Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Abses, Alergi, Anemia, Batuk, Diabetes, Gangguan Otak, Kesehatan Gigi, Kesehatan Tenggorokan, Obesitas, Penyakit Jantung, Radang Sendi, Uncategorized

Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan sistem saraf yang menyebabkan penderitanya mengantuk terlalu banyak di siang hari, membuat mereka tertidur secara tiba-tiba tanpa tahu kapan dan di mana. Akibatnya, mereka dapat terjatuh atau mengalami kecelakaan.

Jika narkolepsi disertai dengan gejala lain, seperti paralisis tidur, halusinasi, dan katapleksi, katapleksi adalah kelemahan atau kehilangan kendali atas otot wajah, leher, dan lutut.

Narkolepsi tipe 1 disertai katapleksi, sedangkan narkolepsi tipe 2 tidak.

Narkolepsi adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan yang berlangsung lama atau kronis. Namun, gejalanya dapat dikelola dengan baik melalui pengobatan dan penerapan pola hidup yang sehat.

Penyebab Narkolepsi

Meskipun penyebab narkolepsi belum diketahui secara pasti, sebagian besar penderita memiliki kadar hipokretin rendah. Dalam otak, hipokretin, atau oreksin, mengontrol waktu tidur. Penyakit autoimun diduga menjadi penyebab kekurangan hipokretin ini.

Selain penyakit autoimun, narkolepsi dapat disebabkan oleh kondisi yang merusak bagian otak yang menghasilkan hipokretin, seperti:

  • Tumor dalam otak
  • Cedera pada kepala
  • Radang otak, juga disebut ensefalitis
  • Multisclerosis

Faktor-faktor berikut dapat meningkatkan kemungkinan terkena narkolepsi atau memicu penyakit autoimun yang menyebabkan narkolepsi:

  • Usia antara 10 dan 30 tahun
  • Kelainan keturunan
  • Perubahan tiba-tiba dalam rutinitas tidur
  • Perubahan hormon, khususnya selama pubertas atau menopause
  • Infeksi, misalnya bakteri streptokokus atau flu babi
  • Stress

Gejala Narkolepsi

Gejala narkolepsi dapat muncul dalam beberapa minggu atau berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun. Berikut ini adalah gejala yang paling umum:

1. Kantuk yang berlebihan pada siang hari

Pada siang hari, penderita narkolepsi selalu mengantuk, sulit terjaga, dan sulit berkonsentrasi.

2. Serangan tidur

Penderita narkolepsi dapat mengalami serangan tidur, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja secara tiba-tiba. Dalam kasus di mana narkolepsi tidak terkendali, serangan tidur dapat terjadi beberapa kali setiap hari.

3. Katapleksi

Melemahnya tungkai, penglihatan ganda, kepala lunglai, rahang turun, dan bicara cadel adalah tanda melemahnya otot secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat terjadi selama beberapa detik hingga menit dan biasanya disebabkan oleh emosi tertentu, seperti terkejut, marah, atau tertawa.

4. Ketindihan (sleep paralysis)

Ketika penderita tidak mampu bergerak atau berbicara saat hendak terbangun atau mulai tertidur, ini disebut sebagai kondisi ini.

5. Halusinasi

Mereka yang menderita narkolepsi kadang-kadang memiliki kemampuan untuk melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata, terutama saat mereka tidur atau bangun.

Narkolepsi dapat menyebabkan gejala tambahan selain yang disebutkan di atas.

  • gangguan memori
  • Sakit di kepala
  • Depression
  • Binge eating disorder 
  • Lelah ekstrim yang tidak pernah hilang

Narkolepsi tidak sama dengan hipersomnia. Penderita hipersomnia masih dapat terjaga walaupun mereka sangat lelah, dan mereka tidak mengalami katapleksi, halusinasi, atau paralisis tidur.

Tidak seperti orang normal, penderita narkolepsi tidur dalam dua fase: fase REM (gerakan cepat mata) dan fase non-REM.

Fase non-REM

Fase non-REM terdiri dari tiga tahap, yang masing-masing berlangsung antara 5 dan 15 menit. Tahap-tahap ini adalah:

  • Tahap pertama, ketika mata tertutup, orang dapat dibangunkan.
  • Tahap kedua menunjukkan bahwa tubuh siap untuk fase tidur yang lebih nyenyak, yang ditunjukkan oleh penurunan suhu dan detak jantung.
  • Tahap ketiga adalah ketika orang yang tertidur menjadi lebih sulit untuk dibangunkan. Mereka mungkin merasa linglung selama beberapa menit setelah dibangunkan.
Fase REM

Setelah seseorang tertidur selama 90 menit, fase REM terjadi, di mana detak jantung dan napas menjadi lebih cepat. Fase non-REM berganti dengan fase REM.

Tahap pertama fase REM biasanya berlangsung sepuluh menit. Tahap berikutnya kemudian meningkat lebih lama hingga tahap terakhir, yang dapat berlangsung hingga satu jam.

Sementara orang normal memulai fase non-REM saat tertidur, penderita narkolepsi langsung memasuki fase REM saat mereka bersiap untuk tidur atau saat terbangun dan beraktivitas. Inilah yang menyebabkan gejala narkolepsi.

Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami rasa kantuk berlebihan pada siang hari yang mengganggu aktivitas sehari-hari atau jika gejala baru muncul atau tidak membaik setelah pengobatan, Anda harus pergi ke dokter.

Diagnosis Narkolepsi

Dokter pertama-tama akan memeriksa riwayat medis pasien dan keluarganya, serta gejala dan kebiasaan tidur mereka.

Selain pemeriksaan fisik, seperti tes tekanan darah dan tes darah, dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis:

1. Epworth Sleepiness Scale(ESS)

Dokter akan menggunakan kuesioner untuk mengetahui seberapa sering pasien tertidur saat melakukan hal-hal tertentu, seperti duduk, membaca, atau menonton TV. Hasil dari kuesioner ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mendiagnosis pasien dan menentukan seberapa parah kondisinya.

2. Polisomnografi

Metode ini memungkinkan dokter untuk mengamati aktivitas listrik di otak, jantung, otot, dan mata saat pasien tidur melalui elektroensefalografi, elektrokardiografi, dan elektrookulografi. Permukaan tubuh pasien ditempatkan elektroda untuk melakukan pemeriksaan ini.

3. Multiple Sleep Latency Test(MSLT)

MSLT bertujuan untuk mengetahui berapa lama pasien perlu tidur pada siang hari. Pasien akan diminta untuk tidur sebanyak 4 hingga 5 kali, dan dokter akan menghitung berapa lama pasien perlu mulai tertidur dan apakah pasien dapat memasuki fase REM saat tertidur.

Sangat mungkin pasien menderita narkolepsi jika mereka dapat tidur dengan mudah dan cepat memasuki fase tidur REM.

4. Pengukuran tingkat hipokretin

Untuk melakukan pemeriksaan ini, sampel cairan serebrospinal, atau cairan otak dan tulang belakang, yang diambil melalui prosedur pungsi lumbal (menyedot cairan dari tulang punggung bagian bawah dengan jarum) dipelajari.

Pengobatan Narkolepsi

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan narkolepsi sepenuhnya. Namun, dokter dapat menawarkan penanganan untuk menjaga pasien tetap terjaga dan mengurangi gejalanya sehingga mereka dapat dikendalikan sehingga aktivitas mereka tidak terganggu.

Dokter akan memberikan obat-obatan kepada pasien jika gejalanya cukup parah. Jenis obat yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, usia, riwayat penyakit pasien, kondisi kesehatan umum, dan potensi efek samping.

Untuk mengurangi gejala narkolepsi, beberapa jenis obat termasuk:

  • Methylphenidate adalah contoh stimulan yang merangsang sistem saraf pusat, yang membantu pasien tetap terjaga pada siang hari
  • Untuk meredakan gejala katapleksi, antidepresan trisiklik seperti protriptyline
  • Jenis antidepresan SSRI atau SNRI yang membantu meringankan gejala katapleksi, halusinasi, dan paralisis tidur dengan menekan fase REM tidur
  • Natrium oksibat, untuk menghindari katapleksi dan meredakan kantuk pada siang hari
  • Pitolisant, untuk meredakan rasa kantuk pada siang hari dengan membantu melepaskan zat histamin dari otak

Komplikasi Narkolepsi

Penderita narkolepsi dapat mengalami efek samping yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka. Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Obesitas
    Pola makan yang berlebihan dan kurang gerak akibat sering tertidur dapat menyebabkan obesitas.
  • Penilaian negatif dari lingkungan sosial
    Narkolepsi dapat membuat penderitanya mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitarnya; contohnya, karena sering tertidur, penderita mungkin dianggap pemalas.
  • Cedera
    Serangan tidur terjadi di saat yang tidak tepat, misalnya ketika mengemudi atau memasak, dan ini dapat meningkatkan risiko cedera.
  • Gangguan konsentrasi dan daya ingat
    Narkolepsi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan daya ingat, yang membuat sulit bagi penderita untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang terkait dengan sekolah atau kantor.

Dengan berolahraga secara teratur untuk mencegah obesitas, menghindari mengemudi atau mengoperasikan alat berbahaya agar terhindar dari cedera, dan memberikan penjelasan kepada orang lain tentang kondisi yang dialami untuk menghindari penilaian negatif, komplikasi narkolepsi dapat dihindari.

Pencegahan Narkolepsi

Narkolepsi tidak dapat dicegah, tetapi pengobatan rutin dapat membantu mengurangi jumlah serangan tidur yang mungkin terjadi. Selain itu, gejala narkolepsi ringan juga dapat dicegah dengan mengubah cara tidur seseorang.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk meningkatkan kualitas tidur Anda pada malam hari dan mengurangi rasa kantuk pada siang hari:

  • Setidaknya 30 menit setiap hari harus dihabiskan untuk berolahraga, tetapi jangan terlalu dekat dengan waktu tidur.
  • Saat Anda sangat mengantuk, cobalah tidur siang selama dua puluh hingga tiga puluh menit.
  • Usahakan untuk menjaga jam bangun pagi dan tidur malam yang sama setiap hari.
  • Jangan makan banyak dan makanan berlemak sebelum tidur.
  • Hindari merokok sebelum tidur dan jangan minum apa pun yang berkafein atau beralkohol.
  • Sebelum tidur, membaca atau mandi dengan air hangat adalah cara untuk meredakan pikiran.
  • Buat suasana dan suhu di dalam kamar menjadi senyaman mungkin.