Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan mental, Penyakit Mental, Phobia

Nosophobia

Penderita nosophobia mengalami ketakutan yang tidak wajar terhadap penyakit berbahaya atau kronis. Mereka sangat takut tertular atau terkena penyakit berbahaya meskipun kemungkinan itu sangat kecil.

Neurophobia berbeda dengan hipokondriasis, di mana penderitanya percaya bahwa keluhan ringan, seperti sakit tenggorokan atau sakit kepala, adalah gejala penyakit yang serius.

Meskipun penderita nosophobia tidak menunjukkan gejala atau memiliki faktor risiko apa pun, mereka tetap merasa takut atau khawatir. Mereka juga menghindari semua hal yang mereka anggap dapat membuatnya sakit, seperti berinteraksi dengan orang lain atau mengunjungi tempat umum.

Penyebab Nosophobia

Beberapa faktor diduga berkontribusi pada perkembangan nosophobia seseorang:

  • Pernah mengalami peristiwa traumatis yang berkaitan dengan kesehatan, seperti menderita penyakit berat sebagai anak
  • Pernah merawat anggota keluarga yang sakit parah
  • Pernah kehilangan orang yang dicintai karena sakit
  • Mengalami kondisi mental seperti kecemasan, depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, atau skizofrenia
  • Mengalami wabah penyakit yang menyebar luas dan memengaruhi kehidupan manusia, seperti pandemi COVID-19
  • Menghindari orang yang sakit, meskipun tidak menular
  • Menonton acara TV atau membaca artikel tentang penyakit yang menantang untuk disembuhkan
  • Bekerja sebagai peneliti atau tenaga medis yang membaca tentang penyakit berat

Gejala Nosophobia

Memikirkan atau mendengar tentang penyakit seperti kanker, penyakit jantung, atau HIV adalah beberapa penyakit yang paling ditakuti oleh penderita nosophobia.

Nosophobia memiliki gejala yang ringan hingga berat. Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah:

  • Ketakutan atau kecemasan yang berlebihan ketika mendengar tentang penyakit
  • mengalami gejala fisik setelah serangan panik, seperti jantung berdebar-debar, pusing, mual dan muntah, dan keringat berlebih
  • Mengalami mimpi buruk karena penyakit berat
  • Merasa lelah atau sulit fokus karena insomnia
  • Agar tidak sakit, hindari transportasi umum dan cuci tangan sering
  • Menghindari berita tentang penyakit yang dapat menyebabkan kasus nosophobia
  • Menghabiskan berjam-jam mencari informasi tentang suatu penyakit
  • Merasa khawatir akan terkena penyakit, seperti tumor otak, meskipun tidak menunjukkan gejala
  • Berulang kali mengukur tekanan darah dan suhu tubuh untuk memastikan dia tidak sakit
Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas, Anda harus melakukan pemeriksaan ke dokter. Jika kecemasan dan kekhawatiran terkait penyakit telah meningkat sehingga menyebabkan serangan panik, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menyebabkan gejala depresi, dokter harus membantu.

Diagnosis Nosophobia

Untuk menentukan nosophobia, pasien harus ditanyai tentang gejala dan riwayat kesehatan mereka, termasuk intensitas dan durasi keluhan. Setelah itu, dokter dapat melakukan beberapa tes tambahan untuk memastikan bahwa ketakutan yang berlebihan tidak berasal dari penyakit lain.

Jika salah satu dari kondisi berikut terpenuhi, seseorang dianggap mengalami nosophobia:

  • Rasa takut akan penyakit serius persisten selama minimal enam bulan
  • Penderita tidak dapat bekerja, bersosialisasi, atau menikmati hidup karena takut akan penyakitnya
  • Penderita nosophobia mengalami ketakutan yang berlebihan dari situasi yang sebenarnya tidak membahayakannya

Pengobatan Nosophobia

Pengobatan nosophobia bertujuan untuk membantu pasien meredakan ketakutan dan kecemasan mereka, serta membantu mereka mengendalikan diri saat mendengar berita atau mengetahui tentang penyakit yang serius. Pengobatannya mencakup:

Exposure therapy

Dokter biasanya menggunakan terapi paparan, juga dikenal sebagai terapi paparan, untuk mengobati nosophobia. Dalam terapi ini, pasien diminta untuk menonton video atau membaca berita tentang berbagai penyakit, dan mereka juga mungkin diminta untuk berinteraksi dengan orang yang menderita penyakit tidak menular.

Dokter juga akan melihat reaksi pasien ketika melihat atau berada di sekitar orang sakit. Dengan melakukan hal-hal seperti meditasi atau teknik relaksasi, dokter dapat membantu pasien mengendalikan rasa takut mereka.

Terapi perilaku kognitif

Pasien menerima terapi perilaku kognitif (CBT), juga dikenal sebagai terapi perilaku kognitif, untuk mengubah cara mereka berpikir dan menanggapi rasa takutnya akan penyakit mereka. Metode ini dapat digunakan bersamaan dengan terapi paparan.

Obat-obatan

Dokter juga dapat memberikan terapi dan obat-obatan untuk mengatasi gejala cemas dan takut yang disebabkan oleh nosophobia, seperti obat anticemas atau antidepresan.

Komplikasi Nosophobia

Dokter juga dapat memberikan terapi dan obat-obatan untuk mengatasi gejala takut dan cemas yang disebabkan oleh nosophobia, seperti obat anticemas atau antidepresan.

  • Depresi
  • tujuan atau percobaan bunuh diri
  • masalah keuangan karena melakukan pemeriksaan medis secara teratur
  • penurunan produktivitas pekerjaan hingga mengakibatkan pengangguran
  • Perasaan panik
  • Penyalahgunaan barkotika dan zat adiktif lainnya

Pencegahan Nosophobia

Sulit untuk mencegah fobia sosial karena ini biasanya disebabkan oleh hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Namun, ada beberapa cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan yang disebabkan oleh nosophobia:

  • Ketika pikiran negatif tentang penyakit mulai muncul, lakukan teknik relaksasi seperti latihan pernapasan atau meditasi
  • Menjadi lebih sadar diri dalam kehidupan sehari-hari
  • Melakukan hobi atau menonton acara yang menghibur dapat membantu Anda mengalihkan pikiran negatif
  • Menghindari informasi atau artikel yang menimbulkan ketakutan
  • Menjaga kebersihan tidur (hygiene tidur), seperti tidak bermain telepon setidaknya satu jam sebelum tidur dan mematikan lampu kamar
  • Mencari dukungan atau bergabung dengan komunitas orang yang menderita nosophobia

Penderita nosophobia harus menyadari bahwa penyakit berat tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa cara untuk mencegah penyakit jangka panjang, seperti:

  • Mencuci tangan dengan air dan sabun atau cairan pembersih tangan
  • Berolahraga dengan teratur
  • Menjaga praktik hubungan seks yang sehat, seperti menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan
  • tidak berbagi benda pribadi seperti makanan atau handuk
  • Menghindari kontak dekat dengan individu yang memiliki penyakit menular
  • Menjaga benda-benda yang sering disentuh bersih
  • Mengikuti vaksinasi sesuai dengan rekomendasi dokter

Namun, perlu diingat bahwa upaya-upaya di atas tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Pencegahan yang berlebihan tidak hanya tidak berguna, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit baru.