Empat kelompok gejala
Intrusion mencakup mimpi buruk, flashback dan ingatan tak diinginkan; avoidance berarti menjauhi pikiran atau pengingat; perubahan mood/kognisi mencakup rasa bersalah, mati rasa, keyakinan negatif dan sulit mengingat; arousal mencakup waspada, mudah kaget/marah, sulit tidur dan konsentrasi. Gejala lebih dari satu bulan diperlukan untuk PTSD; sebelumnya dapat disebut acute stress disorder sesuai kriteria.
Diagnosis menilai seluruh konteks
Klinisi menilai jenis paparan, waktu, dissociation, fungsi, keselamatan, depression, panic, substance use, chronic pain, sleep dan traumatic brain injury. Grief, moral injury dan adjustment disorder dapat menyakitkan tanpa memenuhi PTSD. Tidak semua bullying, putus hubungan atau stres pekerjaan memenuhi definisi trauma DSM, tetapi tetap layak mendapat bantuan berdasarkan dampaknya.
Terapi terfokus trauma efektif
Cognitive processing therapy, prolonged exposure, trauma-focused CBT, EMDR dan written exposure memiliki bukti kuat; dilakukan bertahap dengan consent, stabilisasi dan terapis terlatih—bukan memaksa menceritakan detail tanpa persiapan. SSRI tertentu dan venlafaxine membantu sebagian orang; prazosin dapat dipertimbangkan untuk nightmares menurut konteks. Benzodiazepine tidak dianjurkan sebagai terapi PTSD rutin karena risiko dan dapat mengganggu pemulihan.
Pemulihan bukan melupakan
Rutinitas tidur/makan, aktivitas, grounding, hubungan aman dan mengurangi alkohol/zat mendukung terapi. Keluarga dapat belajar pemicu, bertanya sebelum menyentuh, memberi pilihan dan tidak menuntut “move on”. Psychological debriefing satu sesi yang memaksa semua korban segera menceritakan trauma tidak mencegah PTSD. Recovery berarti gejala dan kendali hidup membaik, meski ingatan tetap ada.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIMH — PTSD, NIMH — PTSD guide, Kementerian Kesehatan RI — Healing119.id. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.