Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Abses

Abses Anus Penanganan dan Pencegahannya

Abses anus adalah kondisi berkumpulnya pus atau nanah pada seputar anus, disertai rasa sakit.

Rata-rata kasus abses anus dipicu oleh infeksi pada kelenjar-kelenjar kecil yang terdapat diseputar daerah anus.

Yang paling umum terjadi pada abses anus adalah tipe abses perianal. Gejala yang sering tampak adalah benjol yang mirip bisul pada seputar anus, bila diraba hangat dengan warna kemerahan.

Abses anus tidak tampak dan berlokasi di jaringan yang berposisi lebih dalam lebih jarang ditemui.

Komplikasi fistula akan dialami oleh penderita abses anus sekitar 50%, yang akan terbentuknya saluran abnormal antara lokasi abses dan kulit. Terdapatnya fistula anus bisa menyebabkan keluarnya cairan yang terus-menerus Pada sebagian kasus.

Pada sebagian kasus lainnya, jika celah menutup maka abses anus akan timbul kembali. Pembedahan sangat dibutuhkan untuk kasus fistula anus.

Cara pembedahan insisi dan drainase merupakan penanganan yang paling sering dilakukan untuk semua tipe abses anus. dan keberhasilan sangat tinggi.

Indikasi

Gejala dan tanda-tanda yang dapat diperhatikan pada abses anus dangkal ialah:

  • Disekitar anus terdapat iritasi pada kulit, pembengkakan dan kemerahan
  • Adanya nanah
  • Sakit, berdenyut yang umumnya menetap, Yang sangat berat dirasakan saat duduk
  • Sakit pencernaan atau nyeri yang berkaitan dengan gerakan usus

Tanda dan gejala yang juga dapat diamati pada abses anus yang dalam adalah:

  • Menggigil
  • Meriang
  • Demam

Penyebab

Sangat bervariasi penyebab dari sakit abses anus ini, dan mencakup:

  • Infeksi menular akibat hubungan seksual
  • Tersumbatnya kelenjar di sekitar anus
  • Adanya fisura, atau sobekan, pada anus, yang terinfeksi
Risiko yang berkaitan dengan abses anus adalah
  • Penyakit diabetes
  • Infeksi usus besar
  • Peradangan pada saluran cerna
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Peradangan pada panggul
  • Riwayat melakukan hubungan seksual melalui anus

Diagnosa

Pada umumnya, diagnosa terhadap abses anus ditetapkan melalui evaluasi klinis berupa tanya jawab medis dan pemeriksaan fisik. Juga pengecekan rektal dapat dilakukan untuk mendiagnosa terdapatnya abses anus.

Penderita bisa saja membutuhkan pemeriksaan penunjang. Untuk evaluasi adanya infeksi menular seksual pemeriksaan ini juga dibutuhkan, peradangan pada saluran cerna, atau kanker rektum.

Pada sebagian kecil kasus, dokter bisa saja meminta untuk dilakukan USG (ultrasonografi0, CT (computerized tomography), atau MRI (magnetic resonance imaging).

Pencegahan

Aktivitas seksual yang berisiko perlu dihindari, Untuk menurunkan risiko terjadinya abses anus.

Contohnya hubungan seksual lewat anus juga pasangan seks lebih dari satu, hindari mengedan saat buang air besar untuk mencegah risiko terjadinya robekan pada anus.

Tindakan

Tindakan atau penanganan dari abses anus oleh sebagian besar kasus ialah dengan drainase pembedahan, di mana dilakukan insisi di sekitar anus untuk melakukan pengaliran cairan dari isi abses tersebut.

Penanganan untuk mengalirkan isi dari abses penting untuk dilakukan, sebelum abses pecah.

Abses anus yang dangkat dapat ditindaklanjuti dengan menggunakan obat bius lokal. Akan tetapi, abses anus yang dalam, bisa saja membutuhkan penanganan rawat inap dan juga melibatkan dokter spesialis anestesiologi untuk pembiusan.

Setelah prosedur penanganan, dokter dapat meresepkan pengobatan untuk mengatasi nyeri atau antibiotik bila dinilai dibutuhkan.