Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Pendengaran, Telinga, THT

Otosklerosis

Pengerasan atau pertumbuhan tulang yang tidak normal pada telinga bagian tengah dikenal sebagai otorosklerosis, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dari tingkat yang ringan hingga berat.

Beberapa tulang kecil, maleus, incus, dan stapes, terletak di belakang gendang telinga di bagian tengah telinga. Ketika gelombang suara masuk ke dalam telinga dan melanjutkan ke telinga bagian dalam, tulang-tulang ini biasanya bergetar. Dengan cara ini, suara dapat didengar.

Otosklerosis adalah kondisi di mana gelombang suara tidak dapat masuk ke telinga bagian dalam, menyebabkan tulang-tulang di telinga bagian tengah menjadi kaku dan tidak dapat bergetar.

Penyebab Otosklerosis

Adanya pertumbuhan tulang yang tidak normal di bagian tengah telinga, paling sering pada tulang stapes, dikenal sebagai otorosklerosis. Tidak diketahui alasan pertumbuhan tulang ini terjadi. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kondisi ini, seperti:

  • berusia antara 20 dan 30 tahun
  • Kelamin wanita
  • Keluarga yang memiliki otosklerosis
  • Mengalami campak
  • cedera tulang telinga bagian dalam
  • Tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik

Gejala Otosklerosis

Salah satu gejala utama otosklerosis adalah gangguan pendengaran, yang dapat terjadi pada satu atau kedua telinga. Gejala awal adalah penderita tidak dapat mendengar suara bernada rendah, seperti bisikan, tetapi gejala tersebut kemudian akan memburuk seiring waktu.

Otosklerosis dapat menyebabkan gejala tambahan selain masalah pendengaran seperti:

  • Pusing
  • Berdenging di telinganya, atau tinnitus
  • Problem dengan keseimbangan
Kapan harus ke dokter

Gejala otosklerosis sulit dibedakan dari gejala penyakit telinga lainnya. Oleh karena itu, jika Anda mengalami keluhan yang telah disebutkan di atas, pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Dokter dapat mengetahui sumber masalah tersebut.

Diagnosis Otosklerosis

Untuk mendiagnosis otosklerosis, dokter akan memeriksa gejala dan riwayat medis pasien serta keluarganya. Setelah itu, mereka akan memeriksa telinga pasien secara fisik.

Untuk menetapkan diagnosis, dokter kemudian dapat melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • Tes audiometri dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan pendengaran pasien dengan mengukur rentang nada yang dapat didengar.
  • Tes timpanometri untuk mengukur fungsi gendang telinga
  • untuk melihat kondisi tulang dan jaringan telinga secara lebih jelas dan untuk menentukan apakah ada kelainan di dalamnya

Pengobatan Otosklerosis

Metode pengobatan otosklerosis dirancang untuk memperbaiki gangguan pendengaran dan mencegahnya menjadi lebih buruk. Dokter akan menyesuaikan metode ini dengan tingkat keparahan penyakit.

Beberapa metode perawatan adalah:

Penggunaan alat bantu dengar

Pada pasien dengan gangguan pendengaran ringan, dokter dapat menyarankan penggunaan alat bantu dengar.

Operasi stapedektomi

Pasien yang mengalami gangguan pendengaran yang parah melakukan stapedektomi. Dokter akan mengangkat tulang stapes dan menggantinya dengan prostesis, atau tulang stapes tiruan. Tujuannya adalah agar gelombang suara dapat masuk kembali ke telinga bagian dalam, yang akan menghasilkan peningkatan pendengaran.

Operasi pemasangan implan koklea (cochlear implant)

Jika otosklerosis menyebabkan kerusakan pada sel-sel telinga bagian dalam dan stapedektomi tidak dapat dilakukan, pemasangan implan koklea diperlukan.

Selama operasi ini, dokter akan memasang alat elektronik tertentu dalam telinga yang dapat menangkap suara. Alat ini akan menggerakkan struktur saraf bagian dalam telinga menuju otak.

Komplikasi Otosklerosis

Otosklerosis dapat menyebabkan tuli total, tetapi ini jarang terjadi. Dalam situasi seperti ini, telinga tidak dapat mendengar suara sama sekali. Penderita akan mengalami penurunan kualitas hidup sebagai akibatnya, seperti:

  • Peluang pekerjaan berkurang
  • kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain
  • Kehilangan keyakinan diri

Pencegahan Otosklerosis

Karena penyebabnya belum diketahui secara pasti, otosklerosis tidak dapat dicegah. Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko otosklerosis juga sulit dicegah, terutama faktor keturunan. Oleh karena itu, pasangan yang memiliki sejarah otosklerosis disarankan untuk melakukan konseling pranikah.