Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Virus

Hepatitis D

Hepatitis D merupakan peradangan hati karena infeksi virus hepatitis delta (HDV). Kondisi ini hanya bisa terjadi pada seseorang yang sudah terinfeksi oleh virus hepatitis B (HBV).

Penyakit hepatitis D adalah jenis hepatitis yang jarang terjadi. Ini karena infeksi virus hepatitis delta bisa terjadi apabila seseorang sudah pernah terinfeksi hepatitis B sebelumnya. Hepatitis D bisa bersifat akut atau kronis.

Seseorang bisa saja terkena hepatitis D berbarengan dengan hepatitis B, atau karena ia yelah menderita hepatitis B dengan jangka waktu panjang (kronis). Dengan kondisi seperti itu, penderita sangat berisiko mengalami kerusakan hati yang parah.

Penyebab hepatitis D

Penyebab utama hepatitis D adalah hepatitis delta virus (HDV). HDV adalah jenis virus yang tidak komplit dan mengandalkan bantuan virus hepatitis B agar bisa berkembang di tubuh manusia.

Hati sangat berperan penting dalam proses metabolisme dan penyaringan zat beracun dari dalam tubuh. Peradangan hati disebabkan hepatitis D bisa mengganggu fungsi hati sehingga mengakibatkan munculnya beragam keluhan atau gejala.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena hepatitis D, yaitu:

  • Mengalami hepatitis D
  • Berhubungan seks tidak menggunakan kondom dan berganti-ganti pasangan
  • Tinggal bersama penderita hepatitis D dan area sedang mengalami wabah
  • Menerima transfusi dari pendonor yang terinfeksi, pemeriksaan yang tidak ketat atau alat yang digunakan tidak steril
  • Berbagi pakai jarum suntik bersama penderita hepatitis D, misalnya pemakaian bersama ketika menggunakan bersama jarum suntik dari narkotika dan zat berbahaya lainnya

Walaupun jarang terjadi, dari proses melahirkan juga dapat menjadi sarana penyebaran hepatitis D dari ibu yang tubuhnya telah terjangkit penyakit ini kepada bayinya.

Ketika tubuh sudah terinfeksi HDV, seseorang akan sangat mudah menularkannya kepada orang lain lewat kontak langsung dengan cairan tubuh, seperti darah, urine, cairan vagina, atau cairan sperma.

Akan tetapi, HDV tidak menyebar lewat air liur atau bersentuhan, misalnya ketika ciuman, memeluk atau berjabat tangan dengan penderita.

Gejala hepatitis D

Hepatitis D tidak menimbulkan gejala. Jika ada muncul gejala, keluhannya akan serupa dengan hepatitis B sehingga akan sangat sulit dibedakan. Biasanya gejala-gejala tersebut dapat berupa:

  • Bagian putih mata dan kulit menguning (jaundice)
  • Sakit sendi
  • Perut sakit
  • Mual serta muntah
  • Selera makan menurun
  • Urine berwarna gelap
  • Feses tampak pucat
  • Kelelahan yang tanpa tahu sebabnya

Untuk kasus yang jarang terjadi, penderita terlihat linglung serta kulitnya mudah memar. Biasanya tanda atau gejala ini akan muncul 21–45 hari setelah seseorang terinfeksi hepatitis D.

Untuk diketahui, gejala-gejala di atas lebih sering terjadi pada penderita hepatitis D akut. Sementara itu, pada pasien hepatitis D kronis sering sekali tidak memperlihatkan gejala, kecuali bila kondisinya makin parah.

Saatnya ke dokter

Cepat periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala hepatitis D yang sudah disebutkan di atas. Tindakan penanganan lebih awal dibutuhkan untuk memastikan agar kondisi tidak makin memburuk dan mencegah terjadinya komplikasi.

Pemeriksaan diri ke dokter sangat dianjurkan apabila Anda berisiko terkena hepatitis D, misalnya, karena Anda sudah pernah menderita hepatitis B atau sering mendapatkan transfusi darah.

Apabila Anda sudah didiagnosis mengalami hepatitis D, pantau terus kondisi Anda dengan melakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin. Agar penularan penyakit dapat dicegah.

Diagnosis hepatitis D

Agar diagnosis dapat ditegakkan, dokter akan melakukan wawancara media seputar gejala yang dirasakan pasien, riwayat kesehatan, serta kebiasaan gaya hidup pasien.

Kemudian, dokter akan melanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk memastikan ada tidaknya perubahan pada warna kulit, warna kuning pada bagian putih mata, juga pembengkakan di perut.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan pendukung, seperti:

  • Uji darah, untuk mengetahui infeksi serta keberadaan antibodi anti-hepatitis D di dalam darah yang menunjukkan pasien sudah terpapar virus HDV
  • Tes fungsi hati, untuk menaksir kadar protein, enzim hati, dan bilirubin, yang menjadi tolok ukur fungsi hati serta kerusakan pada organ tersebut
  • Biopsi hati, untuk mengamati kerusakan pada jaringan hati di laboratorium
  • Pemindaian dengan USG perut, CT scan, atau MRI, untuk mendeteksi kerusakan pada hati

Pengobatan hepatitis D

Dalam pengobatan hepatitis D bertujuan untuk menghambat berkembang biaknya virus hepatitis D (HDV). Beberapa cara pengobatan yang bisa diberikan oleh dokter meliputi:

  • Obat interferon
    Interferon merupakan obat dari sejenis protein yang mampu menghentikan penyebaran virus serta mencegah untuk muncul kembali di kemudian hari. Umumnya obat ini diberikan lewat infus setiap minggu selama 1 tahun.
  • Antivirus
    Obat-obatan antivirus yang bisa diberikan oleh dokter adalah entecavir, tenofovir, dan lamividine. Obat-obatan ini mampu meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan virus dan menghambat kemampuan virus untuk merusak hati.
  • Transplantasi hati
    Jika hepatitis D telah menyebabkan kerusakan hati yang berat, dokter akan menganjurkan transplantasi hati. Dalam prosedur ini, hati pasien hepatitis D yang rusak akan ditukar dengan hati yang sehat dari pendonor.

Komplikasi hepatitis D

Apabila tidak ditangani dengan tepat, hepatitis D bisa memicu berbagai komplikasi, seperti:

  • Sirosis
  • Gagal hati
  • Kanker hati

Bila tidak tertangani, hepatitis D akan mengakibatkan infeksi bersamaan atau koinfeksi hepatitis B dan D. Keadaan ini dapat menyebabkan hepatitis fulminan.

Pencegahan hepatitis D

Cara yang paling tepat untuk mencegah hepatitis D yaitu dengan menghindari faktor-faktor yang rentan meningkatkan risiko terjadinya hepatitis B. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

  • Melakukan vaksinasi hepatitis B
  • Berhubungan seks yang aman. Menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan
  • Tidak atau berhenti menggunakan narkotika atau zat berbahaya lainnya atau berbagi penggunaan jarum suntik dengan orang lain
  • Tidak berbagi pakai pemakaian sikat gigi dan alat cukur dengan orang lain
  • Memakai alat pelindung diri yang tepat, terutama bagi petugas medis

Jika Anda pernah didiagnosa mengalami hepatitis B atau hepatitis D, tetap lakukan permeriksaan rutin ke dokter dan jangan melakukan donor darah agar tidak menularkan penyakit ini kepada orang lain.