Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Inkontinensia Tinja

Inkontinensia tinja adalah kondisi saat tubuh tidak bisa mengendalikan proses buang air besar (BAB). Akibatnya, tinja bisa keluar dengan tiba-tiba atau tanpa disadari. Bila dibiarkan, hal ini dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya.

Umumnya, bagian ujung usus besar (rektum), anus (dubur), otot panggul, serta sistem saraf dapat mengendalikan waktu yang tepat untuk buang air besar (BAB). Akan tetapi, ada berbagai kondisi yang menyebabkan salah satu dari bagian tersebut terganggu sehingga membuat seseorang mengalami inkontinensia tinja.

Penyebab Inkontinensia Tinja

Terdapat beragam kondisi yang bisa menyebabkan inkontinensia tinja, yaitu:

  1. Sfingter anus cedera
    Rusaknya cincin otot yang terletak di ujung lubang dubur (sfingter anus) dapat mengakibatkan seseorang menderita inkontinensia tinja. Hal ini biasanya terjadi pada wanita ketika melahirkan, khususnya yang menjalani tindakan episiotomi.
  2. Saraf pengontrol sfingter anus mengalami kerusakan
    Saraf sebagai pengendali sfingter anus dapat mengalami cedera sehingga terjadi inkontinensia tinja. Kerusakan tersebut bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti multiple sclerosis dan diabetes.
  3. Operasi
    Prosedur operasi untuk menangani kondisi yang berkaitan dengan anus atau rektum, seperti hemeroid (wasir) atau penyakit Hirschprung, dapat mengakibatkan inkontinensia tinja.
  4. Prolaps rektum
    Prolaps rektum atau rectal prolapse merupakan kondisi ketika rektum turun ke anus. Hal ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami inkontinensia tinja.
  5. Rectocele
    Rectocele bisa juga menjadi salah satu penyebab inkontinensia tinja. Hal ini dilihat dari rektum yang menonjol lewat vagina.
  6. Berkurangnya kelenturan rektum 
    Dalam keadaan normal, rektum bisa menampung tinja dengan baik. Akan tetapi, kondisi seperti penyakit radang usus, operasi, atau efek radioterapi, dapat menyebabkan rektum terluka dan kaku. Kondisi ini menyebabkan rektum tidak bisa menampung tinja secara maksimal sehingga terjadi inkontinensia tinja.
  7. Sembelit kronis
    Sembelit yang kronis, seperti pada penderita megakolon jangka panjang, mengakibatkan kotoran mengeras. Akibatnya, tinja mengalami kesulitan bergerak melewati rektum dan dikeluarkan dari tubuh. Hal ini bisa mengakibatkan kerusakan saraf dan otot yang memicu inkontinensia tinja.
  8. Diare
    Tinja yang encer ketika diare akan sulit ditahan di dalam rektum. Kondisi tersebut bisa memperburuk inkontinensia tinja.

Faktor risiko inkontinensia tinja

Inkontinensia tinja bisa dialami siapa saja. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, yaitu:

  • Berusia 65 tahun ke atas
  • Melahirkan lewat vagina
  • Melakukan terapi pengganti hormon menopause
  • Memiliki penyakit Alzheimer dan demensia
  • Menderita cedera yang mengakibatkan cacat fisik sehingga sulit ke toilet tepat waktu

Gejala Inkontinensia Tinja

Inkontinensia tinja mempunyai gejala yang berbeda pada setiap penderita, umumnya meliputi:

  • Tidak mampu menunda buang air besar sebelum sampai di toilet (urge incontinence)
  • Tinja keluar dengan tidak disadari (inkontinensia pasif)
  • Tinja keluar ketika penderita buang angin
  • Anus gatal-gatal
  • Sakit atau kram perut
  • Perut kembung
  • Sembelit
  • Diare
Saatnya ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami gejala inkontinensia tinja, khususnya bila tidak sembuh dalam beberapa hari. Inkontinensia tinja yang tidak ditangani dengan benar bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan bisa mengakibatkan stres.

Diagnosis Inkontinensia Tinja

Biasanya diagnosis inkontinensia tinja dimulai dengan wawancara medis seputar gejala serta riwayat penyakit. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang diikuti dengan pemeriksaan pendukung, seperti:

  • Kultur tinja
    Pengambilan sampel tinja akan dilakukan untuk di uji dan diteliti di laboratorium. Tujuannya adalah untuk menemukan keberadaan bakteri yang dicurigai menyebabkan inkontinensia tinja.
  • USG anorektal
    USG anorektal bermaksud untuk mengetahui fungsi rektum dan sfingter anus dalam mengatur proses keluarnya tinja.
  • MRI
    MRI bertujuan untuk melihat kondisi sfingter anus dan menemukan apakah otot-otot yang bekerja dalam memproses pengeluaran tinja masih berfungsi dengan baik.
  • Barium enema
    Barium enema merupakan pemeriksaan foto Rontgen untuk menemukan saluran pencernaan bagian bawah, termasuk usus besar dan rektum. Dalam tes ini, dokter akan memerintahkan pasien menelan cairan barium sebelum melakukan tindakan foto Rontgen.
  • Proktografi
    Uji proktografi bertujuan untuk memeriksa banyaknya tinja yang bisa dikeluarkan tubuh. Pemeriksaan tersebut berfungsi mengukur kesanggupan rektum dalam menahan kotoran agar tidak merembes.
  • Elektromiografi (EMG)
    EMG diperlukan untuk mengamati apakah kerusakan saraf mengakibatkan sfingter anus tidak berfungsi dengan baik. Pemeriksaan ini juga bertujuan mengetahui koordinasi otot dan saraf di sekitar anus dan rektum.
  • Kolonoskopi
    Kolonskopi bertujuan untuk mengontrol seluruh bagian anus, dengan memasukkan selang berkamera lewat anus.

Pengobatan Inkontinensia Tinja

Dari hasil diagnosis, dokter akan menetapkan metode penanganan yang tepat dan sesuai dengan penyebab inkontinensia tinja pada pasien. Langkah penanganan yang bisa dilakukan oleh dokter antara lain:

Dengan obat-obatan

Pemberian obat-obatan bisa dilakukan untuk mengobati inkontinensia tinja yang diakibatkan oleh diare dan sembelit. Obat-obatan yang bisa diresepkan dokter adalah:

  • Obat pencegah diare, seperti loperamide, diphenoxylate, dan atropine sulfate
  • Obat laksatif (pencahar), seperti metilselulosa dan psyllium, jika inkontinensia tinja dipicu oleh sembelit jangka panjang
Terapi fisik

Terapi fisik dilakukan untuk menangani inkontinensia tinja yang dipicu oleh kerusakan otot di sekitar anus. Dengan pulihnya otot, kemampuan sfingter anus sebagai pengontrol sensasi buang air besar pun akan membaik.

Berbagai terapi fisik yang bisa dilakukan antara lain:

  • Biofeedback
    Terapi ini bertujuan untuk menaikan kekuatan otot dubur dan otot dasar panggul, juga kontraksi otot pada saat buang air. Terapi biofeedback dilakukan dengan bantuan manometri anal atau balon rektal.
  • Balon vaginal
    Terapi dengan menggunakan balon vaginal dikerjakan dengan cara memasukkan alat yang mirip pompa ke dalam vagina. Alat tersebut berfungsi memberikan dorongan pada area rektum sehingga akan mengurangi durasi inkontinensia tinja.
  • Latihan Kegel
    Latihan ini bertujuan untuk menguatkan otot dasar panggul yang berhubungan dengan saluran kemih, saluran cerna, dan otot pada rahim. Gerakan kegel berfungsi untuk melatih pasien mengatur kontraksi otot yang digunakan saat buang air besar.
  • Latihan usus
    Terapi latihan usus bertujuan melatih pasien untuk menguatkan kendali atas otot rektum dan anusnya, dengan melakukannya secara rutin dan berulang. Misalnya, pasien akan diminta agar selalu buang air besar secara teratur setelah makan.
Operasi

Prosedur operasi yang bisa dilakukan oleh dokter untuk menangani inkontinensia tinja antara lain:

  • Sphincteroplasty
    Langkah operasi ini bertujuan untuk membenahi otot dubur yang melemah atau cedera pada saat melahirkan.
  • Bedah koreksi
    Bedah koreksi dilakukan untuk memperbaiki otot anus dan rektum pasien yang rusak. Tindakan tersebut untuk mengatasi turunnya rektum, rectocele, dan wasir, yang menyebabkan inkontinensia tinja.
  • Kolostomi
    Kolostomi bertujuan untuk membuat lubang di dinding perut sebagai jalan untuk membuang kotoran (tinja). Kotoran yang keluar dari lubang itu akan ditampung dengan kantong khusus.
  • Transplantasi otot gracilis
    Transplantasi otot gracilis diberika kepada pasien yang kehilangan fungsi saraf di sfingter anus. Caranya adalah dengan mengambil otot dari paha bagian atas untuk ditempatkan di sekitar otot sfingter anus untuk memperkuat otot tersebut.
  • Stimulasi saraf
    Dalam metode ini, dokter akan menanamkan alat atau implan khusus di dalam tubuh pasien, untuk menstimulus fungsi saraf panggul agar bisa berfungsi kembali.

Komplikasi Inkontinensia Tinja

Jika inkontinensia tinja yang tidak segera ditangani. bisa menimbulkan sejumlah komplikasi berupa:

  • Gangguan emosional
    Pengaruh inkontinensia tinja bisa menimbulkan rasa malu, frustrasi, bahkan depresi. Akibatnya, penderita inkontinensia tinja akan menjauhkan diri dari lingkungan sosial.
  • Iritasi kulit
    Bila mengalami kontak berulang dengan tinja, kulit di sekitar anus yang sangat peka bisa mengalami iritasi yang disertai infeksi.

Pencegahan Inkontinensia Tinja

Pencegahan inkontinensia tinja tergantung pada penmicunya. Salah satu hal yang bsa dilakukan adalah menjaga kesehatan pencernaan, antara lain dengan:

  • Mengonsumsi makanan dengan serat tinggi, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, agar tidak terjadi sembelit
  • Jangan mengejan terlalu kuat ketika buang air besar
  • Cukupi kebutuhan air putih setiap saat
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  • Memakai pakaian dalam berbahan katun
  • Rutin berolahraga

Inkontinensia tinja karena kondisi medis atau penuaan tidak selalu bisa dicegah. Akan tetapi, terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mempermudah aktivitas, seperti:

  • Cobalah buang air besar sebelum melakukan perjalanan.
  • Gunakan pembalut atau popok dewasa ketika melakukan perjalanan jauh.
  • Siapkan pakaian untuk ganti serta alat pembersih sesuai kebutuhan.
  • Cari tahu posis toilet di tempat yang sedang Anda dikunjungi agar mudah mencapainya dengan cepat bila ada dorongan untuk BAB.
  • Gunakan pil penghilang bau (fecal deodorant) agar bau atau aroma yang tidak sedap dari kotoran Anda tidak tercium orang sekitar ketika buang angin.