Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Bakteri

Paratifus

Paratifus, juga dikenal sebagai demam paratifoid, disebabkan oleh bakteri Salmonella parathyphi yang dapat menginfeksi usus dan menyebar ke aliran darah. Gejala paratifus biasanya berupa demam berhari-hari dengan suhu yang meningkat secara perlahan dan masalah di saluran pencernaan.

Penyakit paratifus memiliki gejala yang serupa dengan gejala tipes atau demam tifoid, tetapi gejala paratifus biasanya lebih ringan dan lebih jarang menyebabkan komplikasi.

Namun, paratifus dapat menyebabkan komplikasi usus bocor. Dalam kasus ini, penderita harus menjalani operasi untuk membersihkan kotoran dari rongga perutnya dan memperbaiki robekan usus.

Penyebab Paratifus

Bakteri Salmonella paratyphi yang menyebabkan paratifus terbagi menjadi tiga jenis:

  • Salmonella typhi A
  • Salmonella paratyphi B, juga dikenal sebagai Salmonella schottmuelleri
  • Salmonella paratyphi C, juga dikenal sebagai Salmonella hirschfeldii

Jika seseorang tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan kemudian menyentuh barang atau makanan yang dipakai atau dimakan oleh orang lain, mereka dapat tertular bakteri S. paratyphi dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja atau urine penderita paratifus.

Bakteri S. paratyphi dapat ditemukan pada tinja atau urine orang yang telah sembuh dari paratifus, tetapi mereka tidak hanya membawa bakteri tersebut.

Selain itu, seseorang dapat tertular bakteri S. paratyphi jika mereka minum air dari sumber air yang tercemar tanpa merebusnya terlebih dahulu. Mengonsumsi makanan laut yang mentah atau kurang matang dari sumber air yang tercemar juga dapat menyebabkan penularan bakteri.

Faktor risiko paratifus

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena paratifus adalah:

  • Berhubungan langsung dengan orang yang menderita paratifus
  • memiliki riwayat mengalami demam paratifoid atau tinggal bersama orang yang menderita demam paratifoid
  • Kurang menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri
  • Memiliki riwayat menggunakan obat imunosupresan atau pencegah reaksi transplantasi organ sebelumnya
  • Mengalami masalah dengan saluran pencernaan
  • Mengalami penyakit yang dapat mengurangi daya tahan tubuh, seperti kanker atau HIV/AIDS

Gejala Paratifus

Masa inkubasi, atau periode waktu sejak seseorang terinfeksi bakteri Salmonella paratyphi hingga munculnya gejala, berkisar antara enam dan tiga puluh hari; pada beberapa individu, masa inkubasi ini lebih cepat. Kemudian gejala akan muncul, seperti:

  • Demam
  • Sakit kepala kronis
  • Sakit kerongkongan
  • Berkurangnya berat badan
  • Nafsu makan berkurang
  • Malaise, atau ketidaknyamanan
  • Sembelit
  • Diare
  • Rasa sakit di perut
  • Mual serta muntah

Paratifus biasanya memiliki pola demam yang mirip dengan demam tifoid, yaitu meningkat secara bertahap dengan suhu tubuh yang lebih tinggi pada malam hari.

Beberapa penderita paratifoid juga dapat mengalami gejala lain, seperti lemas, ruam merah muda (ruam merah), batuk kering, atau pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali).

Kapan harus ke dokter

Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas, periksakan diri Anda ke dokter. Gejala demam paratifus terkadang mirip dengan gejala infeksi lain. Oleh karena itu, pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama penyakit dan menghindari komplikasi.

Selama pengobatan dengan demam paratifoid, lakukan kontrol rutin. Ini dilakukan untuk memantau perkembangan penyakit dan menghapus bakteri S. paratifoid dari tubuh Anda agar Anda tidak menjadi tertular.

Diagnosis Paratifus

Dokter akan menanyakan gejala yang dialami, riwayat perjalanan atau kondisi tempat tinggal, makanan atau minuman yang dikonsumsi, dan apakah orang lain di rumah atau tetangga mengalami gejala serupa.

Selanjutnya, dokter akan memeriksa pasien, termasuk mengukur suhunya dan memastikan apakah ada pembesaran limpa atau hati serta ruam merah di kulitnya.

Untuk membuat diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • Kultur bakteri dari darah, urine, atau feses untuk mengidentifikasi bakteri yang menyebabkan gejala dan keluhan
  • Tes Widal dilakukan untuk mengidentifikasi antibodi yang menunjukkan infeksi paratyphi.

Pengobatan Paratifus

Tujuan pengobatan paratifus adalah untuk meredakan gejala, menghentikan infeksi, dan menghindari kekambuhan. Paratifus dapat diobati dengan tiga cara: obat, terapi mandiri, dan perawatan rumah sakit. Ini penjelasannya:

Pemberian obat-obatan

Dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala dan menghentikan infeksi, beberapa di antaranya adalah:

  • Obat untuk mengurangi demam, seperti paracetamol
  • Antibiotik seperti ciprofloxacin, azithromycin, amoxicillin, sefalosporin generasi ketiga, ampilisin, kloramfenikol, atau kotrimoksazol
Terapi mandiri

Untuk mencegah dehidrasi yang mengakibatkan demam, muntah, dan diare, penderita paratifus harus mengonsumsi lebih banyak air putih dan makanan lunak jika mereka tidak terlalu nafsu makan.

Perawatan di rumah sakit

Jika seseorang terus muntah dan diare, terutama jika disertai dengan perut yang tegang dan membesar, perawatan di rumah sakit diperlukan. Dokter akan memberikan obat dan cairan melalui infus.

Komplikasi Paratifus

Paratifus dapat menyebabkan beberapa komplikasi jika tidak diobati. Komplikasi ini biasanya muncul pada minggu kedua atau ketiga setelah infeksi.

Salah satu komplikasi yang dapat muncul sebagai akibat dari demam paratifus adalah:

  • Infeksi yang dapat menyebabkan sepsis
  • peradangan pada organ lain seperti liver (hepatitis) atau jantung (miokarditis dan endokarditis)
  • Meningitis
  • Perdarahan dalam usus
  • Usus yang pecah atau robek (perforasi usus)

Pencegahan Paratifus

Sampai saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah penyakit paratifus, tidak seperti tipes. Bakteri penyebab paratifus berbeda dari yang disebabkan oleh vaksin tipes.

Namun, kemungkinan terkena demam paratifus dapat dikurangi dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setiap kali Anda buang air kecil atau buang air besar, cuci tangan dengan sabun dan air bersih
  • Sayuran dan buah-buahan harus dicuci sebelum diolah atau dikonsumsi
  • Segera minum air dalam kemasan atau rebus air hingga mendidih
  • Jika bepergian ke wilayah yang rentan terhadap paratifoid dan tifoid, sikat gigi dan berkumur dengan air matang atau air kemasan
  • tidak berbagi peralatan makan, minum, dan mandi dengan orang lain
  • Jangan makan makanan mentah, setengah matang, atau minuman yang tidak bersih
  • Berhati-hati saat makan di pinggir jalan
  • Menjaga kebersihan lingkungan