Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Anemia

Anemia Defisiensi Besi

Apa itu anemia defisiensi besi

Tipe anemia satu ini adalah Anemia defisiensi besi ialah salah satu tipe anemia yang sering sekali terjadi. Sesuai dengan namanya, anemia defisiensi besi penyebabnya adalah kekurangan zat besi di dalam tubuh.

Kekurangan zat besi dalam jumlah yang cukup, tubuh tidak bisa memproduksi suatu hal dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mensuplai oksigen, yang biasa disebut hemoglobin. Akibat anemia defisiensi besi dapat membuat seseorang merasa sesak napas dan lelah.

Anemia defisiensi besi dapat diperbaiki dengan suplementasi zat besi. Ada kalanya, pemeriksaan dan tindakan lebih untuk anemia defisiensi besi diperlukan, terutama bila dokter menduga terdapatnya perdarahan internal di dalam tubuh.

Penyebab anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi disebabkan jika tubuh tidak terdapat zat besi yang cukup untuk memproduksi hemoglobin. Hemoglobin adalah bagian dari sel darah merah yang mendukung warna merah pada darah yang memungkinkan sel darah merah untuk menghantarkan darah yang teroksigenasi ke berbagai jaringan tubuh.

Orang yang tidak mengonsumsi zat besi yang cukup akan mengalami kehilangan zat besi yang berlebih, tubuh tidak akan bisa menghasilkan hemoglobin dalam jumlah yang dibutuhkan, maka munculah anemia defisiensi besi

Penyebab dari anemia defisiensi besi dapat mencakup
  • Darah yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah akan kegilangan. Maka dari itu, jika seseorang kehilangan darah, zat besi akan berkurang.
  • Pengeluaran darah berlebih saat menstruasi dapat berisiko terjadinya anemia defisiensi besi.
  • Kehilangan darah yang perlahan dan kronis, misalnya akibat dari kanker kolorektal, ulkus peptikum atau polip usus besar, dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
  • Dampak dari konsumsi obat-obatan jenis tertentu juga dapat Perdarahan saluran cerna.

Pada individu yang mengonsumsi zat besi dalam jumlah sedikit, dapat terjadi defisiensi zat besi seiring dengan berjalannya waktu, Karena tubuh mendapatkan zat besi secara reguler dari makanan yang dikonsumsi.

Makanan yang kaya zat besi adalah sayuran hijau daging dan telur, dan makanan yang diperkuat dengan zat besi. Untuk pertambahan dan kemajuan yang kuat, anak juga membutuhkan zat besi dalam diet sehari-hari.

Keterpenuhan zat besi

Ketidakcukupan untuk meresap zat besi. Zat besi dari makanan diserap ke aliran darah melalui usus halus. Adanya gangguan tertentu pada usus, seperti penyakit celiac, yang memengaruhi kesanggupan usus dalam penyerapan zat gizi dari makanan yang sudah dicerna, dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Jika separuh dari usus halus sudah diangkat dengan cara operasi, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan untuk menyerap zat besi dan zat gizi lainnya.

Tidak ada asupan suplement zat besi, anemia defisiensi besi juga bisa terjadi pada wanita hamil karena sisa zat besi yang disimpan dalam tubuh diperlukan untuk Menandingi pengembangan volume darah untuk menjadi Asal Muasa hemoglobin pada janin yang akan berkembang.

Beberapa golongan orang mempunyai risiko yang lebih lanjut untuk menghadapi anemia defisiensi besi, adalah:

  • Wanita. Karena mengalami kehilangan banyak darah ketika haid, risiko lebih besar pada wanita untuk mengalami anemia defisiensi besi yang lebih tinggi dibandingkan pria.
  • Anak-anak. Terutama dengan bawaan berat badan saat lahir yang rendah atau lahir prematur, atau tidak memperoleh zat besi yang cukup dari ASI atau susu formula, rentan sekali untuk mengalami anemia defisiensi besi. Selain itu, untuk proses pertumbuhan, anak juga membutuhkan zat besi yang lebih.
  • Tidak mengonsumsi daging juga dapat memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menghadapi anemia defisiensi besi jika tidak mengonsumsi asupan makanan yang kaya akan zat besi atau dari sumber lainnya.

Gejala anemia defisiensi besi

Tanda dan gejala dari anemia defisiensi besi sangat ringan dan tidak menunjukan secara jelas. Namun, dengan makin berkurangnya kadar zat besi, anemia dapat memburuk sehingga gejala dan tanda akan dirasakan.

Gejala dan tanda dari anemia defisiensi besi adalah:

  • Lelah yang berlebih
  • Lemah
  • Kulit kelihatan lebih pucat
  • Denyut jantung yang cepat, sesak napas, Nyeri di dada
  • Sakit kepala atau rasa pusing
  • Bila dieraba kaki dan tangan terasa dingin
  • Rasa nyeri di lidah atau peradangan
  • Kuku rapuh
  • Mengidam yang tidak lazim, seperti es batu, makanan atau
  • minuman yang tidak bernutrisi
  • Kurang nafsu untuk makan, terutama pada anak-anak dengan anemia defisiensi besi
Diagnosis

Kembali lagi dengan melakukan tanya jawab medis yang mendetail diagnosa dari anemia defisiensi besi dapat ditentukan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tertentu.

Untuk memastikan diagnosis anemia defisiensi besi, dokter akan meminta kepada pasien untuk dilakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Pada anemia defisiensi besi, sel darah merah berdimens lebih kecil dan berwarna lebih pucat daripada sel darah merah normal.
  • Tes volume sel dikemas adalah persentasi isi darah yang tercipta oleh sel darah merah.
  • Persentase hemoglobin yang di bawah rentang normal dapatĀ  memperlihatkan adanya anemia. Rentang normal hemoglobin bisa tersangkut dari beberapa faktor, diantaranya jenis kelamin dan usia.

Protein jenis ini bisa menolong penahanan zat besi didalam tubuh, dan kadar ferritin yang rendah Kebanyakan membuktikan bahwa jumlah cadangan zat besi sangat rendah.

Dan jika hasil pemeriksaan darah mengindikasikan terdapatnya anemia defisiensi besi, dokter akan menganjurkan dilakukan pemeriksaan tambahan guna mengenali penyebab yang mendasarinya. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:

Dengan memasukkan alat khusus ke dalam tubuh pada saluran cerna atas. Dokter akan menguji terletaknya perdarahan saluran cerna atas dengan melakukan endoskopi lewat mulut.

Sebuah selang tipis berikut sebuah kamera dalamnya dimasukkan lewat tenggorokan menuju ke lambung. Lewat pemeriksaan ini, dokter dapat gambaran esofagus dan lambung untuk melihat adanya sumber perdarahan.

Untuk memindahkan kemungkinan sumber perdarahan dari usus, dokter dapat merekomendasikan untuk dilakukan endoskopi saluran pencernaan bagian bawah.

Selang tipis dan disertai kamera dimasukkan melalui poros anus yang diarahkan ke usus besar. Endoskopi saluran pencernaan bagian bawah ini dapat membantu dokter untuk dapat menggambarkan sebagian atau keseluruhan dari usus besar dan rektum guna melihat adanya perdarahan internal.

Bagi wanita dapat menjalani USG atau ultrasonografi (pemindaian organ tubuh dengan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi) panggul guna melihat adanya pemicu perdarahan menstruasi yang berlebih, seperti fibroid pada rahim.

Pengobatan anemia defisiensi besi

Untuk menangani anemia defisiensi besi, dokter dapat Mengusulkan untuk dilakukan beberapa penanganan seperti berikut:

Dokter dapat Menganjurkan konsumsi dari pelengkap zat besi, sesuai dosis yang dibutuhkan oleh pasien. Pelengkapan zat besi juga tersedia dalam bentuk cair, biasanya untuk anak-anak.

Untuk meningkatkan kemampuan peresapan suplemen zat besi, disarankan mengonsumsi tablet zat besi ketika perut salam keadaan kosong, bahkan lebih baik mengonsumsinya dibarengi dengan makanan yang kaya vitamin C.

Pelengkapan zat besi terkadang bisa membawa dampak gangguan buang air besar (sembelit), Maka dari itu dokter juga dapat memperhitungkan pemberian obat pencahar (pelunak feses). Ketidakseimbangan energi zat besi memerlukan waktu untuk mendukung kadar zat besi kembali normal.

Penanganan penyebab

Menangani penyebab anemia defisiensi besi. Dimana usaha pelengkapan zat besi tidak menumbuhkan kadar zat besi di dalam darah, hal ini dapat memperlihatkan bahwa anemia terjadi akibat perdarahan atau gangguan penyerapan zat besi yang membutuhkan observasi lebih lanjut.

Beberapa jenis tindakan yang dapat dijalankan adalah pemberian pengobatan seperti pil KB untuk meringankan darah menstruasi yang berlebihan, pengobatan antibiotik dan pengobatan lainnya untuk menangani ulkus peptikum, atau pembedahan untuk mengangkat polip, tumor, atau fibroid yang mengalami perdarahan.

Dan jika anemia defisiensi besi tergolong berat, transfusi darah untuk mengganti hemoglobin dengan lebih cepat dapat dilakukan.

Pencegahan anemia defisiensi besi

Akibat terjadinya anemia defisiensi besi dapat diminimalisir dengan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi. Berikut jenis makanan yang kaya zat besi:

  • Daging merah
  • Daging unggas
  • Makanan laut
  • Kacang-kacangan
  • Sayur bayam
  • Buah kismis dan aprikot
  • Sereal, roti, dan pasta yang difortifikasi dengan zat besi
  • Kacang polong

Tubuh menyerap zat besi dalam jumlah yang lebih tinggi dari daging dibandingkan sumber-sumber lainnya. Pada individu yang tidak mengonsumsi daging, asupan makanan yang kaya zat besi dari sumber lainnya dapat ditingkatkan.

Mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C dapat menopang peresapan zat besi oleh tubuh. Peresapan zat besi dapat mengembangkan dengan mengonsumsi jus sitrus atau mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C seperti jeruk, brokoli, melon, tomat, kiwi, strawbery dan lainnya bersamaan dengan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi.