Siapa yang berisiko
Risiko meningkat saat kesadaran menurun karena stroke, kejang, anestesi, alkohol atau sedatif; pada demensia, Parkinson, penyakit saraf/kerongkongan, muntah, kesehatan gigi buruk dan penggunaan selang tertentu. Batuk saat makan, suara basah, makanan tertinggal atau infeksi paru berulang mengarah ke gangguan menelan, tetapi silent aspiration dapat terjadi tanpa batuk.
Pneumonitis berbeda dari pneumonia
Aspirasi asam lambung dapat memicu sesak, mengi dan kekurangan oksigen dalam hitungan menit hingga jam—ini cedera kimia dan terapinya terutama suportif. Pneumonia bakteri dapat muncul lebih bertahap dengan demam, batuk, dahak, nyeri dada atau kebingungan pada lansia. Rontgen membantu menemukan infiltrat, tetapi perjalanan klinis yang membedakan; CT dipakai pada kasus rumit atau abses.
Terapi sesuai masalah
Sumbatan jalan napas memerlukan pertolongan tersedak segera. Pneumonitis dapat membutuhkan oksigen dan ventilasi; antibiotik dimulai bila perjalanan menunjukkan infeksi bakteri, bukan sekadar karena aspirasi disaksikan. Pneumonia aspirasi diobati dengan antibiotik yang dipilih menurut tempat kejadian, keparahan dan risiko kuman resisten. Abses atau empyema kadang perlu drainase.
Cegah aspirasi berulang
Dokter atau terapis wicara-menelan dapat melakukan evaluasi dan mengajarkan posisi, kecepatan serta tekstur yang sesuai. Makan saat sadar dan tegak, porsi kecil serta oral hygiene yang baik membantu. Pengental cairan tidak cocok untuk semua orang dan dapat mengurangi asupan; keputusan harus individual. Selang makan tidak menghapus risiko karena air liur dan reflux masih dapat teraspirasi.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada MSD Manual — aspiration pneumonitis and pneumonia. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.