Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Virus

Mononukleosis

Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) menyebabkan mononukleosis, yang sering disebut sebagai “penyakit ciuman”. Virus ini menyebar melalui cairan tubuh, terutama air liur.

Mononukleosis, juga dikenal sebagai demam kelenjar, dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering menyerang remaja. Pada kebanyakan orang, itu bukan penyakit serius dan biasanya sembuh sendiri. Namun, gejalanya dapat memburuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari jika dibiarkan.

Penyebab Mononukleosis

Virus Epstein-Barr (EBV) adalah penyebab utama mononukleosis. Virus ini dapat menyebar melalui air liur seseorang yang terinfeksi. Selain itu, virus ini juga dapat menyebar melalui cairan tubuh lainnya, seperti dahak, darah, sperma, atau cairan vagina.

Salah satu contoh aktivitas yang dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran mononukleosis adalah:

  • Berciuman
  • Sering batuk atau bersin
  • Hubungan intim
  • Menggunakan piring atau minuman yang sama
  • donor darah
  • Transplantasi organ manusia

Mononukleosis dapat disebabkan oleh virus lain selain EBV, seperti Cytomegalovirus (CMV), Toxoplasma, HIV, Rubella, Hepatitis (A, B, atau C), dan Adenovirus. Namun, mononukleosis yang disebabkan oleh virus-virus ini lebih jarang terjadi dibandingkan dengan EBV.

Mononukleosis lebih mungkin terjadi pada beberapa demografi, seperti:

  • Dewasa muda berusia 15 hingga 30 tahun, terutama yang sibuk beraktivitas dan sering berinteraksi dengan banyak orang
  • Individu yang mengkonsumsi obat imunosupresif
  • Dokter dan tenaga medis

Gejala Mononukleosis

Virus EBV masuk ke dalam tubuh selama 4 hingga 6 minggu sebelum menimbulkan gejala; namun, pada anak-anak, gejalanya lebih cepat dan mirip dengan gejala infeksi virus lain seperti pilek dan flu, sehingga sulit dikenali.

Mononukleosis biasanya menunjukkan gejala secara bertahap. Beberapa gejala yang dapat muncul termasuk:

  • Tubuh terasa lemas dan lelah
  • Demam
  • Rasa sakit di tenggorokan
  • Pembengkakkan kelenjar getah bening di selangkangan, bawah ketiak, dan leher
  • Bengkak di amandel
  • Sakit kepala
  • Ruam pada kulit
  • Hilang keinginan untuk makan
  • Sakit pada otot

Sebagian orang yang menderita mononukleosis juga dapat mengalami pembengkakan pada limpa (splenomegali) atau hati (hepatomegali), yang dapat muncul dua atau tiga minggu setelah penyakit ini, dan dapat ditandai dengan nyeri perut.

Saatnya ke dokter

Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala mononukleosis atau jika gejala tidak membaik dalam waktu 1 hingga 2 minggu. Anda juga harus melaporkan keluhan seperti kesulitan menelan makanan atau minuman, nyeri perut yang parah, atau sesak napas. Dokter mungkin akan menyarankan agar Anda dirawat di rumah sakit.

Diagnosis Mononukleosis

Dokter akan terlebih dahulu mengajukan beberapa pertanyaan berikut untuk mendiagnosis mononukleosis:

  • Usia pasien
  • Gejala dan durasi
  • Riwayat riwayat medis pasien

Setelah itu, dokter akan memeriksa pasien untuk mengetahui gejalanya, seperti:

  • Amandel bengak
  • Pembengkakan di leher kelenjar getah bening
  • Peningkatan limpa dan hati

Selain itu, dokter akan menyarankan pasien menjalani tes darah, seperti:

Hitung darah lengkap

Dokter dapat mengidentifikasi beberapa gejala infeksi mononukleosis melalui hitung darah lengkap, seperti:

  • peningkatan jumlah salah satu jenis sel darah putih, juga dikenal sebagai limfosit, atau limfositosis
  • Lihatlah sel limfosit yang tidak biasa
  • jumlah trombosit yang rendah
  • Gagal dalam fungsi hati
Tes monospot (tes antibodi heterofil)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan antibodi yang diproduksi tubuh sebagai tanggapan terhadap infeksi virus; namun, ia tidak secara langsung menemukan antibodi EBV; sebaliknya, ia menemukan antibodi lain yang muncul sebagai akibat dari infeksi EBV.

Karena antibodi belum terbentuk secara sempurna pada minggu-minggu awal infeksi, tes monospot dilakukan antara minggu kedua dan keempat sejak munculnya gejala.

Tes antibodi EBV

Tes ini dapat dilakukan pada minggu pertama gejala muncul, tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi antibodi khusus terhadap virus EBV.

Pengobatan Mononukleosis

Mononukleosis tidak memerlukan pengobatan karena penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam beberapa minggu.

Namun demikian, berikut adalah beberapa tindakan mandiri yang dapat Anda lakukan di rumah untuk membantu Anda mengatasi gejala penyakit ini:

  • Beristirahat yang cukup
    Tubuh dapat meningkatkan daya tahannya dan melawan infeksi dengan istirahat yang cukup. Pertahankan banyak istirahat, terutama selama minggu pertama dan kedua sejak munculnya gejala.
  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh
    Banyak air putih dapat membantu demam, radang tenggorokan, dan mengurangi dehidrasi.
  • Menghindari aktivitas berat
    Selama empat minggu setelah diagnosis mononukleosis, jangan berolahraga. Ini karena aktivitas berat dapat memberi tekanan besar pada limpa yang bengkak, meningkatkan kemungkinan limpa pecah.
  • Berkumur dengan air garam
    Untuk meredakan sakit tenggorokan, campurkan 1/4 sendok teh garam dengan segelas air hangat dan kumurkannya beberapa kali setiap hari.
  • Melakukan kompres dingin atau panas
    Untuk meredakan pegal atau nyeri otot, kompres dingin atau panas dapat membantu. Namun, jika gejala tidak mereda juga, pergi ke dokter.
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol
    Kebiasaan meminum alkohol harus dihindari karena dapat memperburuk kondisi hati.

Dokter juga akan meresepkan obat untuk mengurangi gejala pasien, seperti:

  • Obat untuk meredakan nyeri otot dan demam, seperti paracetamol atau ibuprofen
  • Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan tenggorokan dan pembengkakan amandel

Penting untuk diingat bahwa tidak menggunakan aspirin tanpa izin dokter dapat menyebabkan sindrom Reye, yang dapat menyebabkan kerusakan hati atau kematian.

Setelah sembuh dari mononukleosis, virus EBV tetap ada di dalam tubuh, tetapi hanya dalam bentuk yang tidak aktif. Namun, jika daya tahan tubuh penderita menurun, virus ini dapat aktif kembali dan menular ke orang lain.

Komplikasi Mononukleosis

Mononukleosis bukan penyakit yang serius, tetapi pada kasus yang jarang terjadi, komplikasi dapat terjadi pada penderita yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah, seperti yang disebabkan oleh HIV/AIDS atau penggunaan obat tertentu.

Mononukleosis dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Gangguan pernapasan
    Penderita mononukelosis mungkin mengalami kesulitan bernapas karena pembengkakan amandel, yang dikenal sebagai tonsillitis.
  • Mononukleosis dapat menyebabkan pembengkakan organ limpa; dalam kasus yang parah, robekan limpa dapat menyebabkan perdarahan di dalam perut, yang dapat membahayakan nyawa pasien.
  • Peradangan hati
    Penderita mononukleosis berisiko mengalami hepatitis, yang ditandai dengan penyakit kuning.
  • Penurunan jumlah sel darah dalam tubuh
    Penurunan jumlah sel keping darah, atau trombositopenia, dapat menyebabkan tubuh rentan terhadap perdarahan. Sebaliknya, kekurangan sel darah merah, atau anemia hemolitik, dapat menyebabkan sesak napas dan kelelahan.
  • Gangguan jantung
    Peradangan pada otot jantung, yang dikenal sebagai miokarditis, yang dapat menyebabkan nyeri dada, sesak napas, atau gangguan irama jantung, adalah salah satu gangguan jantung yang dapat dialami penderita mononukleosis.
  • Gangguan saraf
    Sindrom Guillain-Barré, radang selaput otak (meningitis), multiple sclerosis, radang otak (ensefalitis), dan kejang adalah beberapa contoh gangguan saraf yang dapat terjadi akibat mononukleosis.

Pencegahan Mononukleosis

Karena belum ada vaksin untuk penyakit ini, menghindari kontak langsung dengan penderita adalah cara terbaik untuk mencegah mononukleosis.

Untuk mengurangi kemungkinan terkena infeksi mononukleosis, berikut adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

  • Jangan berciuman dengan orang yang menderita mononukleosis
  • Jangan berbagi makanan atau sikat gigi dan minuman dengan penderita
  • Menghindari percikan air liur ketika seseorang batuk atau bersin
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
  • Mengonsumsi makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, dan tidur yang cukup akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara teratur
  • Melakukan pemeriksaan medis rutin