Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Peradangan, Usus

Proktitis

Peradangan pada dinding usus besar bagian akhir, juga disebut proktitis, menyebabkan perut mulas, sakit perut dan dubur, diare, dan kencing berdarah dan berlendir.

Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, serta penyakit menular seksual yang disebabkan oleh hubungan seks anal tanpa kondom, dapat menyebabkan penyakit prostat.

Tidak bergonta-ganti pasangan seksual dan selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual dapat membantu mencegah penyakit prostat.

Penyebab Proktitis

Banyak hal dapat menyebabkan prostatitis, termasuk penyakit, penggunaan obat-obatan, dan gaya hidup yang tidak sehat. Berikut adalah penjelasan tambahan:

1. Penyakit menular seksual

Penyakit menular akibat aktifitas seksual yang paling sering menyebabkan proktitis adalah gonore, sifilis, herpes, atau chlamydia. Masalah ini lebih sering terjadi pada orang yang sering melakukan seks anal.

2. Infeksi bakteri

Bakteri dari makanan dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan seperti tifus, yang menyebabkan peradangan pada rektum.

3. Radang usus

Peradangan pada rektum juga terjadi pada beberapa penderita penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.

4. Penggunaan antibiotik tanpa pengawasan dokter

Antibiotik tidak hanya membunuh bakteri penyebab infeksi, tetapi juga membunuh bakteri penting yang menjaga kesehatan saluran cerna. Akibatnya, beberapa bakteri berbahaya, seperti Clostridium difficile, dapat tumbuh dan berkembang biak di rektum.

5. Radioterapi

Peradangan pada rektum dapat terjadi sebagai hasil dari terapi radiasi atau radioterapi untuk mengobati kanker yang berada di sekitar rektum, seperti kanker prostat atau ovarium.

6. Efek samping operasi

Orang yang menjalani operasi usus besar dan memiliki stoma, lubang perut buatan yang dibuat untuk BAB, dapat mengalami praktitis. Makanan yang tidak melewati rektum justru meningkatkan risiko peradangan.

7. Reaksi terhadap protein dari makanan

Bayi yang minum susu sapi atau susu kedelai memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami proktitis. Hal ini karena beberapa protein dalam susu atau makanan dapat menyebabkan peradangan saluran cerna.

Gejala Proktitis

Perut mulas atau rasa ingin buang air besar (BAB) terus-menerus adalah gejala proktitis. Gejala ini bisa sementara atau berkepanjangan (kronis) hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Selain itu, ada beberapa gejala lain yang dapat menunjukkan proktitis, seperti:

  • Sakit di bagian kiri perut, terutama saat BAB
  • Sakit di bagian bawah dubur
  • Diare
  • Rasa sakit yang tidak hilang setelah BAB
  • BAB dengan darah atau berlendir
Saatnya ke dokter

Jika Anda sering bergonta-ganti pasangan seksual, pergi ke dokter untuk pemeriksaan rutin. Ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit menular seksual atau mendeteksinya lebih awal.

Selain itu, jika Anda mengalami gejala proktitis seperti perut mulas, sakit pada dubur, dan buang air besar berdarah atau berlendir, Anda harus pergi ke dokter.

Diagnosis Proktitis

Oleh karena gejala proktitis mirip dengan gejala gangguan pencernaan lainnya, pemeriksaan dokter sangat penting untuk mengetahui penyebab gejala penderita.

Pada tahap awal, dokter akan menanyakan gejala pasien dan riwayat penyakit sebelumnya atau saat ini. Jika dicurigai bahwa pasien mengalami proktitis, dokter akan memeriksa feses untuk mengetahui apakah bakteri penyebabnya.

Dokter gastroenterologi juga dapat melakukan kolonoskopi, di mana sebagian kecil jaringan rektum diambil untuk diperiksa di laboratorium (biopsi rektum).

Untuk mendiagnosis proktitis, pemeriksaan berikut biasa dilakukan selain yang disebutkan di atas:

  • Tes darah untuk mengidentifikasi kemungkinan infeksi
  • pemeriksaan sampel lendir rektum pasien untuk memastikan adanya penyakit menular seksual

Dokter akan dapat memilih pengobatan yang tepat untuk pasien berdasarkan hasil pemeriksaan.

Pengobatan Proktitis

Jenis pengobatan proktitis berbeda-beda tergantung pada penyebabnya, dan biasanya bertujuan untuk mengurangi peradangan, rasa sakit, dan infeksi. Pengobatan ini termasuk juga:

  • Antibiotik dalam kasus proktitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri
  • Obat antivirus jika proktitis terjadi karena infeksi virus seperti herpes
  • Konsumsi obat pelunak tinja dan prosedur pelebaran rektum atau ablasi jika proktitis adalah akibat radioterapi
  • Obat antiperadangan dan imunosupresif, jika proktitis adalah akibat dari radang usus

Dokter dapat melakukan operasi pengangkatan jaringan yang rusak untuk mengatasi proktitis jika gejala pasien tidak kunjung hilang.

Selain pengobatan medis, metode sederhana dapat meredakan peradangan dan nyeri ringan, seperti:

  • Menghindari makan sebelum tidur agar pencernaan istirahat
  • Taruh air hangat pada selangkangan dan bokong selama beberapa menit
  • Mengonsumsi obat pereda sakit yang tersedia secara bebas
  • Hindari makan makanan pedas, asam, dan berlemak
  • Jangan mengonsumsi minuman soda, kafein, dan susu
  • Perbanyak minum air putih

Komplikasi Proktitis

Komplikasi berikut dapat muncul sebagai akibat dari pengobatan yang tidak tepat dari penyakit prostat:

  • Pendarahan kronis menyebabkan anemia
  • Infeksi yang menyebabkan abses di daerah yang terinfeksi
  • Borok yang terletak di dalam dinding rektum
  • Saluran abnormal antara usus dan kulit di sekitar dubur disebut fistula ani
  • Saluran tidak biasa yang terbentuk antara rektum dan vagina yang memungkinkan feses keluar dari sana disebut fistula rektovagina

Pencegahan Proktitis

Hubungan seks yang berisiko, seperti bergonta-ganti pasangan dan tanpa kondom, dapat mencegah proktitis.

  • Jika pasangan Anda memiliki luka di area kelaminnya, jangan melakukan hubungan seks sebelum itu
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol dan tidak menggunakan NAPZA