Gejala muncul bertahap
Keluhan biasanya mulai 4–6 hari setelah tertular: pilek, hidung tersumbat, batuk, bersin, demam dan wheezing. Bronkiolitis membuat napas cepat, dada tertarik dan sulit minum. Dewasa dapat mengalami flare asthma/COPD atau pneumonia. Gejala RSV tidak dapat dibedakan pasti dari flu/COVID hanya dari tampilan; tes dipakai bila memengaruhi isolasi atau terapi.
Perawatan utama adalah dukungan
Cairan/ASI sedikit tapi sering, saline dan suction lembut pada bayi, serta paracetamol/ibuprofen sesuai usia membantu. Jangan beri aspirin pada anak atau obat cough/cold pada anak kecil tanpa arahan. Antibiotik tidak bekerja pada RSV kecuali ada infeksi bakteri. Rumah sakit memberi oksigen, cairan/feeding support dan ventilasi bila perlu; bronchodilator/steroid tidak rutin untuk bronkiolitis sederhana.
Kurangi penularan
RSV menyebar lewat droplet, tangan dan permukaan: cuci tangan, tutup batuk, bersihkan benda sering disentuh, ventilasi, tinggal di rumah saat sakit dan hindari kontak dekat dengan bayi/lansia rentan. Masker memberi lapisan perlindungan di ruang ramai/ketika merawat. Asap rokok meningkatkan risiko dan keparahan pernapasan.
Pencegahan medis berubah menurut negara
Vaksin RSV tersedia untuk kelompok dewasa/kehamilan tertentu dan long-acting monoclonal antibody dapat melindungi bayi; eligibility, musim dan produk mengikuti otoritas lokal. Umumnya perlindungan bayi berasal dari vaksin ibu atau antibodi bayi, bukan keduanya pada kebanyakan situasi. Tanyakan fasilitas kesehatan karena ketersediaan Indonesia dapat berbeda dari CDC.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC — RSV symptoms and care, CDC — RSV in infants and young children, WHO — respiratory syncytial virus. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.