemolitik bisa terjadi dari berbagai sebab, setiap individu dapat membuktikan gejala serta tanda yang berbeda. Tetapi, ada juga tanda dan gejala yang tampak pada sebagian besar individu dengan anemia hemolitik.

Beberapa tanda serta gejala dari anemia hemolitik hampir mirip dengan tanda dan gejala anemia secara umum. Seperti gejala dan tanda yang tampak sama anemia secara umum adalah:

  • Kulit pucat
  • Letih, lesu dan lelah yang berlebihan
  • Pusing
  • Demam
  • Kebingungan
  • Ketidakmampuan melakukan aktivitas fisik akibat terlalu lemah

Bergantung dari penyebabnya Beberapa tanda dan gejala yang dapat tampak pada anemia hemolitik adalah:

  • Warna urine yang gelap
  • Kulit dan bagian putih pada mata (sklera) berwarna kekuningan
  • Detak jantung tidak normal
  • Terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung
  • Limpa membesar
  • Hati membesar

Diagnosisi anemia hemolitik

Anamesis atau tanya jawab medis yang menyeluruh, untuk menentukan diagnosis dari anemia hemolitik, pemeriksaan fisik, juga pemeriksaan penunjang tertentu.

Ketika mengadakan eksploras fisik, dokter dapat memverifikas adanya kulit yang tampak pucat atau kekuningan.

Pemeriksaan perut juga dilakukan untuk menguji adanya pembesaran hati atau limpa. Jika dokter menyangka terdapatnya anemia, akan dilakukan penyidikan penunjang.

Berikut beberapa pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis anemia hemolitik:

  • Uji coba fungsi hati
  • Pemeriksaan untuk menakar kadar sel darah merah yang dipecahkan oleh hati (Bilirubin)
  • Pemeriksaan untuk menakar jumlah sel darah merah (Hemoglobin)
  • Pemeriksaan untuk menakar jumlah sel darah merah yang diproduksi oleh tubuh (Hitung retikulosit)

Jikalau tanda dan gejala yang dialami dapat berkaitan dengan anemia hemolitik intrinsik, dokter dapat melakukan penyidikan sampel darah dibawah mikroskop untuk menguji bentuk dan ukuran dari sel darah merah.

Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan urine juga dilakukan. Guna memeriksa adanya sel darah merah. Bila diperlukan, dokter akan Menganjurkan untuk dilakukan biopsi atau aspirasi sumsum tulang.

Pengobatan anemia hemolitik

Penyelesaian dari anemia hemolitik berpegang dari penyebab yang mendasari terjadinya anemia tertera, usia, status kesehatan, derajat keparahan dari kondisi yang dialami, dan beberapa faktor lainnya.

Beberapa pilihan penyelesaian pada anemia hemolitik mencakup:

  • Transfusi darah, dapat dilakukan untuk menaikkan hitung sel darah merah guna mengganti sel darah merah yang hilang dengan sel darah merah yang baru.
  • Imunoglobulin intravena dapat diberikan di rumah sakit untuk membantu mencegah sistem daya tahan tubuh yang menyebabkan rusaknya sel darah merah.

Namun bila anemia hemolitik ekstrinsik dicurigai oleh penyebab autoimun, dokter dapat memperhitungkan untuk meresepkan pengobatan kortikosteroid.

Metode pengobatan ini dapat mencegah produksi antibodi dari sistem daya tahan tubuh yang berpotensi merusak sel darah merah.

Pada kasus yang berat, dibutuhkan pengangkatan limpa, organ di mana sel darah merah mengalami kerusakan. Pengangkatan limpa dapat menangguhkan kerusakan sel darah merah.

Pembedahan biasanya dipertimbangkan sebagai salah satu opsi apabila pasien tidak menunjukkan respons yang baik terhadap kortikosteroid atau imunosupresan.

Pencegahan anemia hemolitik

Karena bervariasinya penyebab dari anemia hemolitik, belum ada kaidah yang teruji efektif secara keseluruhan dalam menghindari timbulnya kondisi ini.

Namun beberapa jenis anemia hemolitik dapat bendung, seperti anemia akibat reaksi terhadap transfusi darah, yang dapat dihindari dengan cara selalu melakukan pelacakan kepantasan golongan darah antara pendonor dan penerima sebelum melakukan transfusi darah.