Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan mental, Penyakit Mental

Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming merupakan kondisi saat seseorang terlalu sering melamun atau terbawa kedalam imajinasinya. Keadaan ini bisa mengganggu produktivitas serta hubungan sosial dengan orang lain.

Melamun adalah sesuatu yang lumrah, semua orang pasti pernah melakukannya. Akan tetapi bila hanya sesekali. Namun, orang dengan kondisi maladaptive daydreaming dapat menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk melamun. Lamunannya pun memiliki alur cerita yang detail dan kompleks.

Beda dengan seperti melamun biasa, maladaptive daydreaming sulit untuk dihentikan. Bahkan ketika diri sedang beraktifitas, akan muncul keinginan kuat untuk kembali dalam lamunan. Penderita maladaptive daydreaming juga dapat merasakan kesulitan-kesulitan lain karena kebiasaan melamunnya.

Penyebab Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming belum diketahui penyebabnya secara pasti. Akan tetapi, keadaan tersebut diduga berawal dari kebiasaan melamun yang dilakukan sebagai coping mechanism atau trik untuk menghadapi stres, cemas, atau trauma masa lalu.

Selain sebagai coping mechanism, seseorang biasanya bisa melamun berlebihan disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  • Merasa sangat penting sehingga sulit untuk menghentikannya, misalnya bisa membantu meringankan stres atau mengisi waktu luang
  • Merasa harus melarikan diri dari kondisi yang tidak tenang atau traumatis di dunia nyata, seperti perundungan (bullying)
  • Mempunyai kecenderungan untuk terbawa dalam pikiran sendiri hingga terputus dari dunia nyata
  • Memanfaatkan lamunan untuk mendapatkan solusi dari masalah yang sulit teratasi

Faktor risiko maladaptive daydreaming

Walau dapat terjadi pada siapa saja, maladaptive daydreaming lebih sering terjadi pada seseorang yang memiliki gangguan mental, seperti:

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Masalah disosiatif, yaitu kondisi saat seseorang merasakan ketidaksesuaian antara pikiran, ingatan, perilaku, serta identitasnya
  • Masalah kecemasan
  • Obsessive-compulsive disorder (OCD)
  • Depresi

Gejala Maladaptive Daydreaming

Penderita maladaptive daydreaming mampu menciptakan lamunan dengan karakteristik, seperti berikut:

  • Muncul sangat jelas dan detail
  • Mengalami seperti film atau cerita rumit yang memiliki tokoh, alur cerita, suasana, atau situasi tertentu
  • Dapat berlangsung hanya beberapa menit hingga berjam-jam
  • Dilakukan atau dimulai dengan sengaja oleh penderitanya

Umumnya, penderita maladaptive daydreaming akan mengawali lamunannya dengan pemicu tertentu, seperti :

  • Gambar
  • Tontonan, film termasuk pornografi
  • Game, terutama roleplay game
  • Suara atau aroma tertentu

Selain perilaku lamunan itu sendiri, penderita maladaptive daydreaming juga bisa ditemukan dengan:

  • Reaksi nyata ketika melamun, baik dalam perubahan mimik wajah, gerak tubuh, ataupun pembicaraan
  • Suasana hati yang tenang saat melamun
  • Dorongan untuk segera melamun kembali ketika sedang tidak melamun
  • Sebal dan gampang marah ketika tidak dapat melamun atau dipaksa melakukan hal lain
  • Perasaan merepotkan atau malu karena tidak dapat mengontrol lamunannya
  • Kesulitan memutus kebiasaan melamun walau sudah merasa ada hal yang salah tentang perilaku tersebut
  • Kesulitan menguasai diri dan fokus ketika mengerjakan hal lain di luar melamun
  • Sulit untuk tidur ketika malam hari
  • Tidak mau bersosialisasi dengan orang lain akibat terlalu asik dengan lamunannya
Saatnya ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter bila merasa terlalu sering menghabiskan waktu untuk melamun, terutama bila sudah mengalami gejala-gejala seperti di atas atau mendengar keluhan dari orang lain terkait kebiasaan tersebut.

Maladaptive daydreaming dapat terjadi bersamaan dengan gangguan mental lain, cepat cari pertolongan medis bila Anda atau orang di sekitar Anda mempunyai keinginan untuk mencelakai diri atau orang lain.

Diagnosis Maladaptive Daydreaming

Untuk mendiagnosis maladaptive daydreaming, dokter akan menanyakan pasien terkait gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien. Dokter akan menanyakan beberapa hal, seperti:

  • Penyebab pasien melamun
  • Tanda-tanda fisik yang muncul ketika pasien melamun
  • Suasana hati pasien ketika melamun
  • Perasaan atau perlakuan pasien saat lamunan terganggu
  • Dampak yang dirasakan pasien bila pasien tidak bisa melamun
  • Akibat dari kebiasaan melamun dalam kehidupan sehari-hari pasien

Seperti yang sudah diterangkan di atas, maladaptive daydreaming selalu terjadi bersamaan dengan gangguan mental lain. Maka dari itu, dokter juga akan memeriksa gejala atau tanda gangguan mental lain yang mungkin terjadi pada pasien.

Selain tanya jawab, dokter bisa melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh guna memastikan tidak ada gangguan kesehatan lain yang menyebabkan keluhan maladaptive daydreaming.

Pengobatan Maladaptive Daydreaming

Belum ada kriteria pengobatan khusus untuk menangani maladaptive daydreaming. Namun, dokter bisa menyarankan beberapa metode ini untuk mengendalikan gejala maladaptive daydreaming antara lain:

  • Membenahi jadwal tidur setiap harinya agar mendapatkan tidur yang cukup
  • Menemukan dan menghindari faktor yang bisa memicu keinginan melamun
  • Mencermati setiap gejala yang dirasakan
  • Menuliskan setiap kali lamunan datang
  • Mengikuti psikoterapi, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), untuk menemukan penyebab dan cara untuk mengendalikan kebiasaan tersebut
  • Mengonsumsi obat untuk gangguan kecemasan atau OCD, seperti fluvoxamine, untuk membantu mengurangi dorongan yang kuat untuk melamun

Komplikasi Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming bisa menghabiskan waktu penderitanya hanya untuk melamun. Dampaknya, penderita bisa mengalami beberapa komplikasi, seperti berikut:

  • Maslah dalam hubungan dan interaksi sosial dengan orang lain
  • Menurunnya kemampuan atau kegesitan dalam bekerja
  • Penurunan prestasi dalam belajar
  • Gangguan tidur

Kondisi Maladaptive daydreaming juga bisa mengakibatkan stres, sebab penderitanya merasa telah banayk kehilangan waktu serta kesempatan di kehidupan nyata. Bila tidak dicegah, hal ini bisa menyebabkan depresi.

Pencegahan Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming sulit untuk dicehgah sebab penyebabnya belum diketahui. Akan tetapi, diagnosis dan pengobatan dini bisa menekan risiko terjadinya perburukan gejala atau komplikasi.

Penderita maladaptive daydreaming juga disarankan untuk selalu menjaga erat hubungan sosial dengan orang sekitar. Penderita juga dianjurkan untuk menceritakan keadaannya kepada orang lain, seperti keluarga atau teman dekat.