Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Paru-paru dan Pernapasan

Pneumothorax

Udara terkumpul di rongga pleura biasa di sebut dengan Pneumothorax, yaitu ruang di antara dinding dada dan paru-paru. Udara dapat masuk karena robekan di paru-paru atau cedera di dada. Akibatnya, paru-paru mengalami kolaps, yang berarti mereka tidak dapat mengembang.

Pneumothorax dibagi menjadi dua kategori: pneumothorax trauma dan pneumothorax nontrauma. Pneumothorax trauma dapat terjadi karena cedera pada dada, sedangkan pneumothorax nontrauma dapat terjadi tanpa penyakit paru-paru sebelumnya.

Penyakit pneumothorax dapat diklasifikasikan menjadi:

Simple pneumothorax

Meskipun bukan kondisi darurat, simple pneumothorax menyebabkan sesak napas dan penurunan kadar oksigen dalam darah.

Tension pneumothorax

Tension pneumothorax dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera karena seluruh bagian paru-paru kolaps, yang mengurangi fungsi jantung dan organ tubuh lainnya.

Open pneumothorax

Pada kasus open pneumothorax, dada memiliki lubang terbuka yang memungkinkan udara luar masuk ke dalam rongga pleura. Jika lubang menjadi lebih besar, paru-paru akan mengempis, yang menyebabkan kesulitan bernapas bagi pasien.

Penyebab Pneumothorax

Sebagian besar kondisi berikut dapat menyebabkan pneumothorax secara tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui:

  • Penyakit paru-paru seperti asma, batuk rejan, kanker paru-paru, dan cystic fibrosis
  • Cedera pada dada, seperti yang disebabkan oleh luka tembak, luka tusuk, benturan, patah tulang rusuk, atau prosedur medis seperti biopsi dan perawatan pernapasan
  • Pecahnya kantong udara di luar paru-paru karena emfisema atau PPOK
  • Gangguan keseimbangan tekanan udara di dalam dada karena penggunaan ventilator (alat bantu pernapasan)
Faktor risiko pneumothorax

Pada dasarnya, siapa saja dapat mengalami pneumothorax, tetapi orang-orang dengan kondisi berikut lebih berisiko mengalaminya:

  • Kelamin pria
  • berusia antara 20 dan 40 tahun
  • Memiliki kecenderungan untuk merokok
  • Mempunyai postur tubuh yang kurus dan tinggi, mirip dengan penderita sindrom Marfan
  • Memiliki riwayat pneumothorax dalam keluarga
  • Mengalami penyakit paru-paru, khususnya PPOK
  • Pernah mengalami pneumothorax

Gejala Pneumothorax

Selama menarik napas, paru-paru tidak akan mengembang karena tekanan udara yang meningkat di pleura. Ini dapat menyebabkan gejala seperti:

  • Napas sesak
  • Nyeri di dada atau bahu yang terasa seperti tertusuk, yang menjadi lebih parah ketika menarik napas panjang atau batuk
  • Keringat yang dingin
  • Warna kulit kebiruan yang dikenal sebagai sianosis
  • Jantung berdebar-debar
  • Lemas
  • Batuk

Jika pneumothorax disebabkan oleh cedera, penderita dapat mengalami gejala di atas saat dia beristirahat, tidur, atau terjaga. Namun, jika pneumothorax disebabkan oleh cedera, penderita dapat mengalami gejala di atas dengan cepat.

Saatnya ke dokter

Apabila Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas, segera pergi ke dokter. Ini terutama penting jika gejala muncul setelah mengalami cedera dada atau jika Anda memiliki faktor risiko yang disebutkan di atas.

Perlu diingat bahwa jika Anda mengalami nyeri dada yang tidak tertahankan atau tidak memiliki gejala apa pun, Anda harus melakukan pemeriksaan tetap di IGD rumah sakit terdekat.

Diagnosis Pneumothorax

Dokter akan menanyakan riwayat medis pasien dan gejalanya, serta melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah dan mendengarkan suara di dada pasien dengan stetoskop.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan berikut untuk memastikan diagnosis:

  • Analisis gas darah arteri dilakukan untuk mengetahui jumlah oksigen dalam darah pasien
  • Periksa kondisi paru-paru pasien dengan menggunakan USG, Rontgen dada, atau scan CT

Pengobatan Pneumothorax

Dokter memilih metode pengobatan pneumothorax tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mengurangi tekanan di paru-paru sehingga paru-paru dapat mengembang dengan baik dan mencegah kambuhnya penyakit ini.

Untuk menangani pneumothorax, beberapa metode penanganan berikut dapat digunakan:

1. Pemantauan atau observasi

Dokter mungkin hanya akan memantau kondisi pasien jika hanya sebagian kecil paru-paru pasien kolaps dan tidak ada gangguan pernapasan berat.

Untuk memantau pasien, foto Rontgen dilakukan secara berkala sampai paru-parunya dapat mengembang kembali. Jika pasien mengalami kesulitan bernapas atau tingkat oksigennya menurun, dokter juga akan memberikan oksigen.

Selain itu okter akan meminta pasien untuk menghindari aktivitas berat, bepergian menggunakan pesawat terbang, atau menyelam sampai paru-paru mereka sembuh.

2. Aspirasi jarum atau pemasangan selang dada

Biasanya dokter harus mengeluarkan kumpulan udara di rongga pleura jika sebagian besar paru-paru sudah kolaps. Mereka dapat melakukan ini dengan cara-cara berikut:

Aspirasi jarum, di mana jarum dimasukkan ke dalam dada pasien

Selang dada dipasang dengan memasukkan selang melalui sayatan di sela-sela tulang dada. Ini memungkinkan udara keluar melalui selang tersebut.

Pleurodesis

Prosedur pleurodesis, yang dimulai dengan sayatan di sela tulang dada pasien untuk mencegah paru-paru kolaps.

Dokter kemudian akan memasukkan tabung khusus untuk menyalurkan bahan kimia tertentu, seperti doxycycline. Bahan kimia ini akan melekat pada dinding dada paru-paru, mencegah udara masuk ke dalam.

3. Operasi

Operasi dilakukan untuk memperbaiki bagian paru-paru yang bocor jika metode lain tidak efektif atau pneumothorax kembali muncul.

Dalam kasus yang parah, dokter akan melakukan lobektomi—pengangkatan bagian paru-paru yang kolaps—untuk menghilangkan penyakit tersebut.

Komplikasi Pneumothorax

Penderita pneumothorax berat dapat mengalami komplikasi berikut jika dibiarkan:

  • Gagal bernafas
  • Empiema, di mana nanah terkumpul di rongga pleura
  • Edema paru, di mana cairan terkumpul di kantong paru-paru
  • Terkumpulnya darah dan udara di rongga pleura disebut hemopneumothorax
  • Pneumomediastinum, atau pengumpulan udara di pusat dada
  • Hipoksemia, yaitu tingkat oksigen yang rendah dalam darah karena gagal napas
  • Pneumoperikardium, yang berarti udara terkumpul di antara lapisan jantung
  • Emfisema subkutis, di mana udara menumpuk di jaringan kulit
  • Jantung berhenti

Pencegahan Pneumothorax

Tidak ada cara yang jelas untuk menghindari pneumothorax, tetapi jika Anda pernah mengalaminya, Anda dapat mencegahnya dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Berhenti merokok
  • Batasi aktivitas yang merusak paru-paru, seperti menyelam
  • Jalani perawatan medis dan pemeriksaan rutin, terutama jika Anda memiliki penyakit paru-paru