Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Obat-Obatan

Sindrom Ekstrapiramidal

Sifat tubuh yang bergerak tidak terkendali sebagai akibat dari penggunaan obat tertentu dikenal sebagai sindrom ekstrapiramidal. Obat yang paling sering menyebabkan kondisi ini adalah obat untuk terapi gangguan jiwa.

Gerakan tak terkendali berulang, seperti menggoyangkan kaki atau mengetukkan jari, adalah tanda sindrom ekstrapiramidal. Keluhan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya pada kondisi yang parah. Oleh karena itu, penderita harus segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Penyebab Sindrom Ekstrapiramidal

Penggunaan obat tertentu dapat menyebabkan sindrom ekstrapiramidal. Obat antipsikotik, yang digunakan untuk mengatasi gejala psikosis pada orang yang menderita skizofrenia, adalah salah satu obat yang paling sering menyebabkan sindrom ekstrapiramidal.

Fungsi obat antipsikotik menghentikan hormon dopamine, yang mengontrol gerak tubuh. Akibatnya, tubuh bergerak secara tidak sadar dan tidak terkendali.

Beberapa obat antipsikotik yang berpotensi menyebabkan sindrom ekstrapiramidal adalah:

  • Chlorpromazine
  • Droperidol
  • Haloperidol
  • Trifluoperazine
  • Thioridazine
  • Flupenticol
  • Risperidon
  • Olanzapine

Obat lain yang dapat menyebabkan sindrom ekstrapiramidal selain obat antipsikotik adalah:

  • Antihistamin, termasuk prochlorperazine dan metoclopramide
  • Antimania, atau pengendali mood, seperti lithium dan carbamazepine
  • Antidepresan trisiklik, seperti clomipramine dan amitriptyline
  • Antidepresan yang diklasifikasikan sebagai selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
  • Obat untuk ADHD, seperti methylphenidate

Faktor risiko sindrom ekstrapiramidal

Orang yang menggunakan beberapa obat-obatan di atas dapat mengalami sindrom ekstrapiramidal. Namun, seseorang yang pernah mengalami sindrom ekstrapiramidal sebelumnya atau yang menggunakan obat-obatan yang disebutkan di atas dalam dosis tinggi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya.

Gejala Sindrom Ekstrapiramidal

Gejala sindrom ekstrapiramidal dapat bervariasi. Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah penggunaan obat, tetapi gejala juga bisa muncul setelah beberapa minggu atau bahkan sesaat setelah penggunaan obat.

Beberapa gejala sindrom ekstrapiramidal yang dapat dialami penderita adalah berdasarkan jenis kondisinya:

Akathisia

Kondisi di mana tubuh tidak dapat diam atau bergerak tanpa henti dikenal sebagai akathisia. Gejala ini muncul pada 5% hingga 36% orang yang mengalami sindrom ekstrapiramidal.

Gerakan akathisia yang umum adalah sebagai berikut:

  • Mengangkat tangan dan mengayunkan tangan
  • Mengetukkan jari-jari
  • Menggerakkan kaki
  • Mengusap-usap wajah
Dystonia

Dystonia adalah kondisi di mana otot tiba-tiba berkontraksi dengan sendirinya. Gerakan ini dapat berupa perubahan posisi leher, lengan, atau kaki. Penderita dystonia juga sering kali merasakan nyeri dan kaku otot sebagai akibat dari gerakan tersebut.

25% hingga 40% penderita sindrom ekstrapiramidal mengalami dystonia, yang biasanya muncul 48 jam setelah menggunakan obat tertentu. Beberapa gerakan dystonia yang dapat dialami penderita sindrom ekstrapiramidal adalah:

  • Mata berkedip cepat
  • Lidah terjulur ke luar dan tidak dapat dimasukkan kembali
  • Leher yang menjulur atau miring
  • Kepala tetap menatap

Distonia juga dapat menyebabkan kaku pada otot laring atau tenggorokan, yang bisa fatal.

Parkinsonisme

Sekitar dua puluh persen hingga empat puluh persen orang yang menderita sindrom ekstrapiramidal mengalami parkinsonisme, yang merupakan kumpulan gejala yang mirip dengan penyakit Parkinson.

Setelah mengambil obat, parkinsonisme biasanya muncul dalam beberapa hari. Namun, ini dapat terjadi lebih lama atau lebih cepat tergantung pada seberapa banyak dosis obat yang diambil.

Beberapa tanda yang dapat terjadi adalah:

  • Bergetar
  • Otot yang kaku
  • Kaku otot wajah Anda sehingga ekspresinya terlihat datar
  • Sulit untuk berkomunikasi
  • Pergerakan lambat
  • kelainan dalam posisi tubuh, seperti ketidakmampuan tangan untuk bergerak saat berjalan
Tardive dyskinesia

Ketika tubuh bergerak tidak terkendali, terutama di area wajah, kondisi ini disebut tardive dyskinesia. Gerakan ini muncul berulang kali dan dapat berkembang secara bertahap.

30% pasien dengan sindrom ekstrapiramidal mengalami tardive dyskinesia, yang biasanya muncul enam bulan setelah penggunaan obat.

Beberapa gerakan tak terkendali yang dapat terjadi adalah:

  • Bahu bergerak tanpa kontrol
  • Mengecapkan bibir
  • Menghisap atau mengunyah
  • Mengeluarkan senyum
Neuroleptic malignant syndrome

Jenis gangguan saraf yang dikenal sebagai sindrom ekstrapiramidal, neuroleptik malignant syndrome (NMS), dapat menyebabkan koma, gagal ginjal, atau bahkan kematian.

Kondisi ini sangat jarang, terjadi hanya pada 0,02% orang yang menggunakan obat antipsikotik. NMS biasanya muncul beberapa jam atau sesaat setelah penggunaan obat.

NMS dapat menyebabkan beberapa gejala:

  • Otot terasa sangat kaku
  • Demam yang kuat
  • Linglung
  • Kejang
Saatnya ke dokter

Setelah berhenti mengonsumsi obat apa pun, jangan berhenti menggunakannya dan pergi ke dokter jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas. Jika gejala NMS muncul, hubungi IGD segera. Pengobatan sindrom ekstrapiramidal dapat meredakan gejalanya dengan cepat.

Diagnosis Sindrom Ekstrapiramidal

Dokter akan bertanya tentang gejala pasien, termasuk kapan pertama kali muncul, serta obat-obatan yang mereka gunakan dan riwayat kesehatan pasien.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk pemeriksaan saraf. Setelah pemeriksaan dan tanya jawab, dokter biasanya dapat menetapkan diagnosis sindrom ekstrapiramidal.

Pengobatan Sindrom Ekstrapiramidal

Dokter akan terlebih dahulu meminta pasien untuk berhenti mengonsumsi obat yang diduga menyebabkan sindrom ekstrapiramidal; jika perlu, dokter dapat mengurangi dosis atau menggantinya dengan obat lain.

Berikut beberapa obat-obatan untuk membantu pasien mengatasi gejalanya, seperti:

  • Benzodiazepine dan obat lain yang digunakan untuk menenangkan dan melemaskan otot
  • Obat sebagai antikolinergik, seperti benztropine atau trihexyphenidyl
  • Obat yang menghambat beta-adrenergik, seperti propanolol

Dokter juga dapat menyuntik botox untuk meredakan kedutan di wajah pada pasien yang mengalami tardive dyskinesia.

Komplikasi Sindrom Ekstrapiramidal

Gejala sindrom ekstrapiramidal dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penderitanya dapat mengalami kesulitan bergerak, berkomunikasi dengan orang lain, tidak dapat tidur, atau menyelesaikan pekerjaan sendiri.

Penderita sindrom ekstrapiramidal dapat mengalami stres atau frustasi jika dibiarkan.

Meskipun sindrom ekstrapiramidal dapat menyebabkan komplikasi berikut pada kasus yang parah:

  • Karena otot tenggorokan kaku, bernapas menjadi sulit, tetapi ini jarang terjadi
  • Jika sindrom ekstrapiramidal berlangsung lama, itu dapat menyebabkan kerusakan atau kematian jaringan otot (rhabdomyolysis)

Pada akhirnya, sindrom ekstrapiramidal dapat membuat pasien takut untuk mengonsumsi obat, sehingga gejala penyakitnya bisa kambuh

Pencegahan Sindrom Ekstrapiramidal

Sangat sulit untuk mencegah sindrom ekstrapiramidal, tetapi berkonsultasi dengan dokter secara teratur jika Anda sedang menggunakan obat tertentu, seperti obat antipsikotik.

Dengan menggunakan obat sesuai saran dokter, risiko sindrom ekstrapiramidal juga dapat dikurangi. Pasien tidak disarankan untuk mengurangi dosis obat mereka atau menggantinya dengan obat lain tanpa persetujuan dokter.