Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Bakteri, Gangguan Jamur, Kesehatan Bayi, Penyakit Kelamin, Virus

Mikrosefalus

Kondisi di mana kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal yang dikenal sebagai mikrosefalus, juga disebut sebagai mikrosefali, disebabkan oleh gangguan perkembangan otak selama perkembangan bayi.

Mikrosefali adalah kondisi yang jarang terjadi, terjadi hanya pada 2 hingga 10 bayi per 10.000 kelahiran. Bayi dengan kondisi ini memiliki otak yang tidak berkembang dengan baik saat masih di dalam kandungan. Akibatnya, kepala bayi memiliki ukuran yang lebih kecil dari yang seharusnya saat dilahirkan.

Mikrosefalus adalah konsekuensi dari penundaan perkembangan otak bayi setelah lahir, selain gangguan yang terjadi selama kehamilan. Bayi dengan kondisi ini terlahir dengan kepala normal. Namun, seiring berjalannya waktu, kepalanya akan menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan kepala anak seusianya.

Penyebab Mikrosefalus

Perkembangan otak yang tidak normal disebut mikrosefalus. Ini dapat terjadi ketika bayi masih di dalam rahim atau setelah lahir.

Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak bayi dan meningkatkan kemungkinan mikrosefalus:

  • Toksoplasmosis, Campylobacter pylori, cytomegalovirus, herpes, rubella, sifilis, HIV, hingga virus zika
  • Kelainan genetik, misalnya sindrom Down atau sindrom Angelman
  • kekurangan nutrisi untuk ibu hamil atau bayinya
  • Jika ibu hamil terpapar zat-zat yang dapat membahayakan kesehatannya, seperti logam (arsenik atau merkuri), alkohol, rokok, radiasi, atau narkotika dan zat berahaya lainnya (NAPZA)
  • Kelainan pada struktur tengkorak bayi, seperti craniosynostosis—keadaan di mana ubun-ubun bayi menutup lebih cepat daripada biasanya
  • komplikasi yang timbul selama kehamilan atau persalinan, seperti anoxia otak, yaitu kekurangan oksigen untuk otak janin
  • Cacat bawaan lahir seperti fenilketonuria, di mana tubuh tidak dapat mengurai asam amino fenilalanin

Gejala Mikrosefalus

Jika ukuran kepala bayi lebih kecil dari normal, itu adalah mikrosefalus. Anda juga bisa mengalami gejala lain seperti:

  • Tangisan bayi yang kuat
  • kesulitan untuk menyusu
  • Penglihatan yang terganggu
  • Disfungsi pendengaran
  • Faktor yang menghambat perkembangan bayi
  • Problem dengan proses belajar
  • Hiperaktif
  • Kejang
Saatnya ke dokter

Dokter biasanya dapat menemukan mikrosefalus melalui USG kandungan atau pada saat bayi dilahirkan. Jika bayi Anda lahir dengan kepala yang lebih kecil atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya, konsultasikan dengan dokter Anda tentang cara terbaik untuk merawat anak Anda.

Diagnosis Mikrosefalus

Ketika bayi masih dalam kandungan atau setelah dilahirkan, mikrosefalus dapat dideteksi melalui USG. Ini dapat dilakukan pada akhir trimester kedua kehamilan atau pada awal trimester ketiga kehamilan.

Pada bayi baru lahir, pengukuran lingkar kepala tidak lebih dari 24 jam setelah kelahiran dianggap sebagai pemeriksaan rutin.

Kemudian, hasil pengukuran kepala bayi akan dibandingkan dengan ukuran normal pada bayi seusianya. Jika hasilnya normal, ibu harus pergi ke dokter anak atau posyandu secara teratur sampai anak berusia dua tahun. Pengukuran ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya.

Dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan jika ukuran kepala bayi kurang dari standar, seperti:

  • Tes darah
  • Tes urine
  • USG kepala
  • CT scan
  • MRI

Pengobatan Mikrosefalus

Operasi dapat dilakukan untuk mengobati mikrosefalus yang disebabkan oleh craniosynostosis atau penutupan ubun-ubun yang terlalu cepat. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk memisahkan tulang yang menyatu di tengkorak bayi. Operasi ini memungkinkan otak bayi tumbuh dan berkembang dengan baik jika tidak ada gangguan otak lainnya.

Mikrosefalus akibat penyakit lain masih belum disembuhkan. Ada beberapa cara yang tersedia untuk membantu perkembangan fisik dan perilaku bayi serta mengobati kejang pada bayi.

Bayi yang mengalami mikrosefalus dapat ditangani dengan beberapa cara berikut:

  • Terapi percakapan
  • Fisioterapi, yakni terapi fisik
  • pemberian obat untuk mengurangi gejala kejang dan hiperaktif serta meningkatkan fungsi otot dan saraf

Komplikasi Mikrosefalus

Beberapa anak dengan mikrosefalus memiliki kecerdasan dan perkembangan yang normal, tetapi kepala mereka tetap lebih kecil daripada anak seusianya. Di sisi lain, dalam beberapa kasus, mikrosefalus dapat menyebabkan komplikasi.

Komplikasi mikrosefalus dapat termasuk, tergantung pada penyebabnya dan seberapa parah kondisi tersebut dialami anak:

  • gangguan pertumbuhan, seperti ketidakmampuan untuk berbicara dan bergerak
  • Gagal untuk bekerja sama dan mengimbangi
  • Dwarfisme, juga dikenal sebagai perawakan pendek
  • Kecerdasan yang lebih rendah dari rata-rata
  • Retardasi kognitif
  • Wajah terlihat berbeda
  • Celebral palsy
  • Epileptikus

Pencegahan Mikrosefalus

Meskipun mikrosefalus yang disebabkan oleh faktor genetik tidak sepenuhnya dapat dicegah, konseling genetik, terutama bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, dapat membantu mengurangi risiko terkena mikrosefalus pada keturunan mereka.

Pemeriksaan serologi untuk toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes simplex, dan sifilis (TORCH) disarankan bagi wanita yang berencana untuk hamil.

Untuk mencegah penularan virus Zika yang dapat menyebabkan cacat lahir seperti mikrosefalus, ibu hamil disarankan untuk menghindari bepergian ke daerah di mana terdapat banyak kasus virus Zika.

Ibu hamil juga dapat menghindari mikrosefalus dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Selalu bersihkan tangan Anda dengan sabun dan air mengalir
  • Mengkonsumsi makanan yang sehat dan penuh nutrisi secara seimbang
  • Menjauhi rokok dan tidak merokok
  • Jika Anda tinggal di lingkungan dengan banyak nyamuk, gunakan losion antinyamuk
  • Menjauhi bahan kimia beracunJangan minum minuman beralkohol dan jangan menggunakannya narkotika dan zat berbahaya lainnya