Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Autoimun

Sindrom Guillain-Barré

Sindrom Guillain-Barré muncul ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf tepi.Kondisi ini ditandai dengan kesemutan dan kelemahan otot pada tungkai, yang mungkin menyebabkan kelumpuhan.

Sistem kekebalan tubuh merusak mielin, selaput saraf yang melindungi sistem saraf tepi, pada sindrom Guillain Barré. Sistem saraf tepi sendiri mengirimkan sensasi dari tubuh ke otak dan perintah gerak dari otak ke otot.

Berkurangnya atau hilangnya kemampuan saraf untuk mengirimkan sinyal dari tubuh ke otak dan juga sebaliknya disebabkan oleh kerusakan pada saraf tepi ini. Akibatnya, penderita sindrom Guillain Barré mengalami kelemahan dan sensasi tubuh yang tidak normal.

Penyebab Sindrom Guillain-Barré

Faktor penyebab sindrom Guillain-Barré belum diketahui. Namun, penyakit ini dianggap sebagai reaksi autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh (antibodi) menyerang sistem saraf tepi daripada mikroorganisme atau benda asing.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, ada dugaan bahwa reaksi autoimun pada sindrom Guillain-Barré disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, salah satunya adalah pneumonia putih paru-paru yang berbahaya, atau infeksi saluran pencernaan tertentu. Namun, meskipun sangat jarang, beberapa kasus sindrom Guillain-Barré disebabkan oleh tindakan bedah atau vaksinasi.

Faktor risiko sindrom Guillain-Barré

Sindrom Guillain-Barré dapat menyerang siapa saja, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, penyakit ini dilaporkan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Menurut penelitian, beberapa kondisi dapat menyebabkan sindrom Guillain-Barré:

  • Covid-19
  • Hepatitis A, B, C dan E
  • HIV/AIDS
  • Cytomegalovirus
  • Infeksi virus flu
  • Penyebaran virus Epstein-Barr
  • Infeksi oleh virus Zika
  • Infeksi Campylobacter bakteri
  • Infeksi oleh Mycoplasma
  • Limfoma Hodgkin
  • Vaksin untuk flu
  • Bedah

Gejala Sindrom Guillain-Barré

Gejala sindrom Guillain-Barré umumnya bermula dari ujung tubuh, yaitu kaki dan tangan, dan terjadi pada kedua sisi. Pada beberapa kasus, gejala bisa bermula dari wajah. Gejala awal yang muncul adalah:

  • Ketidaknyamanan
  • Sakit
  • Hilangnya rasa
  • Kelemahan pada otot
  • Masalah keseimbangan

Kelainan ini akan berkembang dari bawah ke atas dalam beberapa jam atau hari, dan akan terus menjadi lebih parah selama dua minggu. Gejalanya dapat termasuk:

  • Gangguan keseimbangan menyebabkan kesulitan berjalan atau menaiki tangga
  • Kesulitan melakukan tugas yang melibatkan otot wajah, seperti mengunyah, menelan, atau berbicara
  • Tidak dapat menggerakkan kaki atau tangan sama sekali
  • Penglihatan ganda atau tidak dapat menggerakkan mata
  • kesulitan untuk buang air kecil atau buang air besar
  • Jantung berdebar kencang
  • Kesulitan bernapas
Saatnya ke dokter

Secepatnya cari pertolongan medis apabila Anda mengalami:

  • Kelemahan atau kesemutan di jari kaki atau tangan yang menjalar ke atas
  • kesulitan menarik napas bahkan saat tidur
  • Tanda-tanda kelumpuhan, sesak napas, dan sering tersedak

Penanganan darurat di rumah sakit diperlukan karena keluhan di atas dapat memburuk dengan cepat, dan lebih cepat penanganan diberikan, lebih besar peluang penderita untuk sembuh.

Diagnosis Sindrom Guillain-Barré

Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan gejalanya. Kemudian, mereka akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan saraf tepi, khususnya pada tungkai, untuk mengidentifikasi kelemahan dan mati rasa. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Elektromiografi digunakan untuk mengukur aktivitas listrik otot dan saraf
  • Tes konduksi saraf digunakan untuk mengukur kecepatan sinyal yang dikirim ke saraf
  • Lumbal pungsi, untuk menghilangkan keluhan yang mungkin disebabkan oleh penyakit lain, seperti infeksi

Pengobatan Sindrom Guillain-Barré

Pengobatan sindrom Guillain-Barré dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu: Pengobatan bertujuan untuk meredakan gejala pasien dan mempercepat penyembuhan.

Memberikan immunoglobulin intravena (IVIg)

Tujuan pemberian IVIg adalah untuk mencegah antibodi yang menyerang saraf pasien dengan mengambil immunoglobulin sehat dari darah pendonor dan kemudian memberikannya kepada pasien melalui infus.

Plasmaferesis atau penggantian plasma darah

Pada metode ini, dokter akan menggunakan mesin khusus untuk menyaring antibodi jahat di dalam darah pasien. Setelah itu, antibodi jahat akan dihilangkan dari darah yang telah disaring.

Dokter akan memantau kondisi organ vital pasien selama perawatan, dan mereka juga dapat melakukan hal-hal berikut:

  • Obat yang meredakan nyeri, mengurangi sembelit, dan mencegah penggumpalan darah
  • Pemasangan selang untuk memudahkan menelan
  • Instalasi ventilator untuk memperbaiki masalah pernapasan
  • Pemakaian kateter untuk mengatasi masalah buang air kecil
  • Mengatasi gangguan menelan dan berbicara melalui terapi wicara
  • Mengatasi gangguan gerak dengan latihan fisik

Komplikasi Sindrom Guillain-Barré

Kelumpuhan dan kerusakan saraf yang disebabkan oleh sindrom Guillain-Barré dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi, di antaranya:

  • Gagal napas disebabkan oleh kelumpuhan otot pernapasan
  • Ketidakstabilan tekanan darah
  • Syok neurogenik (tekanan darah yang turun drastis)
  • Irama jantung yang tidak normal
  • Penggumpalan darah, yang berpotensi memicu serangan jantung atau stroke
  • Luka di punggung atau bokong yang disebabkan oleh berbaring terlalu lama

Selain berpotensi menyebabkan kematian, sindrom Guillain-Barré juga dapat menyebabkan kambuh dalam hitungan tahun. Selain itu, sindrom Guillain-Barré juga dapat menyebabkan serangan jantung atau sindrom stres napas akut. Namun, kedua hasil ini sangat jarang terjadi.

Mayoritas penderita sindrom Guillain-Barré dapat sembuh dalam beberapa bulan atau tahun. Namun, pada beberapa kasus, mereka dapat mengalami komplikasi jangka panjang, seperti:

  • Tidak dapat berjalan sendiri atau memerlukan kursi roda
  • Kelemahan pada otot tungkai dan wajah
  • Ketidaknyamanan, sakit, atau mati rasa
  • masalah keseimbangan
  • Sering kelelahan

Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan bahkan kondisi emosionalnya. Oleh karena itu, pasien dengan sindrom Guillain-Barre yang mengalami komplikasi jangka panjang disarankan untuk terus menjalani terapi lanjutan, seperti:

  • Terapi fisik yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan gerak pasien
  • Terapi okupasi untuk membantu pasien membiasakan diri dengan keterbatasannya dalam aktivitas sehari-hari
  • Psikoterapi, membantu pasien menerima kondisinya dan tetap optimistis tentang terapi jangka panjang

Pencegahan Sindrom Guillain-Barré

Seperti yang dinyatakan di atas, penyebab sindrom Guillain-Barré belum diketahui secara pasti. Akibatnya, metode pencegahan penyakit ini juga belum diketahui.