Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Otak

Afasia

Pengertian afasia

Afasia adalah gangguan otak sebelah kiri dalam mengucapkan atau berbahasa, afasia memengaruhi produksi atau pengertian terhadap pembicaraan dan kemampuan membaca atau menulis. Bagian otak yang biasa mengatur kemampuan berbahasa ini terletak pada sebelah kiri otak, gangguan ini dapat menyebabkan afasia.

Penderita afasia sering kali melakukan kekeliruan dalam menganalisa dan mengungkapkan sebuah kata atau kalimat. Rangkaian ungkapan kata-kata yang disampaikan sering sekali tidak cocok dengan apa yang dimaksudkan.

Bagian otak yang mengatur kemampuan berbahasa dan berbicara yang terganggu akibat simpton Afasia ini, Pada kebanyakan orang. Bagian ini terletak pada otak sebelah kiri.

Penyebab afasia

Afasia paling sering disebabkan oleh stroke. Namun, semua jenis kerusakan pada otak dapat menyebabkan afasia. Misalnya trauma pada otak, tumor pada otak, dan kelainan pada otak lainnya yang memburuk seiring berjalannya waktu.

Untuk menentukan diagnosa afasia dibutuhkan evaluasi menyeluruh oleh dokter. Pemeriksaan bisa dilakukan untuk menilai kemampuan memahami kata, pertanyaan, cerita; menyebutkan kata demi kata agar menjadi kalimat yang sesuai. Membaca dan menulis, menyampaikan ide dengan cara lain jika terdapat kesulitan berbicara, misalkan dengan gerak tubuh dan sebagainya.

Pemeriksaan lebih lanjut jika adanya kerusakan pada otak dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang, misalnya melalui MRI atau CT-Scan.

Jenis-jenis afasia

Terdapat beberapa jenis afasia dengan gejala yang berbeda-beda, yaitu:

  • afasia global: jenis afasia yang paling parah. Penderita dengan afasia global hanya bisa menghasilkan beberapa kata yang bisa dipahami dan jika diajak berbicara hanya sedikit kata-kata yang di mengerti. Dan yang lebih parahnya lagi, penderita ini tidak mampu membaca maupun menulis.
  • Afasia Broca (non-fluent aphasia): pada penderita afasia ini, pembicaraan sangat terbatas dan biasanya dalam penyampaian bahasa penderita menggunakan kata-kata singkat. Kurang lebih 4-5 buah kata.

    Vocabulari pada penderita afasia Broca sangat terbatas. Penderita viasanya bisa mengerti kata-kata yang ia dengarkan dan terima, cukup baik dicerna dan mampu membaca, tapi menulis sangat terbatas.

  • Pada penderita afasia mixed non-fluent, sangat kesulitan mengucapkan kata-kata. Sedikit sekali kata-kata yang dapat diucapkan. Sama dengan keadaan afasia Broca yang sudah parah.

    Mirip anak sekolah dasar, Kemampuan membaca dan menulis sangat terbatas. Penderita memiliki kesulitan memahami kata-kata yang disampaikan padanya.

  • Afasia Wernicke: untuk jenis afasia ini, produksi hasil kata-kata tidak ada masalah, sementara kemampuan memahami kata yang diucapkan terganggu. Alhasil penderita pada umumnya berbicara menggunakan banyak kata memproduksi kalimat yang panjang sekali, dan tidak bermakna.
  • Afasia anomik: penderita afasia anomik akan kesulitan menemukan kata-kata yang akan ia sampaikan, biasanya kata benda atau kata sifat yang sulit ia temukan atau sampaikan.

    Saat bicara, penderita memakai kata-kata yang terlalu banyak, meskipun tata bahasanya benar. Untuk memahami kata-kata biasanya tidak ada masalah.

  • Afasia primer progresif: ini adalah sindrom neurologis, di mana kemampuan untuk bahasa terganggu secara progresif dan perlahan-lahan.

    Kondisi ini disebabkan oleh problem neurodegeneratif. Contoh, karena penyakit Alzherimer. Terdapat kerusakan pada jaringan otak yang berfungsinya untuk kemampuan bahasa. Kendati diawali masalah berbahasa, pada tahap berjalan akan timbul masalah lainnya, seperti kehilangan memori.

Ada termasuk berbagai jenis afasia yang tidak sepenuhnya masuk dalam kategori yang telah dipaparkan diatas. Kombinasimya pun beragam dari beberapa jenis afasia.

Pengobatan afasia

Dari hasil pengobatan, afasia sering kali timbul karena dari kerusakan jaeingan otak, area otak yang mengalami kerusakan dan luasnya, faktor usia dan tingkat kesehatan dari si penderita.

Disarankan melakukan terapi bicara untuk membantu afasia. Terapi ini bertujuan untuk membantu seseorang menggunakan sisa dari kemampuan berbahasanya, mengembalikan kemampuan berbahasa semaksimal mungkin, dan mempelajari cara-cara lain untuk berkomunikasi (misalnya dengan gambar, menunjuk, menggunakan peralatan elektronik, dan sebagainya).