Beranda/Lambung dan Pencernaan/Sakit Maag (Dispepsia)

Lambung dan Pencernaan

Sakit Maag (Dispepsia)

Pahami ‘maag’ sebagai dispepsia—nyeri atau terbakar perut atas, cepat kenyang dan begah—yang dapat bersifat fungsional atau akibat H. pylori, ulkus dan obat; beda dari GERD, red flags, tes napas/feses, PPI dan terapi sesuai penyebab.

Ditulis oleh Tim SehatKitaDiperbarui 25 Agustus 2026Waktu baca 12 menit
Ringkasan‘Sakit maag’ biasanya merujuk pada dispepsia: nyeri, rasa terbakar atau tidak nyaman di perut atas, cepat kenyang dan penuh setelah makan. Ini bukan satu penyakit dan tidak selalu berarti asam berlebih; sebagian besar kasus kronis adalah gangguan interaksi usus–otak setelah penyebab struktural disingkirkan.

Dispepsia berbeda dari heartburn

Dispepsia berpusat di ulu hati dengan early satiety, post-meal fullness, mual atau sendawa. GERD lebih khas berupa rasa panas di belakang dada dan regurgitasi. Keduanya dapat bersamaan. H. pylori, ulkus, gastritis, NSAID, zat besi, steroid dan GLP-1 agonist dapat memicu; batu empedu, pankreas atau jantung juga dapat menyerupai.

Red flags menentukan kebutuhan endoskopi

Dokter menilai usia, durasi, obat, alkohol, keluarga kanker dan pemeriksaan fisik. Urea breath test atau stool antigen mendeteksi H. pylori; PPI dan antibiotik dapat memengaruhi hasil sehingga persiapan mengikuti instruksi. Endoscopy dipertimbangkan pada sulit menelan, perdarahan, anemia, muntah sering, berat turun atau risiko lebih tinggi.

Nyeri dada atau perdarahan bukan maag biasaKe IGD untuk nyeri dada/rahang/lengan, sesak, keringat dingin, muntah darah, tinja hitam, pingsan, perut keras atau nyeri hebat menetap. Periksa cepat bila sulit menelan, muntah berulang, anemia, kuning, berat turun atau nafsu makan hilang.

Terapi mengikuti penyebab dan pola

H. pylori diobati dengan kombinasi antibiotik serta penekan asam sesuai resistansi lokal dan keberhasilan dikonfirmasi. PPI atau H2 blocker dapat dicoba pada pasien terpilih; prokinetic atau neuromodulator dosis rendah kadang digunakan untuk functional dyspepsia. Jangan mengulang antibiotik atau PPI tanpa batas tanpa evaluasi.

Makan terarah lebih berguna daripada pantangan luas

Porsi kecil, makan perlahan, tidak berbaring segera, berhenti merokok dan membatasi pemicu pribadi seperti makanan sangat berlemak, alkohol atau kopi dapat membantu. Tidak ada satu ‘diet maag’ universal. CBT, relaksasi atau terapi gut–brain dapat mengurangi gejala fungsional dan bukan berarti keluhan hanya imajinasi.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK — Indigestion, NIDDK — Symptoms and causes, NIDDK — Treatment. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.