Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Saraf

Mati Rasa

Mati rasa merupakan kondisi saat bagian tubuh tertentu tidak mampu merasakan rangsangan yang diberikan. Kondisi ini bisa terjadi di salah satu sisi tubuh atau kedua sisi tubuh (simetris).

Meski bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, mati rasa paling sering terjadi di lengan, kaki, serta jari-jari.

Dalam kondisi normal, rangsangan di kulit akan dialirkan menuju otak dan saraf tulang belakang. Namun, bagi orang yang mengalami mati rasa, aliran tersebut mengalami masalah. Gangguan itu sendiri bisa dipicu oleh kerusakan, iritasi, atau tekanan pada saraf.

Oleh karena itu, penderita mati rasa tidak mampu merasakan rangsangan sentuhan, getaran, juga dingin atau panas pada kulit.

Selain itu, orang yang menderita mati rasa atau baal juga bisa tidak tahu dengan posisi bagian tubuh yang mengalami mati rasa yang membuat keseimbangan dan koordinasi anggota tubuh terganggu.

Penyebab Mati Rasa

Mati rasa terjadi karena kerusakan, iritasi, atau tekanan pada saraf. Kondisi ini menjadikan rangsangan yang dialirkan ke otak dan saraf tulang belakang mengalami gangguan.

Meski bisa disebabkan oleh banyak hal, mati rasa paling terjadi sering karena terlalu lama duduk atau berdiri. Mati rasa yang disebabkan oleh dua hal tersebut tidak berbahaya dan dapat hilang setelah beberapa saat.

Penyebab mati rasa juga lain adalah dari penyakit yang menekan jaringan saraf. Beberapa diantaranya adalah:

  • Carpal tunnel syndrome
  • Saraf tulang belakang terjepit (hernia nukleus pulposus)
  • Tumor tulang belakang
  • Cedera pada saraf tulang belakang

Selain disebabkan oleh tekanan pada saraf, mati rasa atau baal juga bisa muncul karena beberapa kondisi, yaitu:

  • Minimnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu, seperti pada penyakit vaskulitis atau stroke
  • Infeksi saraf, seperti kusta atau penyakit Lyme
  • Infeksi virus herpes zoster
  • Kelainan genetik, seperti pada penyakit ataksia Friedrich
  • Terdapat gangguan metabolisme tubuh, seperti akibat penyakit diabetes, kekurangan vitamin B12, atau keracunan
  • Pembengkakkan pada jaringan saraf, seperti pada sindrom Guillain-Barre atau multiple sclerosis
  • Serangan beku (frosbite)
  • Penyakit langka yang menyerang saraf, seperti amiloidosis, sindrom paraneoplastik, sindrom Sjogren, sifilis, atau penyakit Charcot-marie-tooth
Faktor risiko mati rasa

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami mati rasa, yaitu:

  • Mengonsumsi minuman mengandung alkohol berlebihan
  • Menderita cedera akibat kecelakaan
  • Memaksa posisi tubuh yang kurang baik ketika bekerja, misalnya terlalu membungkuk atau duduk terlalu lama
  • Mengonsumsi obat-obatan yang bisa merusak saraf, seperti obat kemoterapi
  • Menjalani proses operasi, seperti operasi kanker payudara

Gejala Mati Rasa

Mati rasa adalah gejala dari suatu gangguan pada saraf. Gangguan mati rasa bisa disertai dengan gejala lain, seperti:

  • Serasa terbakar
  • Kesemutan
  • Seperti tertusuk jarum
  • Kejang otot
  • Gatal-gatal
  • Ruam kulit
Saatnya ke dokter

Periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami mati rasa, terutama jika terjadi secara berulang, saat melakukan aktivitas tertentu, atau makin memburuk.

Biasanya mati rasa tidak berbahaya. Akan tetapi, segera ke dokter bila mati rasa terjadi dalam kondisi berikut:

  • Timbul dengan tiba-tiba dan menyebar ke bagian tubuh lain dengan cepat
  • Terjadi di paha, kaki, atau seluruh lengan
  • Terasa di bagian wajah atau bagian kelamin
  • Diikuti dengan otot yang melemah pada bagian tubuh yang mengalami mati rasa
  • Tidak bisa mengontrol buang air kecil atau besar (inkontinensia)
  • Sesak napas

Diagnosis Mati Rasa

Untuk mendiagnosis mati rasa, dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami pasien, misalnya kapan gejala timbul dan mereda, dan aktivitas yang memicu mati rasa.

Dokter juga akan menanyakan latar belakang kesehatan pasien, baik yang sedang ataupun yang pernah diderita. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada fungsi saraf, seperti:

  • Membangkitkan reaksi terhadap suhu
  • Rangsangan berkenaan dengan sentuhan
  • Reaksi bagian tubuh yang mati rasa
  • Fungsi otot pada bagian tubuh yang mengalami mati rasa

Untuk menetapkan diagnosis, dokter bisa melakukan pemeriksaan pendukung, seperti:

  • Cek darah, untuk menguji kadar gula darah dan fungsi organ-organ lain
  • Pungsi lumbal, untuk menganalisis otak serta saraf tulang belakang dengan mengambil sampel cairan saraf tulang belakang
  • Uji konduksi saraf, untuk memantau fungsi sinyal listrik pada saraf
  • Elektromiografi, untuk mengevaluasi aktivitas listrik dalam otot
  • Pemindaian dengan foto Rontgen, USG, CT Scan, atau MRI, untuk menemukan kelainan yang memengaruhi saraf tulang belakang

Pengobatan Mati Rasa

Penanganan mati rasa bergantung dari penyebabnya sehingga proses pengobatannya bisa berbeda-beda pada tiap pasien.

Selain untuk mengobati penyebabnya, tindakan untuk mengobati mati rasa bertujuan untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut.

Dibawah ini adalah beberapa jenis pengobatan mati rasa yang disesuaikan dengan penyebabnya:

  • Pemberian obat diabetes, sebagai pengontrol kadar gula darah pada pasien mati rasa yang menderita diabetes
  • Obat untuk melebarkan pembuluh darah, seperti isoxsuprine, berguna untuk melancarkan aliran darah ke bagian yang mati rasa
  • Obat kebas serta kesemutan, seperti vitamin B1, B6, dan B12, yang bisa mendukung penyembuhan saraf
  • Terapi fisik (fisioterapi), untuk menguatkan tulang belakang dan mempermudah pergerakan tubuh
  • Operasi, untuk memulihkan gangguan pada tulang belakang

Komplikasi Mati Rasa

Penderita mati rasa akan mengalami penurunan kesanggupan merasakan rangsangan, khususnya terhadap suhu, sentuhan, dan nyeri. Hal tersebut akan mengakibatkan penderita lebih mudah mengalami cedera, seperti luka bakar atau luka iris.

Adakalanya, penderita mati rasa bisa tidak sadar bahwa dirinya mengalami luka tersebut. Oleh sebab itu, penderita harus rajin memeriksa setiap bagian tubuhnya agar segala bentuk cedera dapat diketahui dan segera ditangani.

Pencegahan Mati Rasa

Tindakkan terbaik untuk mencegah mati rasa adalah dengan mencegah atau mengontrol penyakit yang bisa mengakibatkan mati rasa, seperti diabetes. Selain itu, Anda juga bisa menurunkan risiko terjadinya mati rasa dengan melakukan upaya berikut:

  • Berhenti merokok
  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, termasuk sayur-sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan
  • Rutin berolahraga
  • Mempertahankan berat badan agar tetap ideal
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol
  • Mengenakan alat pelindung diri saat berkendara atau bekerja di luar ruangan