Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Wanita

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar rahim. Bergantung dengan lokasi menempelnya sel telur, gejala kehamilan ektopik bisa menyamai gejala seperti penyakit usus buntu. Jika tidak segera ditangani, kehamilan ektopik akan berakibat fatal bagi ibu.

Kehamilan bermula dari sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma. Dalam proses kehamilan normal, sel telur yang sudah dibuahi akan tinggal di saluran indung telur (tuba falopi) sebelum berlanjut ke rahim. Setelah itu, sel telur akan menempel di rahim dan terus berkembang sampai masa persalinan tiba.

Sementara untuk kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan, sel telur yang sudah dibuahi tidak menempel di rahim.

Kehamilan diluar rahim sering terjadi di tuba falopi. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi di indung telur, leher rahim (serviks) atau rongga perut.

Penyebab Kehamilan Ektopik

Biasanya kehamilan ektopik terjadi karena ada kerusakan pada tuba falopi. Kerusakan tersebut menyebabkan tuba falopi menyempit atau tersumbat sehingga pergerakan sel telur ke rahim terhambat.

Beberapa keadaan yang bisa menimbulkan kerusakan pada tuba falopi adalah:

  • Endometriosis
  • Penyakit radang panggul
  • Masalah keseimbangan hormon
  • Kelainan bawaan lahir (kongenital) pada tuba falopi
  • Terbentuknya jaringan parut (scar) akibat tindakan medis pada kandungan

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik bisa dialami oleh setiap wanita yang aktif secara seksual. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang bsa meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik, yaitu:

  • Hamil di atas usia 35 tahun
  • Mengidap penyakit menular seksual, seperti gonore dan chlamydia
  • Pernah mengalami hamil di luar kandungan sebelumnya
  • Pernah menjalani operasi, seperti aborsi, sterilisasi pada wanita, dan operasi di area panggul atau perut
  • Program bayi tabung
  • Memakai alat kontrasepsi spiral (IUD)
  • Merokok

Gejala Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik cenderung tidak memperlihatkan gejala pada tahap awal. Tanda awal kehamilan ektopik sama dengan kehamilan biasa, seperti mual, payudara mengeras, serta menstruasi terhenti.

Namun pada tahap berikutnya, penderita kehamilan ektopik biasanya mengalami sakit di perut dan perdarahan dari vagina, yang sering dianggap sebagai haid namun hamil. Gejala-gejala di atas bisa makin terasa parah seiring waktu. Kadang-kadang, gejala sakit perut akibat kehamilan ektopik juga hampir mirip dengan gejala usus buntu.

Saatnya ke dokter

Segera lakukan pemeriksaan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala di atas, khususnya jika Anda mengetahui sedang hamil namun masih menggunakan alat kontrasepsi. Anda juga disarankan untuk segera memeriksakan diri jika mengalami sejumlah keluhan, seperti:

  • Nyeri berat di bagian panggul, bahu, atau leher
  • Nyeri pada salah satu sisi bagian bawah perut dan memburuk seiring waktu
  • Perdarahan ringan sampai berat melalui vagina, dengan warna darah yang bisa lebih gelap dari darah menstruasi
  • Pusing atau lemas

Diagnosis Kehamilan Ektopik

Dalam melakukan diagnosis, dokter terlebih dahulu akan menanyakan seputar haid, terutama terkait hari haid terakhir pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan, seperti:

  • Tes kehamilan lewat urine menggunakan test pack
  • Uji kehamilan lewat darah, untuk mengukur kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG)
  • USG transvaginal dan perut, guna menetapkan lokasi kehamilan ektopik

Pengobatan Kehamilan Ektopik

Harus dipahami, bahwa janin pada kehamilan ektopik tidak bisa berkembang dengan normal. Keadaan ini dapat mengancam jiwa ibu hamil dan harus secepatnya ditangani.

Tergantung dari pertumbuhan kehamilan dan lokasi menempelnya sel telur, dokter akan menangani kehamilan ektopik menggunakan obat-obatan atau operasi. Berikut adalah penjelasannya:

Obat suntik

Suntik methotrexate bisa diberikan untuk mengakhiri kehamilan ektopik tahap awal. Setelah memberikan suntikan, dokter akan mengamati kadar hormon hCG dalam darah pasien tiap 2–3 hari hingga kadarnya menurun. Menurunnya kadar hCG menunjukkan bahwa kehamilan sudah tidak lagi berkembang.

Operasi laparoskopi

Kehamilan ektopik dapat merusak tuba falopi serta jaringan sekitarnya. Apabila salah satu atau kedua tuba falopi rusak, maka dokter akan melakukan operasi laparaskopi untuk mengangkat tupa falopi yang rusak.

Akan tetapi jika memungkinkan, bagian tuba falopi tersebut cukup diperbaiki saja, tanpa harus diangkat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesempatan hamil di kemudian hari.

Operasi laparotomi

Bagi pasien kehamilan ektopik yang mengalami perdarahan hebat, dokter akan melakukan tindakan darurat yaitu operasi laparotomi. Operasi tersebut dilaksanakan dengan membuat sayatan besar di perut untuk jalan mengangkat janin dan memperbaiki tuba falopi yang pecah.

Setelah pengobatan, dokter akan menganjurkan pasien agar memberi jeda waktu 3 bulan sebelum merencanakan kehamilan kembali. Tujuannya adalah supaya rahim pulih total dan meperkecil risiko kehamilan ektopik terjadi lagi.

Pemulihan Mental Pada Orang Tua Pascakehamilan Ektopik

Kendatipun singkat, kehamilan Dapat membangun ikatan batin yang kuat antara orang tua dan bakal anaknya. Oleh karena itu, kehamilan yang gagal bisa menyebabkan rasa sedih yang teramat dalam bagi calon ibu. Kondisi ini dapat menimbulkan beban mental untuk waktu yang lama.

Maka dari itu, orang tua yang kehilangan bayinya karena kehamilan ektopik bisa saling berbagi cerita kepada saudara, teman, atau orang dengan pengalaman yang sama. Apabila cara tersebut tidak membantu, orang tua dapat bertukar pikiran dengan psikolog atau psikiater.

Komplikasi Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik dapat mengakibatkan pecahnya tuba falopi. Hal ini berisiko memunculkan komplikasi berupa perdarahan hebat, syok, bahkan kematian.

Pencegahan Kehamilan Ektopik

Tidak ada cara yang baku untuk mencegah kehamilan ektopik. Meskipun begitu, ada upaya yang dapat dijalankan untuk menurunkan risiko terjadinya hamil di luar kandungan pada kehamilan berikutnya, seperti:

  • Tidak merokok
  • Menjaga berat badan ideal
  • Menjauhi perbuatan yang meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan secara rutin