Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Sindrom Kostmann

Sindrom Kostmann adalah kelainan genetik langka yang menyebabkan tubuh kekurangan neutrofil, salah satu jenis sel darah putih yang sangat penting dalam melawan infeksi. Akibatnya, penderitanya berisiko mendapat infeksi. Kondisi ini dapat terdeteksi mulai dari bayi baru lahir dan dapat bertahan hingga dewasa.

Sindrom Kostmann, juga dikenal sebagai agranulocytosis genetik anak kecil atau neutropenia congenital yang parah, adalah kondisi yang sangat jarang dan diperkirakan hanya terjadi pada 3 hingga 8 kasus dari 1 juta orang.

Anak-anak dengan sindrom Kostmann lebih rentan mengalami infeksi berulang, terutama pada rongga sinus, paru-paru, dan hati. Mereka juga berisiko mengalami sindrom mielodisplasia (MDS), yaitu kondisi di mana sumsum tulang menghasilkan sel darah yang tidak sempurna.

Penyebab Sindrom Kostmann

Neutrofil, sel darah putih yang sangat penting untuk melawan infeksi, dapat mengalami Sindrom Kostmann karena mutasi atau perubahan pada gen yang mengatur fungsinya. Mutasi dapat mengganggu fungsi neutrofil atau membuat neutrofil mati lebih cepat.

Sekitar setengah dari kasus sindrom Kostmann disebabkan oleh mutasi gen ELANE, dan 10% lainnya disebabkan oleh mutasi gen HAX1. Di sisi lain, mutasi genetik yang menyebabkan sindrom Kostmann masih menjadi subjek penelitian lebih lanjut.

Pola penurunan sindrom Kostmann

Tergantung pada gen yang mengalami mutasi, ada beberapa pola penurunan genetik yang dapat menyebabkan Sindrom Kostmann diwariskan. Berikut ini adalah jenis pola penurunan dan penjelasannya:

Autosomal dominant

Pola penurunan ini paling sering terlihat pada sindrom Kostmann yang disebabkan oleh mutasi gen ELANE. Pola penurunan yang paling umum adalah pola autosomal dominant.

Pada pola ini, orang tua dengan sindrom Kostmann memiliki risiko sebesar 50% untuk menurunkan mutasi gen ELANE pada anak laki-laki atau perempuan.

Autosomal recessive

Pola penurunan ini ditemukan pada sindrom Kostmann yang disebabkan oleh mutasi gen HAX1. Dalam kasus di mana kedua orang tua anak tersebut tidak mengalami gejala sindrom Kostmann tetapi membawa gen tersebut, risiko anak tersebut menderita sindrom Kostmann berkisar antara 0 dan 25 persen.

Jika ada riwayat sindrom Kostmann pada orang tua atau anggota keluarga lainnya, kemungkinan anak terkena sindrom tersebut meningkat.

X-linked recessive

Sindrom Kostmann dapat diwariskan dengan pola pewarisan x-linked recessive, yang terjadi karena mutasi gen pada kromosom X. Pola pewarisan ini paling sering terjadi pada anak laki-laki.

Wanita yang mewarisi mutasi gen ini disebut pembawa. Dengan kata lain, meskipun dia tidak menunjukkan gejala, dia masih rentan terkena sindrom Kostmann pada anak laki-lakinya.

Selain itu, dalam beberapa kasus, sindrom Kostmann juga dapat terjadi pada orang yang sebelumnya tidak pernah menderita penyakit ini dalam keluarga mereka.

Gejala Sindrom Kostmann

Penderita sindrom Kostmann dapat menunjukkan gejala yang berbeda tergantung pada seberapa parah kekurangan neutrofil dalam tubuh mereka.Salah satu masalahnya adalah:

  • Radang gusi atau sariawan
  • Infeksi yang mengandung nanah atau abses di dubur, paru-paru, atau hat
  • Infeksi tenggorokan (faringitis), sinus (sinusitis), bronkitis (bronkitis), pneumonia (paru-paru), omfalitis (pusar), saluran kemih, atau selaput rongga perut (peritonitis)
  • Pembesaran kelenjar getah bening, yang dikenal sebagai limfadenopati, atau pembesaran limpa, yang dikenal sebagai splenomegali
  • Diare yang berlangsung lama dan disertai dengan muntah
  • Patah tulang atau nyeri
  • Infeksi yang terjadi di saluran kemih
  • Infeksi kulit, seperti selulitis atau pertumbuhan bisul yang signifikan
Kapan harus ke dokter

Ketika bayi dilahirkan di rumah sakit dan menunjukkan gejala sindrom Kostmann, dokter segera memeriksanya.

Jika anak Anda menderita sindrom Kostmann, lakukan pemeriksaan rutin. Ini dilakukan untuk melacak kondisi kesehatan anak dan mengevaluasi seberapa baik pengobatan yang diberikan.

Selain itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai pemeriksaan genetik atau skrining sebelum merencanakan kehamilan jika Anda memiliki anggota keluarga dengan sindrom Kostmann.

Chat Bersama Dokter juga dapat digunakan untuk berkonsultasi dengan dokter, terutama dengan keluhan ringan seperti sariawan berulang, radang gusi, atau infeksi ringan tanpa demam tinggi. Layanan ini juga bermanfaat untuk menanyakan jadwal kontrol dan mendapatkan informasi tentang perawatan dan pencegahan infeksi di rumah.

Namun, segera bawa pasien dengan sindrom Kostmann ke IGD terdekat untuk penanganan langsung jika mereka mengalami demam tinggi, infeksi berat, sesak napas, nyeri hebat, atau perburukan gejala dengan cepat.

Diagnosis Sindrom Kostmann

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien untuk mendiagnosis sindrom Kostmann.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis. Ini termasuk:

  • Hitung darah lengkap untuk mengetahui jumlah neutrofil dalam darah. Kadar neutrofil pada penderita sindrom Kostmann di bawah 500/mm3.
  • Biopsi sumsum tulang, di mana sampel jaringan diambil dan diperiksa di laboratorium untuk menilai kondisi sumsum tulang
  • Tes genetik untuk mengidentifikasi perubahan gen yang menyebabkan sindrom Kostmann.

Pengobatan Sindrom Kostmann

Tujuan pengobatan sindrom Kostmann adalah untuk memerangi infeksi, meredakan gejala, dan mencegah komplikasi. Metode pengobatannya akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Metode yang dapat digunakan termasuk:

Pemberian antibiotik

Antibiotik membantu menghentikan dan mengatasi infeksi berulang yang sering terjadi pada pasien dengan sindrom Kostmann. Kotrimoksazol, seperti Etamoxul dan Sanprima, dan metronidazole, seperti Grafazol atau Molazol, adalah beberapa contoh antibiotik yang dapat digunakan.

Pemberian suntik granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF)

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mendorong sumsum tulang untuk menghasilkan lebih banyak sel darah putih, sehingga kadar neutrofil dalam darah kembali ke tingkat normal. Obat G-CSF terdiri dari dua jenis: pegfilgrastim dan lenograstim.

Untuk efek samping jangka pendek, seperti flu dan nyeri tulang, G-CSF dapat menyebabkan trombositopenia (kekurangan trombosit) dalam jangka panjang. Efek samping ini akan hilang setelah dokter mengurangi dosis obat.

Transplantasi sumsum tulang

Transplantasi sumsum tulang dapat dilakukan secara autologous (menggunakan sel pasien) atau allogeneic (menggunakan sel pendonor). Sel punca yang digunakan untuk transplantasi dapat berasal dari sumsum tulang, ari-ari, atau darah tepi.

Satu-satunya pilihan pengobatan untuk pasien yang telah menjalani terapi G-CSF tetapi masih mengalami infeksi parah adalah transplantasi sumsum tulang.

Komplikasi Sindrom Kostmann

Sekitar 50% penderita sindrom Kostmann mengalami pengeroposan tulang atau osteoporosis, contoh komplikasi jangka panjang lainnya.

Sekitar 21% penderita sindrom Kostmann dapat mengalami sindrom mielodisplasia (MDS) dan leukemia mieloblastik akut, meskipun mereka telah menjalani terapi G-CSF selama sepuluh tahun.

Symptoms of sindrom mielodisplasia and leukemia mieloblastik akut include:

  • Kelelahan
  • Pucat
  • Sesak napas
  • Perdarahan ringan dan mudah terjadi
  • Infeksi yang umum terjadi
  • Reduksi berat badan

Pencegahan Sindrom Kostmann

Sindrom Kostmann adalah kelainan genetik yang sulit untuk dicegah. Namun, penyakit ini dapat dihindari dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat sejak awal.

Disarankan untuk menjalani pemeriksaan genetik sebelum merencanakan kehamilan jika Anda memiliki anggota keluarga yang didiagnosis dengan sindrom Kostmann. Pemeriksaan ini dapat dilakukan meskipun Anda tidak menunjukkan gejala apa pun, dan tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa kecil kemungkinan terkena anak dengan sindrom ini.