Keselamatan fisik didahulukan
Hubungi layanan darurat atau bawa ke IGD setelah tindakan menyakiti diri, paparan zat/obat, luka atau hilang kesadaran. Jangan memicu muntah atau memberi makanan/minuman kecuali diarahkan petugas. Jangan tinggalkan orang sendirian. Bila aman bagi Anda, jauhkan obat, senjata atau sarana berbahaya tanpa berkonfrontasi.
Bertanya langsung tidak menanamkan ide
Tanyakan dengan tenang apakah orang masih ingin mati, memiliki rencana atau akses. Dengarkan, akui penderitaannya dan hindari ceramah, rasa bersalah, ancaman atau janji merahasiakan risiko serius. Kalimat sederhana seperti ‘Aku akan tetap bersamamu dan kita cari bantuan’ lebih berguna daripada memperdebatkan alasannya.
Penilaian mencakup tubuh dan pikiran
Tim medis memeriksa cedera atau efek zat, lalu menilai pikiran/rencana, kejadian pemicu, gangguan mental, penggunaan zat, dukungan dan faktor pelindung. Rawat inap mungkin perlu bila risiko tinggi atau lingkungan tidak aman. Keputusan tidak boleh hanya berdasarkan skor singkat; penilaian klinis dan kolaborasi keluarga penting.
Masa setelah pulang memerlukan jembatan yang nyata
Safety plan tertulis berisi tanda pribadi, cara menenangkan diri, orang/tempat aman, kontak profesional dan langkah membatasi sarana. Janji tindak lanjut cepat, pesan/call yang peduli, terapi serta pengobatan kondisi dasar menurunkan risiko. Keluarga juga perlu dukungan dan harus memperlakukan pemulihan sebagai proses, bukan meminta janji bahwa hal ini tak akan terulang.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO — suicide fact sheet, NIMH — frequently asked questions about suicide, WHO — preventing suicide: a resource for media professionals. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.