Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Pencernaan

Akalasia

Pengertian akalasia

Akalasia adalah salah satu kondisi penyakit langka yang menyebabkan sulitnya cairan dan makanan untuk masuk ke lambung.

Terjadinya Akalasia saat saraf pada saluran yang menghubungkan rongga mulut dan lambung, yakni esofagus rusak. Alhasil, esofagus mengalami kehilangan kemampuan untuk mendorong makanan ke bawah, dan katup otot yang membatasi esofagus dan lambung, yaitu sfingter esofagus bawah, tidak mengalami relaksasi secara sepenuhnya dan menyebabkan makanan sulit masuk ke lambung.

Penyebab akalasia

Ada berbagai hal yang menyebabkan mengapa akalasia bisa terjadi. Adakalanya, susah bagi tenaga kesehatan untuk menentukan penyebab pasti yang mendasarinya.

Adanya penyakit autoimun yang menyebabkan Kondisi ini terjadi dapat menurun. Dalam kondisi tersebut, sistem daya tahan tubuh yang rusak ini dapat menyerang sel sehat yang ada pada tubuh. Kemunduran dari persarafan yang terdapat pada esofagus sering kali menyumbang timbulnya tanda dan gejala lanjut dari akalasia.

Kesulitan untuk menelan atau merasa bahwa makanan yang dikonsumsi tersangkut di esofagus adalah tanda gejala seseorang akan mengalami akalasia. Keadaan ini disebut sebagai disfagia.

Gejala akalasia

Gejala ini bisa menyebabkan batuk yang berlebih dan meningkatkan risiko terjadinya aspirasi, yakni makanan yang terhirup masuk ke saluran pernapasan dengan potensi menyebabkan tersedak dan sakit pada kerongkongan.

Terdapat gejala lain dari akalasia adalah:

  • Tidak nyaman dan rasa sakit di dada
  • Turun nya berat badan secara tidak disengaja
  • Terasa sakit pada ulu hati
  • Sakit yang berlebih setelah makan atau tidak nyaman

Selanjutmya, penderita dengan akalasia juga dapat mengalami regurgitasi atau aliran balik asam lambung ke esofagus. Tetapi, hal ini juga bisa merupakan salah satu tanda dan gejala dari kondisi saluran cerna lainnya, seperti refluks asam lambung.

Diagnosis akalasia

Diagnosa dari akalasia dapat ditentukan dari wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu. Kadangkala, akalasia dapat memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan penyakit saluran pencernaan lainnya.

Maka dari itu, untuk mengkonfirmasi adanya akalasia, dokter akan menganjurkan agar dilakukan beberapa jenis pemeriksaan penunjang, misalnya:

  • Manometri esofageal. Pemeriksaan ini menakar kontraksi irama otot pada esofagus saat sedang menelan, komposisi dan tekanan yang terjadi pada otot esofagus, serta kekuatan sfingter esofagus bawah untuk menghadapi relaksasi saat sedang menelan.
  • Pencitraan menggunakan sinar X dapat dilakukan setelah pasien mengonsumsi cairan berwarna putih susu yang akan membantu dokter untuk penggambaran dari esofagus, usus halus dan lambung.

    Ini adalah pemeriksaan sinar X saluran cerna bagian atas. Salah satunya adalah mengkonsumsi pil yang mengandung barium guna membantu melihat adanya sumbatan di esofagus, dolter akan meminta Penderita melakukan hal ini.

  • Pemeriksaan menggunakan selang tipis dan fleksibel atau Endoskopi saluran cerna bagian atas, yang disertai oleh lampu dan kamera, yang akan dimasukkan ke dalam tenggorokan untuk mengevaluasi kondisi esofagus dan lambung.

Tindakan endoskopi dapat dilakukan untuk menentukan adanya sumbatan parsial dari esofagus jika tanda dan gejala menunjukkan adanya kemungkinan hal tersebut untuk terjadi. Untuk mengambil sampel jaringan Endoskopi juga dapat dilakukan dengan metode biopsi untuk menilai ada tidaknya komplikasi dari refluks asam lambung.

Pemeriksaan dari akalasia difokuskan untuk menunjang relaksasi atau pembukaan dari sfingter esofageal bawah agar makanan dan cairan dapat melalui saluran cerna dengan lebih mudah.

Pilihan penanganan sendiri bergantung dari berbagai faktor, di antaranya usia dan derajat keparahan dari kondisi yang dialami.

Pengobatan akalasia

Beberapa jenis kelompok penanganan yang dapat dilakukan adalah:

  • Pilihan penanganan non-pembedahan dapat berupa dilatasi pneumatik. Ini adalah Salah satu Penanganan non-pembedahan, dalam cakupan menggunakan balon yang dimasukkan ke sfingter esofageal bawah lalu dikembangkan untuk memperenggang celah antara esofagus dan lambung.

    Kadang, bila sfingter tidak terbuka secara menetap, prosedur ini bisa dilakukan secara berulang.

  • Pemberian botulinum toksin tipe A dapat dilakukan, yang merupakan pengobatan untuk menunjang relaksasi otot. Hal ini dapat disuntikkan ke sfingter esofagus bawah dengan bantuan alat endoskopi. Penyuntikan bisa saja membutuhkan pengulangan.

Pengobatan dengan botulinum toksin umumnya direkomendasikan hanya untuk penderita yang bukan merupakan kandidat baik untuk dilatasi pneumatik atau pembedahan akibat usia atau kesehatan secara umum.

Penanganan non-bedah yang ketiga adalah pengobatan relaksasi otot yang dikonsumsi sebelum makan.

Karena pengobatan oral umumnya memiliki efek terapeutik yang terbatas dan efek samping tertentu, maka hal ini hanya dipertimbangkan apabila penderita bukan merupakan kandidat untuk dilatasi pneumatik atau pembedahan serta pemberian botulinum toksin tidak menunjukkan manfaat.

Pembedahan dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kelompok usia lebih muda. Terdapat beberapa jenis teknik pembedahan yang dapat dilakukan, bergantung dari berbagai indikasi.

Pencegahan

Karena penyebab dari akalasia belum diketahui secara pasti, maka belum terdapat cara yang terbukti dapat mencegah terjadinya kondisi ini secara sepenuhnya.