Pengertian asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum adalah keadaan ketika bayi tidak mendapatkan asupan oksigen yang memadai dalam proses persalinan hingga persalinan selesai. Keadaan ini termasuk dalam golongan serius karena bisa menyebabkan kematian. Keadaan ini pula bisa mengakibatkan masalah perkembangan bayi hingga saat dewasa di kemudian hari.
Penyebab asfiksia neonatorum
Asfiksia perinatal adalah nama lain dari asfiksia neonatorum.
Ada beberapa penyebab asfiksia neonatorum, di antaranya adalah:
- TTN (Transient tachypnea of newborn)
TTN (Transient tachypea of newborn) yakni sesak napas pada bayi baru lahir karena paru-parunya masih terisi oleh cairan air ketuban (amnion). Biasanya, ketika bayi masih berada dalam kandungan, parunya dalam kondisi terendam oleh air ketuban.Ketika prosedur partus normal, yang prosesnya melewati jalan lahir yang sempit, paru bayi akan “diperas” sampai-sampai cairan air ketuban keluar dari paru. Proses pemerasan ini tidak terjadi pada bayi yang lahir melalui persalinan sesar, sehingga muncul lah keadaan Transient tachypea of newborn.
- Sindrom aspirasi mekonium
Sindrom aspirasi mekonium ialah bayi yang sesak napas ketika baru lahir akibat feses disebut mekonium yang terhirup ke dalam saluran napas, sehingga masuk ke paru.Dalam kondisi normal, mekonium semestinya baru dikeluarkan bayi setelah dalam 24 jam ketika selesai kelahiran. Dalam sindrom pandangan mekonium, ketika bayi masih di dalam rahim ibu mekonium dikeluarkan. Keadaan ini umumnya terjadi bila bayi menderita gawat janin, ialah keadaan kehamilan yang mengakibatkan kesehatan janin bermasalah, umpamanya karena terjadi infeksi di dalam rahim, atau lilitan tali pusat.
- Membran hialin
Penyakit membran hialin adalah masalah paru-paru pada bayi baru lahir yang terjadi akibat paru bayi belum matang. Ketika bayi masih dalam kandungan, paru-paru nya masih dalam kondisi mengempis dan tidak dapat menerima oksigen. Lalu pada usia kehamilan 8.5–8.75 bulan, umumnya paru akan matang dahulu dan mengembang sehingga nudah menerima masuknya oksigen.Bila bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 8.5–8.75 bulan, besar kemungkinan parunya belum cukup matang dan besar, dan memungkinkanan bayi terlahir dengan membawa penyakit membrane hialin.
- Pneumonia
Pneumonia adalah jangkita pada paru bayi yang baru lahir sehingga paru tidak sanggup menarik oksigen sehingga terhambat membuang karbondioksida. Pneumonia pada bayi umumnya terjadi akibat terdapat infeksi di dalam rahim saat bayi masih dalam kandungan.
Penyebab lain dari asfiksia neonatorum
Lain dari itu, beberapa penyebab asfiksia neonatorum lain, yaitu:
- Anemia (kurang darah)
- Sakit bawaan pada jantung
- Distosia (Persalinan yang terlalu lama)
- Tekanan darah sang ibu saat sedang persalinan terlalu tinggi atau terlalu rendah
Diagnosis asfiksia neonatorum
Terdapat atau tidaknya asfiksia neonatorum bisa langsung ditemukan oleh dokter pada saat setelah bayi lahir dengan menghitung skor APGAR. Ini adalah pemeriksaan dokter untuk:
- Appearance (adakah bayi kelihatan biru atau tidak),
- Pulse (menakar detak jantung bayi), Grimace (menilai respon bayi bila diberi rangsangan),
- Activity (mengamati kontraksi otot bayi), dan
- Respiration (menilai bunyi napas bayi, terdengar atau tidak).
Setiap unsur tersebut diberi nilai 0, 1, atau 2. makin baik keadaan bayi, nilai APGAR nya semakin tinggi. Bila nilai APGAR sang bayi di bawah 7, dapat dogolongkan mengalami asfiksia neonatorum.
Pemeriksaan lain selain skor APGAR, biasaya foto rontgen dada bisa dilakukan guna membantu mengetahui lebih rinci penyebab asfiksia.
Sebagian gejala dan tanda yang diperlihatkan pada bayi yang mengalami asfiksia neonatorum adalah:
- Bayi merintih
- Bayi kelihatan lunglai
- Pada bibir juga agak kebiruan
- Pada kulit kelihatan pucat dan kebiruan
- Denyut jantung bisa terlalu cepat, bisa juga terlalu lambat
- Otot-otot pada dada kelihatan berkontraksi guna mendapatkan oksigen dalam membantu pernapasan
Pengobatan asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan yang serius dan membutuhkan tindakkan sesegera mungkin. Jika terlambat ditangani, otak akan kekurangan oksigen (hipoksia). Ini akan bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada otak.
Tindakakan Penanganan asfiksia neonatorum beragam, bersandar pada pemicunya. Meskipun secara umum, bayi yang menderita asfiksia neonatorum akan memperoleh suplementasi oksigen saat lahir dan perlu menjalani perlakuan yang sungguh-sungguh di rumah sakit.
Dan bila asfiksia neonatorum dipicu oleh gangguan membran hialin, maka biasaya bayi akan lekatkan continuous positive airway pressure (CPAP). Alat ini adalah untuk membantu pernapasan pada bayi dengan metode memasukkan tekanan positif ke dalam paru sehingga paru mengembang. Selanjut nya, surfaktan (zat untuk mengembangkan paru) juga bisa diberikan.
Bila asfiksia dipicu oleh sindrom aspirasi mekonium, setelah bayi lahir, dokter akan mengeluarkan mekonium yang ada di sepanjang saluran pernapasan menggunakan suction. Lain dari itu, biasanya antibiotik juga diberikan guna mencegah dan mengatasi infeksi pada paru. Jika mekonium yang masuk ke saluran napas cukup banyak, biasanya pemasangan ventilator dan perawatan di ICU akan dilakukan.
Asfiksia yang dipicu oleh transient tachypnea of newborn biasanya akan lenyap dengan sendiri dalam waktu tiga hari setelah kelahiran. Sepanjang sesak masih ada, umumnya bayi hanya diberikan oksigen.
Dan bila asfiksia neonatorum terjadi akibat pneumonia, maka tindak kan pengobatan dengan antibiotik harus diberikan Agar efektif, antibiotik akan diberikan dengan cara disuntik atau diinfus ke pembuluh darah bayi.
Pencegahan asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum tidak semua nya dapat dicegah. Maka dari itu ibu hamil disarankan untuk melakukan kontrol secara teratur ke dokter kandungan. Kontrol teratur bisa membantu memastikan kondisi kehamilan dan kesehatan janin dalam kondisi baik. Dengan demikian risiko bayi mengalami asfiksia neonatorum pun bisa menurun.