Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Prolaps Rektum

Ketika otot dan jaringan di sekitar rektum melemah, bagian terbawah dari usus besar (rektum) menonjol keluar dari anus. Ini disebut prolaps rektum.

Jika otot dan jaringan penyangga rektum di dalam panggul lemah, prolaps rektum dapat terjadi. Ini terjadi ketika rektum turun dan menonjol keluar dari anus.

Diare kronis, cystic fibrosis, atau penuaan dapat melemahkan otot dan jaringan penyangga rektum. Selain itu, tekanan yang kuat, seperti ketika mengejan, persalinan normal, atau batuk kronis, dapat mendorong rektum keluar dari anus.

Tergantung pada usia pasien, prolaps rektum dapat ditangani dengan operasi pemotongan rektum atau metode alternatif.

Penyebab dan Faktor Risiko Prolaps Rektum

Melemahnya jaringan dan otot penyangga rektum di panggul, kerusakan saraf yang mengontrol otot di bagian rektum dan anus, melemahnya katup anus, atau sfingter anus, dan tekanan tubuh yang berlebihan adalah semua faktor yang dapat menyebabkan prolaps rektum.

Beberapa komponen berikut bertanggung jawab atas keadaan ini:

  • Peningkatan usia (penuaan)
  • Melahirkan dengan cara yang normal
  • Mengalami gangguan saraf, seperti yang terjadi setelah cedera pada saraf tulang belakang bagian bawah
  • Mengalami diare yang parah, seperti disentri, atau sembelit yang berlangsung lama
  • Sering mengejan ketika buang air besar
  • penyakit cystic fibrosis
  • Batuk rejan
  • Pernah menjalani pembedahan panggul
  • Mengalami hernia atau turun peranakan, juga dikenal sebagai prolaps uteri

Gejala Prolaps Rektum

Benjolan berwarna kemerahan yang menonjol di dalam anus, terutama saat mengejan, adalah tanda prolaps rektum. Benjolan tersebut bisa masuk kembali atau tetap berada di luar anus.

Gejala prolaps rektum hampir sama dengan gejala wasir (hemoroid). Namun, benjolan pada wasir adalah pembuluh darah yang membesar atau membengkak di rektum dan anus, sementara benjolan pada prolaps rektum adalah bagian terbawah usus besar (rektum) yang keluar dari anus.

Selain benjolan, prolaps rektum dapat menyebabkan gejala seperti:

  • tidak dapat mengendalikan inkontinensia tinja (BAB)
  • Sembelit bahkan diare
  • Keluarnya lendir, feses, atau darah dari anus
  • Seringkali merasa BAB tidak selesai
  • Gatal atau nyeri di anus
Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, Anda harus pergi ke dokter dan mendapatkan perawatan medis segera agar tidak terjadi komplikasi.

Jika gejala Anda semakin memburuk, seperti perdarahan hebat dari anus, nyeri hebat di perut dan anus, dan benjolan yang tidak bisa ditarik keluar, segera cari pertolongan medis ke ICU. Ini dapat menunjukkan bahwa rektum keluar terpelintir atau terjepit.

Diagnosis Prolaps Rektum

Setelah mempelajari riwayat kesehatan pasien dan gejalanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memasukkan jari ke dalam anus pasien.

Dokter juga dapat menetapkan diagnosis dengan melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • Memasukkan cairan barium ke dalam usus pasien melalui anus dan kemudian menggunakan foto Rontgen untuk melihat kondisi saluran pencernaan bagian bawah pasien.
  • Dengan menggunakan selang berkamera yang dimasukkan melalui anus, kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa kondisi usus besar
  • Untuk melihat bagaimana organ dan otot saluran pencernaan bekerja saat buang air besar, defecografi dilakukan menggunakan rontgen atau MRI
  • Progtosigmoidoskopi adalah prosedur di mana sigmoidoskop, selang berkamera yang dimasukkan melalui anus, digunakan untuk memeriksa bagian dalam rektum dan anus
  • Mesin anorektal yang digunakan untuk mengukur kekuatan sfingter anus

Salah satu penyakit yang paling sering menyebabkan prolaps rektum pada anak-anak adalah cystic fibrosis. Oleh karena itu, untuk memastikan diagnosis, tes kadar klorida dalam keringat (tes garam keringat) dan tes feses diperlukan.

Pengobatan Prolaps Rektum

Untuk mengobati prolaps rektum, orang dewasa biasanya menjalani operasi. Jenis operasi tersebut meliputi:

  • Teknik bedah Altemeier
    Membuat sayatan di selangkangan (perineum) adalah cara pembedahan ini dilakukan. Rektum akan ditarik keluar, kemudian dipotong. Kemudian, usus besar bagian bawah atau rektum yang tersisa akan disambungkan ke anus.
  • Prosedur Delorme
    Pada prolaps rektum yang pendek, dokter hanya akan memotong lapisan mukosa rektum dan kemudian rektum yang prolaps dilipat dan dijahit kembali ke dalam anus.
  • Rektopexy
    Dokter melakukan rektopexy dengan membedah perut dengan teknik lubang kunci (laparoskopi) atau bedah terbuka (laparotomi). Pada operasi ini, dokter akan menjahit rektum agar tidak turun kembali ke posisi normalnya di dalam panggul.

Dokter akan menangani prolaps rektum pada pasien anak-anak sesuai penyebabnya. Mereka juga dapat mendorong bagian rektum keluar dengan jari ke dalam anus. Sebelum mendorong bagian rektum ke dalam anus, dokter akan memberikan obat bius spinal atau total.

Dokter dapat melakukan operasi jika pengobatan tanpa operasi tidak mengatasi prolaps rektum anak-anak.

Komplikasi Prolaps Rektum

Prolaps rektum dapat menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Inkontinensia tinja atau ketidakmampuan untuk menahan BAB dan buang angin, yang dapat menyebabkan sembelit
  • Luka atau tukak di rektum, yang dapat menyebabkan perdarahan dan anemia

Inkarserasi, di mana rektum yang keluar terjepit sehingga aliran darah ke rektum terhambat, adalah komplikasi gawat darurat yang dapat menyebabkan kematian jaringan dan gangrene rektum.

Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi berat yang menyebar, yang dapat menyebabkan peritonitis, sepsis, atau gangrene pada usus besar.

Pencegahan Prolaps Rektum

Menghindari faktor risiko adalah cara utama untuk mencegah prolaps rektum. Memperkuat otot panggul adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan.

Untuk menghindari sembelit, Anda juga dapat mencegah mengejan terlalu kuat saat BAB. Ini adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

  • Setidaknya minum delapan gelas air putih setiap hari
  • Meningkatkan konsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian
  • Berolahraga dengan teratur
  • Jangan menahan untuk buang air besar
  • Menjaga berat badan ideal dan menurunkan berat badan jika mengalami obesitas
  • Jangan mengangkat barang berat untuk menghindari tekanan pada perut

Anda dapat melakukan senam Kegel untuk memperkuat otot panggul Anda juga.