Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Wanita

Inkompetensi Serviks; Insufisiensi Serviks

Inkompetensi serviks merupakan kondisi pada saat leher rahim (serviks) membuka lebih awal pada kehamilan. Kondisi tersebut bisa menyebabkan penderitanya mengalami persalinan dini (prematur) atau keguguran, khusunya di trimester kedua kehamilan.

Sebelum hamil, serviks atau leher rahim umumnya padat, kaku, dan tertutup. Sejalan dengan membesarnya kehamilan dan menuju persiapan kelahiran, serviks berangsur-angsur akan melunak dan membuka. Tetapi, pada ibu hamil yang mengalami inkompetensi serviks, serviks menjadi lunak atau membuka terlalu awal.

Penyebab Inkompetensi Serviks

Belum ditemukan dengan pasti apa yang menyebabkan inkompetensi serviks. Namun, risiko mengalami inkompetensi serviks lebih tinggi pada ibu hamil, adalah kondisi seperti berikut:

  • Sebelumnya pernah mengalami persalinan prematur secara tiba-tiba
  • Pernah melakukan biopsi atau operasi pada leher rahim
  • Telah mengalami keguguran pada trimester kedua
  • Pernah menderita cedera pada leher rahim akibat melahirkan atau kuret
  • Pernah menerima hormon sintetis diethylstilbestrol (DES) pra kehamilan
  • Mempunyai kelainan pada rahim atau leher rahim
  • Mempunyai kelainan lahir yang memengaruhi jaringan ikat tubuh, seperti sindrom Ehlers-Danlos

Gejala Inkompetensi Serviks

Inkompetensi serviks tidak selalu memperlihatkan gejala, terutama di awal masa kehamilan. Biasanya, gejala baru terasa di usia kehamilan 14–20 minggu.

Gejala inkompetensi serviks, antara lain:

  • Terasa tekanan pada panggul
  • Punggung sakit secara tiba-tiba
  • Perut kram seperti sedang menstruasi
  • Cairan vagina keluar berwarna merah muda atau kecokelatan
  • Vagina mengeluarkan cairan lebih banyak atau cair
  • Perdarahan ringan keluar dari vagina (spotting)
Saatnya ke dokter

Jika mengalami gejala seperti di atas, secepatnya lakukan pemeriksaan ke dokter. Inkompetensi serviks harus segera ditangani agar ibu hamil terhindar dari keguguran.

Periksaan kehamilan dengan rutin ke dokter kandungan, agar kesehatan ibu dan janin tetap terpantau. Jalani jadwal pemeriksaan kandungan sesuai jadwal berikut ini:

  • Jadwal 1 bulan sekali, dari minggu ke-4 sampai minggu ke-28
  • Jadwal 2 minggu sekali, dari minggu ke-28 hingga minggu ke-36
  • Jadwal 1 minggu sekali, sejak minggu ke-36 sampai minggu ke-40

Diagnosis Inkompetensi Serviks

Untuk melakukan diagnosis inkompetensi servikss, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan serta riwayat penyakit pasien. Dokter juga akan menguji apakah pasien mempunyai faktor yang membuatnya berisiko mengalami inkompetensi serviks.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan, seperti berikut:

  • USG transvaginal, gunanya untuk mengukur kedalaman leher rahim dan melihat apakah ada selaput ketuban yang menonjol ke luar dari leher rahim
  • Pengamatan dalam panggul, untuk meraba adakah kantung ketuban menonjol ke leher rahim atau vagina
  • Pemeriksaan sampel cairan ketuban (amniocentesis), guna menyingkirkan kemungkinan infeksi pada kantung ketuban dan cairan ketuban

Pengobatan Inkompetensi Serviks

Tindakan penanganan inkompetensi serviks bukan hanya dilakukan pada pasien yang memang sudah mengalaminya, namun juga bisa dilakukan pada pasien yang baru atau belum mengalami inkompetensi serviks namun berisiko besar untuk mengalaminya.

Penanganan inkompetensi serviks

Apabila pada pemeriksaan diketahui bahwa serviks sudah membuka, tindakan bisa dilakukan dengan menguatkan serviks dengan bantuan jahitan atau penopang. Berikut adalah penjelasannya:

  • Penjahitan leher rahim (cervical cerclage)
    Tindakan penjahitan leher rahim hanya akan dilakukan bila usia kehamilan masih dibawah 24 minggu. Umumnya metode ini dilakukan bila pasien mempunyai riwayat melahirkan prematur juga hasil pemeriksaan USG pada kehamilan memperlihatkan adanya inkompetensi serviks. Jahitan pada leher rahim akan dibuka menjelang persalinan.
  • Pemasangan pessary
    Pessary adalah alat yang berguna menopang rahim agar tetap berada di posisinya. Pessary juga bisa mengurangi tekanan pada leher rahim.

Penanganan faktor risiko inkompetensi serviks

Penanganan yang bisa dilakukan untuk menghindari keguguran atau kelahiran prematur pada pasien yang berisiko mengalami inkompetensi serviks, adalah:

  • Pemberian suplemen progesteron suntik
    Umumnya suplemen progesteron (hydroxyprogesterone caproate) diberikan pada pasien yang mempunyai riwayat melahirkan prematur. Suntikan suplemen tersebut dilakukan selama trimester kedua dan ketiga.
  • Pemantauan dengan USG
    Pengamatan menggunakan USG dilakukan pada pasien yang pernah melahirkan prematur atau mempunyai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko inkompetensi serviks. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu, dari usia kehamilan 16 minggu hingga 24 minggu.

Komplikasi Inkompetensi Serviks

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, inkompetensi serviks bisa mengakibatkan persalinan prematur dan keguguran. Walaupun jarang, jahitan untuk menangani inkompetensi serviks juga bisa menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Perdarahan
  • Rahim robek (ruptur uteri)
  • Robek pada leher rahim
  • Infeksi

Pencegahan Inkompetensi Serviks

Inkompetensi serviks tidak bisa dicegah. Akan tetapi, pemindaian dengan USG atau MRI dapat dilakukan sebelum kehamilan untuk mengetahui kelainan pada rahim, yang menjadi salah satu faktor risiko inkompetensi serviks. Setelah itu, apabila dokter telah mengatakan Bumil mengalami kondisi ini, jangan melakukan hubungan seksual, untuk menghindari terjadinya komplikasi.

Pada ibu hamil, risiko terjadinya inkompetensi serviks bisa di minimalisir dengan melakukan beberapa upaya, seperti berikut:

  • Periksakan kehamilan secara berkala, agar dokter bisa mengetahui perkembangan kondisi ibu hamil dan janin
  • Mengonsumsi asupan makanan sehat dengan gizi seimbang serta memastikan kecukupan gizi yang penting bagi ibu hamil, seperti asam folat dan zat besi
  • Hindari terkena zat kimia berbahaya, seperti rokok dan alkohol, dan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan
  • Mengontrol kenaikan berat badan ketika hamil