Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Abses, Kelamin

Nyeri Anus

Sakit di anus atau rektum, juga dikenal sebagai nyeri anus, adalah kondisi yang biasanya tidak berbahaya dan biasanya akan sembuh sendiri. Namun, ada beberapa situasi di mana nyeri anus dapat menjadi salah satu gejala penyakit serius.

Ada banyak saraf di kulit di sekitar anus dan rektum, yang membuatnya sangat nyeri ketika ada sesuatu yang terjadi di area tersebut.

Nyeri anus bervariasi dalam intensitas, mulai dari yang ringan, sedang, hingga yang berat. Nyeri yang parah dapat menunjukkan masalah medis yang perlu ditangani segera, terutama jika terjadi selama berhari-hari.

Penyebab Nyeri Anus

Berbagai kondisi atau penyakit dapat menyebabkan nyeri di anus, seperti:

  • Fisura ani, juga dikenal sebagai fissures anal, yang disebabkan oleh komplikasi yang timbul selama persalinan normal
  • Luka di anus yang disebabkan oleh seks anal atau cedera
  • Wasir, juga disebut hemoroid
  • Kumpulan darah yang terbentuk di sekitar anus disebut hematoma
  • Abses anus, atau fistula ani
  • Sembelit menyebabkan feses mengeras
  • Kutil di area anus

Selain penyebab di atas, nyeri anus dapat disebabkan oleh beberapa kondisi berikut:

  • Nyeri di anus atau dubur yang muncul tiba-tiba dan hilang dengan cepat dikenal sebagai proctalgia fugax
  • Menderita sindrom levator ani, yaitu kumpulan gejala yang disebabkan oleh kekakuan atau tegangnya otot di sekitar rektum
  • Salah satu jenis radang usus yang bertahan lama dikenal sebagai penyakit Crohn
  • PMS atau infeksi jamur pada kulit di area anus
  • sindrom tukak rektum atau luka di rektum
  • mengalami nyeri di tulang ekor yang dikenal sebagai coccydynia
  • Mengalami penyakit prostat atau peradangan kelenjar prostat
  • Mengalami kanker anus atau rektum
  • Prolaps rektum, yang berarti rektum turun dari anus

Gejala Nyeri Anus

Nyeri anus bergantung pada penyebabnya. Keluhan yang paling umum termasuk:

  • Rasa sakit di anus saat buang air besar
  • Sensasi panas atau terbakar di anus beberapa jam setelah buang air besar
  • Sakit berdenyut yang meningkat saat duduk
  • Sakit atau tekanan di area anus yang dapat bertahan selama beberapa jam atau beberapa hari
  • Rasa nyeri di anus yang muncul dengan cepat

Nyeri anus biasanya merupakan salah satu gejala penyakit atau kondisi medis tertentu. Akibatnya, nyeri anus seringkali disertai dengan gejala lain.

Sebagai contoh, kanker anus atau kanker rektum dapat menyebabkan nyeri anus dengan gejala seperti benjolan dan gatal di anus, keluarnya darah dari anus, penurunan berat badan, atau hilang selera makan.

Namun, jika nyeri anus disebabkan oleh infeksi, gejala mungkin termasuk demam, menggigil, bengkak di anus, bahkan keluar nanah.

Saatnya ke dokter

Jika nyeri anus terus-menerus dan menjadi lebih parah, segera periksakan diri ke dokter. Nyeri anus biasanya jarang terjadi dan hilang sendiri dalam waktu satu hingga dua hari.

Selain itu, jika nyeri anus Anda memburuk dan tidak membaik setelah beberapa hari—terutama jika disertai dengan demam, menggigil, cairan dari anus, atau perdarahan dari rektum—anda harus segera mengunjungi dokter.

Dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan jika diperlukan untuk mengetahui sumber utama nyeri anus:

  • Prosedur proctoscopy untuk memastikan apakah ada fistula atau fisura ani
  • Anoskopi dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kelainan pada rektum dan anus, seperti fisura ani, wasir, atau pertumbuhan jaringan lain, termasuk kanker
  • Sigmoidoscopy untuk memeriksa usus besar bagian bawah dan rektum jika nyeri anus yang diduga disebabkan oleh sindrom iritasi usus besar
  • Periksa kondisi organ perut yang dapat menyebabkan nyeri anus melalui pemindaian citra komputer (CT scan, USG, atau MRI)
  • Jika nyeri anus diduga disebabkan oleh PMS, lakukan tes urine dan swab untuk mengidentifikasi bakteri atau virus di urine atau cairan kelamin
  • Tes darah untuk mengidentifikasi infeksi yang dapat menyebabkan nyeri anus
  • Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan anus dan memeriksanya untuk memastikan apakah ada pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak normal
  • Test intoleransi laktosa untuk mengetahui apakah IBS menyebabkan nyeri anus

Pengobatan Nyeri Anus

Beberapa metode pengobatan nyeri anus adalah untuk meredakan nyeri dan mengobati sumbernya.

Pengobatan secara mandiri

Ada beberapa langkah penanganan mandiri yang dapat Anda lakukan untuk meredakan nyeri anus Anda sendiri, yaitu:

  • Berendam dengan air panas
  • Konsumsi analgesik seperti paracetamol
  • Pijat area anus dengan krim antinyeri

Selain itu, usahakan untuk menghindari nyeri anus yang disebabkan oleh kesulitan BAB:

  • Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung banyak serat, seperti buah dan sayur-sayuran
  • Perbanyak air putih
  • Sering berolahraga
  • Tidak dapat mengontrol buang air besar

Selain itu, pasien disarankan untuk selalu menjaga area anus bersih. Jika mereka ingin menggunakan tisu, gunakan tisu basah yang tidak mengandung alkohol atau pewangi.

Pengobatan oleh dokter

Jika pengobatan secara mandiri tidak berhasil mengobati nyeri anus, dokter dapat memberikan obat atau melakukan operasi. Metode yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Obat-obatan

Dokter dapat memberikan krim yang mengandung glyceryl trinitrate, obat antinyeri, atau obat oles yang mengandung diltiazem untuk meredakan nyeri anus dalam beberapa kasus.

Dokter dapat memberikan antibiotik jika nyeri anus disebabkan oleh infeksi menular seksual seperti gonore atau sifilis.

Operasi

Jika pengobatan di atas tidak membantu mengurangi nyeri anus, dokter akan merekomendasikan operasi. Beberapa prosedur operasi yang dapat dilakukan oleh dokter adalah:

  • Untuk mengurangi tekanan dan ketegangan pada otot sfingter anus, dilakukan lateral internal sphincterotomy (LIS)
  • Untuk membuka fistula ani secara keseluruhan, fistulotomy
  • Untuk pengobatan wasir, hemorroidektomi atau stapling wasir

Komplikasi Nyeri Anus

Nyeri anus dapat mengganggu aktivitas dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Jika disebabkan oleh penyakit atau kondisi medis tertentu, komplikasi yang dapat timbul sebagai akibat dari nyeri anus bergantung pada penyakit yang mendasarinya.

Sebagai contoh, penyakit menular seksual yang tidak diobati dapat menyebabkan nyeri anus dan menyebabkan infeksi dan komplikasi seperti radang panggul, meningitis, bahkan sepsis.

Sementara wasir, juga dikenal sebagai hemoroid, dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Anemia
  • Wasir terpelintir
  • Gumpalan darah di bagian dalam anus
  • rusak kulit di anus
Pencegahan Nyeri Anus

Untuk mengurangi kemungkinan mengalami nyeri anus, berikut adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

  • Menahan keinginan untuk membuang
  • Menghindari minuman beralkohol
  • Mengatasi tekanan dengan cara yang positif
  • Menghindari duduk terlalu lama
  • Menghindari penggunaan pembersih anus yang mengandung alkohol atau pewangi
  • Setidaknya 6-8 gelas air putih setiap hari atau sesuai kebutuhan
  • Konsumsi makanan berserat tinggi
  • Melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap minggu
  • Berhubungan seksual dengan cara yang aman dan tidak melakukan seks anal
  • Menjalankan vaksinasi HPV secara teratur