Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Uncategorized

Kelumpuhan; Paralisis

Kelumpuhan atau paralisis merupakan kondisi saat satu atau beberapa bagian tubuh tidak bisa digerakkan. Keadaan ini bisa disebabkan oleh gangguan pada otot atau saraf, cedera, atau penyakit tertentu.

Kelumpuhan bisa berlangsung sementara atau selamanya, baik bagi penderita yang hanya mengalami kelemahan maupun sama sekali tidak bisa menggerakkan bagian tubuh tertentu.

Pengobatan kelumpuhan tergantung dari penyebabnya. Metode penanganannya bisa dengan obat-obatan, fisioterapi, atau operasi. Bisa juga dengan penggunaan alat bantu jika kelumpuhan tersebut bersifat permanen.

Penyebab Kelumpuhan

Otot sangat berperan penting dalam menguasai setiap gerakan tubuh manusia. Dalam setiap pergerakkan tubuh, otot bekerja sama dengan tulang, saraf, dan jaringan penghubung antara otot, saraf, dan tulang. Saat satu diantara jaringan tersebut mengalami gangguan, maka kelumpuhan bisa terjadi.

Di bawah ini adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya kelumpuhan:

1. Stroke

Serangan stroke bisa menyebabkan kelumpuhan pada salah satu sisi wajah, lengan, serta tungkai dengan tiba-tiba. Stoke ada dua jenis, pertama stroke iskemik (stroke infark) kedua stroke hemoragik. Stroke terjadi pada bagian tertentu, seperti stroke batang otak, yang bisa juga menyebabkan kelumpuhan total.

2.Bell’s palsy

Penyakit Bell’s palsy dapat menyebabkan kelumpuhan pada salah satu sisi wajah secara tiba-tiba dengan tidak disertai kelumpuhan di tempat lain.

3. Cedera otak

Benturan kuat di kepala juga bisa menyebabkan cedera atau gangguan fungsi otak. Hal ini berisiko menimbulkan kelumpuhan di bagian tubuh mana pun, sesuai bagian otak yang rusak.

4. Cedera saraf tulang belakang

Kelumpuhan karena cedera saraf tulang belakang bisa terjadi di tungkai saja, di lengan dan tungkai, atau kadang di otot dada. Kelumpuhan bisa terjadi dengan perlahan atau spontan, tergantung dari tingkat keparahan cedera.

5. Polio

Penyakit polio bisa menyebabkan kelumpuhan di lengan dan tungkai, sampai otot pernapasan. Kelumpuhan disebabkan polio terjadi dengan perlahan, setidaknya beberapa tahun setelah terinfeksi polio.

6. Sindrom Guillain-Barré

Sindrom Guillain-Barre mengakibatkan kelumpuhan di tungkai, serta bisa menyebar secara bertahap ke lengan dan wajah setelah beberapa hari atau minggu.

7. Cerebral palsy

Celebral palsy adalah kondisi cacat lahir yang berakibat pada kelumpuhan di salah satu sisi tubuh, termasuk lengan dan tungkai. Kelainan tersebut dipicu oleh gangguan perkembangan otak yang terjadi pada saat bayi masih di dalam kandungan.

8. Multiple sclerosis

Penyakit multiple sclerosis bisa menyebabkan kelumpuhan di bagian wajah, lengan, atau tungkai dengan gejala yang hilang-timbul.

9. Myasthenia gravis

Mirip dengan multiple sclerosis, myasthenia gravis juga bisa menyebabkan kelumpuhan di wajah, lengan, atau tungkai, dengan gejala yang hilang-timbul.

10. Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)

ALS dapat berakibat pada gangguan saraf otak dan tulang belakang sehingga penderitanya berisiko menderita kelumpuhan di wajah, lengan, atau tungkai secara bertahap. Amyotrophic lateral sclerosis dapat juga menyebabkan kelumpuhan pada otot pernapasan.

Selain beberapa penyebab di atas, kelumpuhan juga bisa terjadi karena kerusakan saraf yang menyeluruh karena racun botulisme. Jenis racun botulisme dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Umumnya bakteri ini mengontaminasi makanan kalengan yang tidak diproses dengan baik.

Gejala Kelumpuhan

Pada saat mengalami kelumpuhan, penderita akan merasakan gejala utama seperti kesulitan menggerakkan bagian tubuh tertentu. Gejala tersebut bisa muncul dengan perlahan, mendadak, atau kadang hilang-timbul.

Gejala kelumpuhan bisa terjadi pada bagian tubuh mana saja, baik itu satu bagian tubuh saja atay pada area tubuh yang lebih luas.

Bagian tubuh yang berisiko merasakan kelumpuhan meliputi wajah, lengan, tungkai, dan pita suara. Dalam kondisi yang parah, otot-otot pernapasan juga bisa mengalami kelumpuhan.

Dari lokasi dan anggota gerak tubuh yang terkena, kelumpuhan bisa dikelompokkan menjadi:

  • Monoplegia, yakni kelumpuhan di salah satu lengan atau tungkai
  • Hemiplegia, adalah kelumpuhan lengan dan tungkai pada satu sisi tubuh
  • Diplegia, yakni kelumpuhan pada kedua lengan atau kedua sisi wajah
  • Paraplegia, adalah kelumpuhan pada kedua tungkai
  • Quadriplegia, merupakan kelumpuhan pada kedua lengan dan kedua tungkai, namun juga dapat mengenai organ tubuh lain di bagian bawah leher, misalnya usus, saluran kemih, atau otot pernapasan

Kelumpuhan yang terjadi dengan perlahan karena suatu penyakit yang ditandai oleh beberapa gejala yang timbul sebelum penderita mengalami kelumpuhan total. Gejala tersebut adalah:

  • Tidak terasa terhadap sentuhan
  • Kesemutan
  • Kram dan sakit otot
  • Mati rasa
Saatnya ke dokter

Secepatnya periksakan diri ke dokter saraf bila mengalami gejala kelumpuhan, termasuk gejala yang datang-pergi, apalagi jika gejala makin memburuk. Nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.

Bila kelumpuhan terjadi dengan tiba-tiba atau penyebabnya adalah kecelakaan, segera ke IGD rumah sakit terdekat. Anda juga disarankan untuk ke IGD bila kelumpuhan diikuti dengan sesak napas.

Periksakan diri secara rutin untuk mengetahui tekanan darah dan kadar gula darah, terutama bila Anda menderita diabetes atau hipertensi. Penyakit diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol berisiko tinggi tubuh mengalami stroke, salah satu penyebab utama kelumpuhan.

Kelumpuhan juga bisa disebabkan oleh polio. Lakukan vaksinasi folio sesuai jadwal imunisasi agar folio bisa dicegah dan anak Anda dapat terhindar dari risiko kelumpuhan. Apabila belum pernah atau terlewat menjalani vaksinasi polio, konsultasikan dengan dokter bagaimana cara mengejar imunisasi yang terlewat.

Diagnosis Kelumpuhan

Diagnosis dapat dilakukan apabila kelumpuhan yang dialami penderita tidak dapat menggerakkan bagian tubuh tertentu. Dalam kondisi ini, pemeriksaan saraf akan dilakukan untuk menilai pergerakan otot dan saraf sensorik.

Agar penyebab serta tingkat keparahan kelumpuhan bisa diketahui, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Foto Rontgen
  • CT scan
  • MRI
  • Elektromiografi (EMG)
  • Lumbal pungsi

Penanganan Kelumpuhan

Prosdur untuk menangani kelumpuhan akan ditetapkan dari penyebab yang mendasarinya. Tindakan yang dilakukan oleh dokter bertujuan agar bisa meredakan gejala dan membantu pasien dalam agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan adalah:

1. Fisioterapi

Terapi jenis ini bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsi bagian tubuh yang mengalami cedera, menghindari kecacatan dan mengurangi risiko cedera di kemudian hari. Jenis fisioterapi yang dilakukan akan dicocokkan dengan kondisi pasien.

2. Terapi okupasi

Terapi okupasi adalah serangkaian latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari. Sesudah menjalani terapi okupasi, pasien diharapkan dapat menjalani aktivitas secara mandiri.

3. Obat-obatan

Jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk menghilangkan gejala kelumpuhan tergantung pada penyebabnya. Beberapa jenis obat yang bisa diberikan dokter adalah:

  • Kortikosteroid, seperti methylprednisolone
  • Antikejang, seperti phenobarbital
  • Obat pelemas otot, seperti baclofen dan eperisone
  • Antidepresan trisiklik, seperti amitriptyline dan clomipramine
  • Suntik botox
4. Menggunakan alat bantu

Banyak penderita kelumpuhan tidak bisa pulih total. Untuk memudahkan pergerakan penderita dari satu tempat ke tempat lain, penderita bisa menggunakan alat bantu, seperti tongkat atau kursi roda.

Dokter akan merekomendasikan jenis alat bantu yang sesuai dengan kondisi pasien.

Umumnya penderita kelumpuhan membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya, dan harus menjalani pola hidup sehat. Kedua hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderita.

Selanjutnya, penderita juga harus tetap banyak bergerak dan rutin melakukan olahraga sesuai anjuran dokter.

5. Operasi

Tergantung dari penyebabnya, operasi bisa dilakukan sebagai bentuk pengobatan untuk mengatasi kelumpuhan. Misalnya akibat kelumpuhan mendadak karena cedera saraf tulang belakang, dokter akan mengupayakan operasi tulang belakang untuk memperbaiki kerusakan pada bagian tersebut.

Komplikasi Kelumpuhan

Kelumpuhan bisa terjadi pada bagian tubuh mana pun tergantung dari penyebabnya. Sesuatu yang dikhawatirkan adalah bila kelumpuhan itu bersifat permanen, atau kelumpuhan yang terjadi di otot pernapasan sehingga menyebabkan penderitanya berhenti bernapas.

Selain itu, kelumpuhan bisa menyebabkan penderitanya mengalami:

  • Tekanan mental
  • Sulit bicara juga menelan
  • Ulkus dekubitus
  • Fungsi seksual menurun
  • Inkontinensia urine dan inkontinensia tinja
  • Deep vein thrombosis

Pencegahan Kelumpuhan

Kelumpuhan dapat di cegah, setelah diketahui penyebabnya. Untuk mencegah kelumpuhan akibat cedera kecelakaan, upaya yang bisa dilakukan adalah:

  • Waspada saat berkendara dan mematuhi rambu lalu lintas
  • Menggunakan sabuk pengaman, helm atau pengaman lainnya selama berkendara
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol atau obat yang dapat menyebabkan kantuk sebelum berkendara
  • Menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan standar dan mengikuti petunjuk instruktur dengan baik saat melakukan aktivitas yang berisiko tinggi, seperti panjat tebing

Sedangkan untuk mencegah kelumpuhan karena gangguan kesehatan atau penyakit seperti stroke, caranya adalah:

  • Hindari makanan tinggi garam dan kolesterol
  • Mengonsumsi banyak buah dan sayur
  • Berolahraga rutin, minimal 30 menit tiap hari
  • Berhenti merokok apabila Anda perokok aktif
  • Rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar kolesterol secara rutin