Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Infeksi

Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Extended-spectrum beta-lactamases atau ESBL merupakan enzim yang dibuat oleh bakteri tertentu. Enzim ini mengakibatkan bakteri kuat terhadap obat pembasmi bakteri (antibiotik). Hal inilah yang membuat infeksi bakteri penghasil ESBL sukar untuk diobati.

Escherichia coli (E. coli) dan Klebsiella pneumonia adalah jenis bakteri yang terbanyak menghasilkan ESBL. Infeksi karena kedua bakteri ini biasanya bisa diatasi dengan antibiotik biasa, seperti penisilin atau sefalosforin.

Namun, ESBL membuat bakteri tersebut kuat atau resistan terhadap antibiotik biasa sehingga butuh antibiotik yang lebih kuat untuk mengatasinya.

Dibawah ini penjelasan lebih lanjut tentang Escherichia coli (E. coli) dan Klebsiella pneumonia:

  • Escherichia coli (E. coli)
    E. coli adalah bakteri yang ada secara alami di dalam usus dan biasanya tidak berbahaya. Akan tetapi, ada beberapa jenis E. coli yang bisa menginfeksi tubuh dan menyebabkan penyakit. Infeksi tersebut bisa ditularkan lewat makanan, minuman, atau kontak dengan orang yang terjangkit.
  • Klebsiella pneumonia
    Klebsiella adalah bakteri yang terdapat di dalam usus, mulut, serta hidung manusia. Walaupun biasanya tidak berbahaya, Klebsiella juga bisa mengakibatkan infeksi nosokmial, yaitu infeksi yang banyak tersebar di fasilitas kesehatan.

Penyebab Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Infeksi bakteri penghasil ESBL bisa menular antar sesama manusia lewat sentuhan langsung, benda yang terkontaminasi, atau percikan air liur dari orang yang terinfeksi.

Biasanya bakteri penghasil ESBL banyak terdapat di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit. Contohnya, seseorang yang berjabat tangan dengan tenaga medis, yang sebenarnya rentan terpapar atau terkontaminasi bakteri penghasil ESBL. Namun, risiko ini bisa dikurangi dengan rajin cuci tangan.

Risiko infeksi bakteri penghasil ESBL

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi bakteri penghasil ESBL, yaitu:

  • Selalu kontak dengan pasien penyakit menular, misalnya orang yang bekerja sebagai dokter atau perawat di rumah sakit atau pusat kesehatan
  • Sedang di rawat dalam jangka waktu panjang di rumah sakit
  • Baru mengonsumsi antibiotik atau dalam jangka panjang, khususnya antibiotik dosis tinggi
  • Memakai infus, kateter urine, atau alat bantu pernapasan atau selang endoktrakeal (ETT)
  • Menderita cedera yang menimbulkan luka, seperti luka bakar
  • Sedang menjalani operasi
  • Mengalami penyakit jangka panjang (kronis), seperti diabetes
  • Berusia lanjut

Gejala Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Infeksi bakteri penghasil ESBL mempunyai gejala yang bergantung pada organ yang terinfeksi dan jenis bakterinya. Penyakit tersebut paling sering terjadi pada saluran kemih dan usus.

Pada infeksi saluran kemih, gejala yang bisa terjadi adalah:

  • Rasa seperti terbakar ketika sedang berkemih
  • Buang air kecil sedikit-sedikit, tetapi sering
  • Urine keruh atau kemerahan
  • Nyeri di perut bagian bawah

Apabila infeksi bakteri penghasil ESBL timbul di bagian usus, gejala yang akan tampak adalah:

  • Diare
  • Tidak nafsu makan
  • Perut kram
  • Kembung dan
  • Demam

Penyakit bakteri penghasil ESBL juga dapat menyerang kulit, umumnya pada luka yang terbuka. Gejala yang bisa timbul adalah kemerahan serta keluarnya cairan di area yang terinfeksi.

Saatnya ke dokter

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter bila Anda mengalami gejala yang sudah disebutkan di atas, khususnya bila mempunai faktor yang bisa meningkatkan risiko terinfeksi bakteri penghasil ESBL.

Kemudian, Anda juga perlu segera memeriksakan diri ke dokter bila merasakan demam yang belum membaik setelah 3 hari mengonsumsi antibiotik dari dokter, atau mengalami diare yang tidak kunjung mereda dan disertai darah.

Diagnosis Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Untuk melakukan diagnosis, dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan gejala yang dirasakan, riwayat kesehatan, juga obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien. Kemudian, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Agar diagnosis dapat ditegakkan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Pengambilan sampel darah, urine, atau cairan luka, untuk mengetahui infeksi bakteri
  • Uji resistensi antibiotik, untuk mengetahui apakah bakteri menghasilkan ESBL atau tidak

Apabila infeksi bakteri penghasil ESBL terbukti ada, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memahami jenis antibiotik mana yang baik untuk mengobati pasien.

Pengobatan Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Tindakan pengobatan infeksi bakteri penghasil ESBL akan dicocokkan dengan jenis bakteri yang menjadi penyebab infeksi. Biasanya, tindakan penanganan dilakukan dengan memberikan antibiotik. Akan tetapi, obat yang akan diberikan terbatas, sebab bakteri pemicunya telah tahan terhadap antibiotik.

Walaupun begitu, infeksi bakteri penghasil ESBL bisa diatasi bila dijumpai antibiotik yang tepat. Adapun obat-obatan yang akab diresepkan dokter untuk mengatasi kondisi tersebut meliputi:

  • Golongan carbepenem
  • Fosfomycin
  • Golongan obat penghambat beta-lactamase, seperti sulbactam dan tazobactam
  • Antibiotik non beta-lactam, misalnya makrolid
  • Colistin

Untuk diingat bahwa penggunaan antibiotik di atas atau antibiotik apa pun mesti disertai saran dari dokter. Ini dikarenakan setiap pasien mempunyai kondisi yang berbeda-beda sehingga jenis obat, dosisnya, serta lama penggunaannya, dapat berbeda pula.

Dalam befbagai kasus, infeksi bakteri penghasil ESBL perlu perawatan inap di rumah sakit. Ada kemungkinan pasien akan ditempatkan di ruangan khusus (isolasi) untuk memastikan bakteri tidak menyebar ke orang lain yang berada di rumah sakit.

Komplikasi Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Apabila bakteri penyebab infeksi telah kebal terhadap banyak antibiotik, tindakan penanganan infeksi bakteri penghasil ESBL akan semakin sulit dan dapat berlarut-larut. Jika terlambat ditangani, infeksi dapat berkembang dan menimbulkan risiko yang lebih parah, bahkan kematian.

Bakteri penghasil ESBL juga bisa menyebar dan masuk ke aliran darah (sepsis). Bila hal ini terjadi, gejala yang muncul adalah:

  • Demam tinggi dengan suhu diatas 38oC atau, bisa menurun hingga kurang dari 36oC
  • Menggigil
  • Mual
  • Muntah
  • Sesak napas
  • Linglung

Pencegahan Infeksi Bakteri Penghasil ESBL

Berbagai hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan infeksi bakteri penghasil ESBL antara lain:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalirsesudah berkegiatan, setelah menggunakan toilet, sebelum mengolah makanan, juga sebelum makan
  • Tidak berbagi pakai barang pribadi, seperti handuk atau pakaian
  • Menjaga kebersihan sanitasi, seperti toilet
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang telah melalui proses pematangan atau dimasak sampai matang
  • Menjaga kebersihan rumah serta lingkungan sekitar

Bila Anda mengalami infeksi bakteri penghasil ESBL dan dirawat di rumah, cara yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan adalah:

  • Menjaga tangan tetap bersih dengan rajin mencuci tangan
  • Jangan berbagi makanan atau berbagi pakai barang pribadi, seperti handuk, dengan penghuni rumah lain
  • Mencuci pakaian dengan deterjen dan membilasnya menggunakan air hangat
  • Mengurangi hubungan dengan penghuni lain di rumah juga di lingkungan luar rumah