Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Bayi

Cara Mengatasi Disentri pada Bayi Penyebab dan Gejala nya

Umumnya sanitasi yang buruk adalah penyebab utama penyakit disentri amuba dan shigellosis pada bayi. Mengutip National Health Service, disentri merupakan infeksi pada usus yang menjadi pemicu diare yang disertai dengan darah, nanah, dan biasanya juga diiringi dengan sakit perut. Menjaga kesehatan Si Kecil adalah hal yang sudah pasti.

Akan tetapi, dalam beberapa kesempatan, bayi mungkin mengalami masalah kesehatan yang mengganggu, salah satunya penyakit disentri. Bayi sangat berisiko menderita disentri, karena kondisi kekebalan tubuhnya yang belum matang. Meskipunpun penderitanya mayoritas adalah bayi dibawah lima tahun (balita).

Mari kita cari tahu tentang hal penting mengenai disentri pada bayi berikut ini.

Penyebab Disentri pada bayi

Kebanyakan orang mengalami disentri bakterial atau disentri amuba. Tergantung dari jenisnya, penyebabnya pun juga bisa berbeda. Bakteri disentri disebabkan oleh infeksi bakteri dari Shigella, Campylobacter, Salmonella, atau E. coli enterohemorrhagic. Diare dari Shigella juga dikenal sebagai shigellosis.

Shigellosis adalah jenis disentri yang paling umum, dengan sekitar 500.000 kasus didiagnosis di Amerika Serikat setiap tahun, mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Sesuai dgn namanya, disentri amuba disebabkan oleh parasit bersel tunggal yang menginfeksi usus. Sering juga disebut sebagai amebiasis.

Disentri amuba jarang terjadi di negara maju. Seringnya ditemukan di daerah tropis umumnya. Khususnya yang memiliki kondisi sanitasi yang sangat buruk. Disentri amuba dan shigellosis biasanya dihasilkan dari sanitasi yang buruk. Yang disebabkan oleh lingkungan di mana orang-orang yang tidak memiliki disentri bersentuhan dengan kotoran dari orang-orang yang sudah menderita disentri.

Kontak yang dimaksud di sini dapat melalui makanan dan air yang terkontaminasi, juga praktik cuci tangan yang sangat buruk oleh orang yang sudah terinfeksi. Bisa juga karena mandi pada air yang sudah terkontaminasi. Seperti danau atau kolam renang, juga melakukan kontak fisik pada orang yang terinfeksi.

Dan anak-anak paling berisiko mengalami shigellosis, atau siapa saja bisa mengalami disentri pada usia berapa pun.
Shigellosis kebanyakan menyebar di antara orang-orang yang berhubungan dekat dengan orang yang terinfeksi.

Disentri amuba terutama menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau minum air yang terkontaminasi di daerah tropis yang memiliki sanitasi buruk.

Jenis dan Gejala Disentri pada Bayi

Ada 2 jenis utama dari penyakit disentri pada bayi. Bukan hanya berbeda dari penyebabnya, gejalanya pun juga bisa berbeda.

Disentri Amuba

Disentri amuba disebabkan oleh amuba atau parasit bersel tunggal yg kita sebut Entamoeba histolytica, dan banyak jumpai di daerah tropis. Jenis disentri ini biasanya ditemukan di luar negeri. Dalam beberapa kasus, disentri pada bayi yang disebabkan amuba ini tidak menyebabkan gejala apa pun.

Akan tetapi, orang yang terinfeksi akan mendapati kista di dalam tinjanya saat buang air besar, dan dapat menginfeksi sekelilingnya. Gejala disentri pada bayi ini biasanya dapat muncul 10 hari setelah terinfeksi.

Gejala disentri amuba sendiri dapat meliputi:
Diare berair, yang biasanya mengandung darah, lendir atau nanah. Mual dan muntah serta sakit perut. Demam dan menggigil. Pendarahan dari rektum. Hilangnya nafsu makan serta penurunan berat badan.
Biasanya gejala disentri amuba berlangsung beberapa hari sampai mingguan.

Tanpa pengobatan, bahkan jika gejalanya hilang, amuba dapat terus eksis di dalam usus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Artinya infeksi masih dapat ditularkan kepada orang lain (diare juga masih dapat kembali).

Disentri Bakteri

Disentri bakteri atau shigellosis yang disebabkan oleh bakteri shigella, adalah jenis disentri yang paling umum ditemui. Biasanya disentri bakteri mulai muncul 1 – 7 hari setelah terjadinya infeksi.Gejala umum yang muncul merupakan sakit perut ringan dan diare berdarah.

Gejala-gejala bayi disentri bakteri ini berlangsung selama 3 – 7 hari dan kebanyakan kasus tidak perlu mengunjungi dokter umum.

Biasanya muncul diare hebat dimula, then perlahan berkurang dan terkadang menyakitkan. Dalam kasus yang lebih parah, gejalanya dapat termasuk mual dan muntah, sakit perut yang parah, kram perut.
Suhu badan tinggi (demam) sekitar 38 derajat Celcius atau
BAB bayi berlendir berair, serta berdarah (diare parah).

Diagnosis Disentri pada Bayi
Bila Si Kecil mengalami gejala disentri, segera temui dokterĀ  Bila tidak ditangani dgn segera, disentri pada bayi dapat menyebabkan dehidrasi parah dan mengancam jiwa. Saat melakukan janji temu, dokter akan meninjau gejalanya dan setiap perjalanan terakhir kali.

Ibu-ibu harus mencatat setiap perjalanan di luar negeri sebagai informasi yang dapat membantu dokter mempersempit kemungkinan penyebab gejala disentrinya. Selain itu, bahwa ada banyak sekali kondisi yang bisa menyebabkan diare.

Jika bayi tidak memiliki gejala disentri lain, dokter akan meminta pengujian diagnostik untuk menentukan bakteri mana yang ada di dalam tubuhnya. Ini termasuk tes darah dan tes laboratorium dari sampel tinja. Dokter mungkin juga melakukan pengujian tambahan untuk memutuskan apakah menggunakan antibiotik bisa digunakan dan akan membantu.

Mengatasi Disentri pada Bayi

Disentri pada bayi harus ditanggapi dgn serius bila Si Kecil mengalami shigellosis segera dirawat dengan cepat dan tepat. Karena Shigella dpt menyebabkan 60% kasus disentri di fasilitas kesehatan. Hampir semuanya kasus penyakit serius yang mengancam jiwa bayi ibu-ibu.

Bila pemeriksaan mikroskopis tinja dilakukan dan trofozoit E. histolytica yang mengandung eritrosit terlihat, terapi antiamoebic segera dilakukan. Diambil dari Rehydrate, empat prinsip dari cara mengatasi disentri pada bayi adalah pemberian cairan, makanan, antibiotik dan pemantauan.

Berikut cara mengatasi disentri pada bayi yang bisa ibu-ibu dilakukan.

1. Terapi Antibiotik
Cara mengatasi disentri pada bayi karena shigellosis dengan antibiotik yang sesuai dapat memperpendek durasi penyakit dan mengurangi risiko komplikasi serius dan kematian. Namun, pengobatan tersebut hanya efektif bila bakteri Shigella sensitif terhadap antibiotik yang diberikan.Selain itu, penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan resep dokter.

Jika pengobatan tertunda atau antibiotik diberikan yang tidak sensitif terhadap Shigella, bakteri dapat menyebabkan kerusakan yang luas pada usus. Kondisi ini memasuki sirkulasi umum yang menyebabkan septikemia, dan kadang-kadang syok septik.
Komplikasi disentri pada bayi ini lebih sering terjadi pada anak-anak yang kekurangan gizi dan bisa berakibat fatal.
Karena sensitivitas antibiotik dari strain virus yangmenginfeksi Shigella tidak diketahui untuk setiap kasus, penting untuk menggunakan antibiotik oral yang diketahui sensitif terhadap sebagian besar Shigella di area tersebut.

Biasanya, penggunaan antibiotiknya dengan kotrimoksazol, sebagai pilihan yang umum, tetapi ampisilin efektif di beberapa area. Meskipun pengobatan dianjurkan selama 5 hari, namun seharusnya ada perbaikan yang berarti setelah 2 hari, yaitu berkurangnya demam, nyeri, serta darah feses.
Apabila hal ini tidak terjadi, antibiotik harus dihentikan dan penggunaan obat lain digunakan.

Meskipun bakteri lain, seperti C. jejuni dan Salmonella, dapat memicu disentri pada bayi, penyakit ini tergolong relatif ringan dan bisa sembuh sendiri. Anak kecil penderita disentri sebaiknya tidak dirawat secara rutin untuk amoebiasis. Pengobatan hanya boleh diberikan bila E. histolytica trofozoit yang mengandung sel darah merah dalam tinja atau bila tinja masih berdarah setelah pengobatan berturut-turut dengan 2 antibiotik yang biasanya efektif untuk Shigella.

Pengobatan untuk disentri amuba adalah metronidazol. Jika disentri pada bayi disebabkan oleh E. histolytica, perbaikan akan terjadi dalam 2 – 3 hari setelah memulai pengobatan.

2. Pemberian Cairan
Cara mengatasi disentri pada bayi yang terjadi harus dievaluasi untuk tanda-tanda dehidrasi dan dirawat dengan memberikan cairan cukup. Semua pasien disentri harus diberikan air dan minuman lain selama sakit, terutama jika mereka demam.

Dalam studi di International Journal of Infection, dehidrasi lebih mungkin terjadi pada anak di bawah 1 tahun. Terutama yang berusia di bawah 6 bulan, bayi yang berhenti menyusui karena sakit, atau anak dengan diare dan muntah yang parah, dan dianjurkan untuk rehidrasi melalui oral atau intravena (IV).

Anda bisa memberikan air minum ataupun ASI dan susu formula. Ketika bayi dehidrasi juga bisa diberikan minuman elektrolit yang aman untuk bayi. Ini akan membantu meningkatkan cairan di dalam tubuhnya.Beberapa bayi memerlukan perawatan medis saat dehidrasi.
Dan jika Si Kecil terlihat lesu dan mengalami gejala dehidrasi yang terlihat semakin parah walaupun sudah diberikan cairan, Moms perlu memeriksakan bayi ke dokter.

3. Makanan
Anak penderita disentri harus terus makan, agar kerusakan nutrisi selama sakit dapat dicegah atau diminimalkan. Namun, cara mengatasi disentri pada bayi dengan makan mungkin sulit pada kasus anoreksia. Pemberian makanannya bisa dilakukan dengan melanjutkan menyusui, berikan makanan kecil yang sering setidaknya 6 kali sehari.

Dorong anak untuk makan, pilih makanan kaya energi dan gizi yang disukai Si Kecil. Berikan 1 kali makan ekstra sehari dengan menggunakan makanan yang sama setidaknya selama 2 minggu setelah diare berhenti.

4. Tetap Pantau Kondisinya
Kebanyakan kasus disentri menunjukkan perbaikan dalam 2 hari setelah memulai pengobatan dengan antibiotik yang efektif. Pasien-pasien ini harus menyelesaikan pengobatan 5 hari, dan tidak perlu tindak lanjut khusus.

Langkah terakhir dalam cara mengatasi disentri pada bayi, Si Kecil harus dipantau dengan cermat, terutama anak-anak yang tidak menunjukkan perbaikan yang jelas dalam 2 hari, dan yang diketahui berisiko tinggi meninggal atau komplikasi lain.

Anak-anak berisiko tinggi yaitu bayi kurang gizi, mereka yang tidak disusui, dan siapa saja yang mengalami dehidrasi, harus sering dipantau sebagai pasien rawat jalan atau dirawat di rumah sakit.
Penderita disentri pada bayi dengan gizi kurang harus dirawat di rumah sakit secara rutin. Jika Si Kecil tidak menunjukkan perbaikan setelah 2 hari pertama pengobatan antibiotik, harus diberikan antibiotik yang berbeda.

Mengatasi Disentri pada Bayi yang Alami

Tidak hanya dengan obat, Anda juga bisa melakukan beberapa cara mengatasi disentri pada anak yang alami. Perlu dicatat bahwa beberapa cara ini biasanya juga dilakukan untuk mengobati diare bayi. Namun, Anda mungkin bisa berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter bila merasa ragu.

Mengutip First Cry Parenting, berikut ini cara mengatasi disentri pada bayi dengan cara yang alami.

  1. Pisang
    Karena gerakan ususnya longgar, bayi kehilangan banyak kalium, dan perlu untuk mengisinya kembali. Gerakan usus longgar ini benar-benar dapat menguras energi bayi, jadi konsumsi pisang akan membantu memulihkan kekuatannya. Pisang mengandung kalium, seng, zat besi, kalsium, magnesium, serta Vitamin A dan B6.
  2. Jahe
    Jahe baik untuk sistem pencernaan dan merupakan salah satu cara mengatasi disentri pada bayi yang alami. Campurkan 1 sendok teh jahe parut, sedikit bubuk kayu manis, sedikit bubuk jinten, dan 1 sendok teh madu. Berikan campuran ini untuk bayi 3 kali sehari. Anda juga bisa menambahkan pala sebelum diberikan kepada Si Kecil.
  3. Apel
    Apel penuh dengan kandungan pektin yang membantu mengencangkan buang air besar anak. Cuci apel, rebus dalam air, dan haluskan agar lembut dan mudah dicerna. Ini tidak hanya akan mencegah gerakan usus longgar tetapi juga akan memberi bayi energi yang sangat dibutuhkan karena disentri pada bayi.
  4. Air Kelapa
    Terlepas dari manfaat kesehatan yang sangat besar yang diberikannya, air kelapa adalah cairan yang luar biasa untuk membantu pemulihan anak dari masalah pencernaan. Tidak hanya rasanya yang enak, tetapi juga membantu tubuh mendapatkan kembali cairan yang hilang. Disarankan untuk memberikan air kelapa kepada Si Kecil minimal 2-3 kali dalam sehari.
  5. Jus Wortel
    Bayi perlu mengisi kembali energinya yang hilang saat ia memiliki gerakan usus yang longgar, termasuk karena disentri pada bayi. Wortel adalah sumber energi yang bagus pada saat-saat seperti itu. Jus atau puree wortel dapat disajikan beberapa kali dalam sehari. Jika bayi berusia di atas 1 tahun, jus wortel cocok untuk diberikan.
  6. Lemon
    Lemon merupakan obat rumahan yang bagus untuk mengatasi disentri bayi yang alami. Ini penuh dengan sifat anti-inflamasi dan anti-bakteri yang membuatnya menjadi obat yang andal dan mudah tersedia. Konsumsi 1 sendok jus lemon 4-5 kali sehari dapat meredakan masalah perut lainnya pada Si Kecil. Sakit perut bayi akan berkurang, dan keseimbangan pH dalam tubuhnya juga akan pulih.
  7. ASI
    Bila Anda masih dalam masa masa menyusui bayi, jangan berhenti. ASI adalah obat yang pasti aman untuk disentri bayi. ASI membantu mempercepat pemulihan bayi karena kandungan antibodinya yang tinggi.

Itu juga dapat mencegah perlunya rawat inap bagi bayi.

Jika Si Kecil disusui dan diberi susu formula, akan lebih baik untuk meningkatkan jumlah ASI yang dapat dikonsumsi, karena susu formula dapat sedikit lebih sulit dicerna. Dan jika Si Kecil menolak makan apa pun karena diare, yang terbaik adalah tidak mencekokinya.

Cobalah memberinya makan setelah jeda yang lama sehingga dia akan lapar dan sulit menolak makanan.
Bayi yang berusia kurang dari 1 tahun harus dibawa ke dokter sebelum mencoba pengobatan ala rumahan. Apa yang bisa Anda lakukan adalah meningkatkan asupan cairan dalam makanan bayi.

Komplikasi Disentri pada Bayi

Pada kasus disentri pada bayi, ada beberapa hal yang bisa menjadi komplikasi jika tidak ditangani dengan segera. Mengutip Hospital Care for Children, berikut ini hal-hal yang bisa menjadi komplikasi disentri pada bayi.

1. Dehidrasi
Dehidrasi adalah komplikasi disentri pada bayi yang paling umum, dan anak-anak harus ditangani segera untuk kasus dehidrasi terlepas dari komplikasi lainnya. Berikan cairan sesuai dengan rencana perawatan yang sesuai.

2. Penipisan Kalium
Penipisan kalium dapat dicegah dengan memberikan oralit (bila diindikasikan) atau makanan kaya kalium seperti pisang, air kelapa atau sayuran berdaun hijau tua.

3. Demam Tinggi
Jika anak mengalami demam tinggi pada suhu lebih atau sama dengan 39 derajat Celcius yang tampaknya menyebabkan kesusahan, berikan parasetamol dan pertimbangkan infeksi bakteri yang parah.

4. Prolaps Rektum
Ini juga menjadi komplikasi dari disentri pada bayi. Untuk mengatasinya, dorong kembali prolaps rektal dengan lembut menggunakan sarung tangan bedah atau kain basah.
Cara lainnya, siapkan larutan hangat magnesium sulfat jenuh, dan gunakan kompres dengan larutan ini untuk mengurangi prolaps dengan mengurangi edema.

5. Kejang-kejang
Kejang tunggal paling sering terjadi pada kasus disentri pada bayi. Jika diperpanjang atau berulang, berikan diazepam. Hindari memberikan diazepam rektal. Selalu periksa adanya risiko kondisi hipoglikemia.

6. Sindrom Uremik Hemolitik
Jika tes laboratorium tidak memungkinkan, curigai terjadinya sindrom uremik hemolitik pada pasien dengan mudah memar, pucat, kesadaran berubah dan keluarnya urin rendah atau tidak ada.

7. Megakolon Toksik
Megakolon toksik merupakan komplikasi disentri pada bayi yang biasanya muncul dengan demam, distensi abdomen, nyeri dan nyeri tekan dengan hilangnya bising usus, takikardia, dan dehidrasi.
Sebagai cara mengatasi komplikasi disentri pada bayi ini, berikan cairan IV untuk menghidrasi tubuh, berikan selang nasogastrik, dan mulai gunakan antibiotik.

Cara mencegah Disentri pada Bayi

Sebagai langkah pencegahan disentri pada bayi, Moms perlu memperhatikan higienitas tubuh Si Kecil.
Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi langkah pencegahan disentri pada bayi.

1. Cuci Tangan
Cuci tangan adalah cara terpenting untuk menghentikan penyebaran infeksi. Orang di sekitar atau mungkin Anda bisa menularkan pada Si Kecil saat sakit dan memiliki gejala. Praktik cuci tangan dapat mengurangi frekuensi infeksi Shigella dan jenis diare lainnya hingga 35%.

2. Jaga Kebersihan Toilet
Membersihkan dudukan toilet, gagang siram, keran dan bak cuci dengan deterjen dan air panas setelah digunakan, diikuti dengan disinfektan rumah tangga bisa menjadi langkah pencegahan disentri pada bayi. Selain itu, hindari menggunakan handuk yang sama untuk lebih dari 1 orang.

3. Perhatikan Makanan dan Minuman yang Dikonsumsi
Melansir Medical News Today, memperhatikan kebersihan makanan dan minuman juga menjadi langkah untuk mencegah disentri pada bayi.

Minumlah hanya air dari sumber yang terjamin, seperti air kemasan. Perhatikan apakah botolnya masih disegel dengan baik, dan bersihkan bagian atasnya sebelum diminum.

Pastikan makanan yang hendak dikonsumsi benar-benar matang. Shigellosis biasanya hilang dalam waktu seminggu atau lebih dan tidak memerlukan obat resep.

Kebanyakan penderita disentri amuba akan sakit selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Apabila Anda mencurigai Si Kecil mengalami disentri amuba, penting untuk segera mendapatkan perhatian medis.

Penting diketahui, kelompok dengan risiko disentri adalah orang-orang dengan pekerjaan tertentu, termasuk petugas kesehatan dan orang yang mengolah makanan, serta orang yang membutuhkan bantuan kebersihan pribadi serta anak-anak yang masih sangat kecil. Karena itu, perhatikan terus kebersihan lingkungan agar Si Kecil terhindar dari berbagai penyakit.