Jenis kanker sumsum tulang yang dikenal sebagai myelofibrosis mengganggu kemampuan tubuh untuk membuat sel darah. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan jaringan parut di sumsum tulang, yang mengganggu produksi sel darah.
Myelofibrosis seringkali tidak menunjukkan gejala pada awal penyakit. Namun, seiring gangguan pada produksi sel darah di sumsum tulang memburuk, penderita akan mengalami anemia, seperti pucat dan kelelahan, serta mudah berdarah.
Penyebab Myelofibrosis
Ketika sel induk di sumsum tulang mengalami mutasi atau perubahan DNA (gen), mereka harus dapat membelah diri menjadi sel-sel tertentu yang membentuk darah, seperti sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Ketika ini terjadi, ini dikenal sebagai myelofibrosis.
Setelah itu, sel-sel induk darah yang bermutasi akan bereplikasi dan membelah, menyebabkan lebih banyak sel yang berubah. Ini mengganggu produksi sel darah dan menyebabkan jaringan parut muncul di sumsum tulang.
Memelofibrosis tidak diturunkan dari orang tua, meskipun sering dikaitkan dengan mutasi atau perubahan gen.
Beberapa faktor risiko meningkatkan kemungkinan mutasi gen, seperti:
- Bertambahnya usia
Meskipun dapat menyerang siapa saja, myelofibrosis paling sering terjadi pada orang di atas lima puluh tahun. - Menderita kelainan sel darah
Myelofibrosis dapat terjadi pada individu yang memiliki kelainan sel darah, seperti essential thrombocythemia atau polisitemia vera. - Terpapar bahan kimia tertentu
Sering terpapar bahan kimia industri seperti toluene dan benzene meningkatkan risiko myelofibrosis. - Terpapar radiasi
Orang yang terpapar radiasi tinggi lebih berisiko mengalami myelofibrosis.
Gejala Myelofibrosis
Memelofibrosis seringkali tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak penderitanya tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit ini.
Namun, ketika penyakit ini berkembang dan mulai mengganggu produksi sel darah, beberapa gejala muncul, seperti:
- Gejala anemia, seperti kelelahan yang cepat, kulit yang pucat, dan sesak napas
- Sakit di sekeliling tulang rusuk karena limpa membesar
- Demam
- Sering mengeluarkan keringat
- tidak ingin makan
- Berat badan menurun
- Kulit yang mudah memar
- Hidung mengeluarkan darah (mimisan)
- Gusi berdarah
Saatnya ke dokter
Mungkin penderita tidak menyadari bahwa gejala mereka adalah gejala myelofibrosis. Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, periksakan diri Anda ke dokter, terutama jika gejala Anda tidak membaik.
Dokter yang memiliki penderita myelofibrosis harus melakukan kontrol rutin untuk memantau perkembangan penyakit mereka dan untuk mencegah dan mendeteksi komplikasi lebih dini.
Diagnosis Myelofibrosis
Dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan gejala pasien dan melihat tekanan darah, denyut nadi, dan kelenjar getah bening.
Tujuan dari pemeriksaan fisik ini adalah untuk menemukan tanda-tanda myelofibrosis, seperti anemia yang menyebabkan kulit menjadi pucat atau pembengkakan pada organ limpa.
Dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti:
- Tes darah
Dokter akan melakukan hitung darah lengkap untuk mengetahui jumlah sel darah merah, putih, dan trombosit. Jumlah sel darah yang terlalu banyak atau terlalu sedikit serta sel darah dengan bentuk yang tidak normal akan menunjukkan myelofibrosis. - Pemindaian
Untuk mengidentifikasi myelofibrosis, pembesaran limpa dapat ditemukan melalui pemindaian ultrasound (USG) perut. - Aspirasi dan biopsi sumsum tulang
Biopsi dan aspirasi sumsum tulang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dan darah pasien menggunakan jarum halu. Sampel jaringan tersebut kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengidentifikasi gangguan. - Tes genetik
Tes genetik dilakukan dengan mengambil sampel darah atau sumsum tulang pasien dan kemudian diperiksa di laboratorium. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menemukan perubahan gen yang terkait dengan myelofibrosis di dalam sel darah.
Pengobatan Myelofibrosis
Dokter akan berbicara dengan pasien dan keluarganya tentang metode pengobatan yang tersedia untuk menangani myelofibrosis setelah mereka mengetahui bahwa pasien menderita penyakit tersebut. Metode-metode ini termasuk:
- Transfusi darah
Jumlah sel darah merah dapat meningkat dan gejala anemia dapat diredakan dengan transfusi darah rutin. - Obat-obatan
Obat seperti thalidomide dan lenalidomide dapat mengecilkan organ limpa dan meningkatkan jumlah sel darah. Obat-obatan ini dapat digunakan bersama dengan obat lain kortikosteroid. - Obat JAK2 inhibitor
Obat JAK2 inhibitor diresepkan untuk menghentikan atau memperlambat mutasi gen yang memicu pertumbuhan sel kanker. - Kemoterapi
Obat yang dimaksudkan untuk membunuh sel kanker dan dapat diberikan dalam bentuk tablet atau suntikan disebut kemoterapi. - Radioterapi
Radioterapi menggunakan radiasi sinar khusus untuk membunuh sel. Tujuannya adalah untuk mengurangi ukuran organ limpa. - Transplantasi sumsum tulang
Jika myelofibrosis sudah sangat parah, transplantasi sumsum tulang dilakukan. Dokter mengganti sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat.
Komplikasi Myelofibrosis
Jika penyakit myelofibrosis tidak ditangani dengan segera, dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Tekanan darah yang meningkat di pembuluh darah hati dikenal sebagai hipertensi portal.
- Sakit punggung yang bertahan lama akibat limpa yang membesar
- pertumbuhan tumor di area tertentu dari tubuh
- Terdapat perdarahan di saluran cerna
- Perubahan dari myelofibrosis ke leukemia akut
Pencegahan Myelofibrosis
Meskipun myelofibrosis tidak dapat dicegah, menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur dapat mengurangi kemungkinan terkena penyakit tersebut. Akibatnya, myelofibrosis dapat terdeteksi lebih dini dan segera ditangani.
Selain itu, paparan senyawa kimia atau radiasi di lingkungan kerja meningkatkan risiko myelofibrosis.
Jika Anda bekerja di lingkungan yang sering terpapar zat kimia atau radiasi, gunakan alat pelindung diri yang sesuai dengan standar keselamatan kerja dan lakukan pemeriksaan medis secara berkala kepada karyawan Anda.